sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kemasan pengganti plastik: Peluang bisnis baru yang jaga lingkungan

Kemasan pengganti plastik tercipta dari bahan yang mudah terurai, aman, bahkan bisa dimakan.

Qonita Azzahra
Qonita Azzahra Senin, 02 Mei 2022 06:45 WIB
Kemasan pengganti plastik: Peluang bisnis baru yang jaga lingkungan

Botol plastik dari berbagai merek dengan tutup berwarna-warni disusun rapi membentuk sebuah bangunan kerucut. Ada pula botol-botol yang disusun menjadi dinding sebuah ruangan. Karya dari sampah botol plastik ini adalah instalasi museum yang dibangun Ecological Observation and Wetlands Conservation di Wringinanom, Gresik September lalu.

Karya ini menghabiskan lebih dari 10.000 sampah plastik. Mulai dari botol, kantong plastik, kemasan saset, hingga sedotan plastik. 

“Ini lah sampah-sampah yang mencemari Sungai Barantas dan Kali Surabaya. Sampah-sampah plastik ini adalah jenis sampah residu, yang tidak bisa didaur ulang,” kata pendiri sekaligus Direktur Ecoton Prigi Arisandi, September lalu.

Sampah-sampah itu didapatkan dari Operasi Pohon Plastik yang digelar oleh tim Ekspedisi Sungai Nusantara pada 17-27 Agustus 2021. Tim menemukan plastik-plastik itu terlilit pada 208 pohon. 

Jumlah sampah yang ditemukan itu menjadi bukti bahwa perairan di Jawa Timur, sudah banyak terkontaminasi sampah plastik. Saking banyaknya, Prigi bahkan yakin jika kandungan mikroplastik di sungai lebih banyak ketimbang jumlah plankton yang ada. Alhasil, ikan-ikan yang ada di sungai dan laut justru banyak mengonsumsi mikroplastik. 

“Padahal nantinya ikan-ikan itu juga akan dimakan manusia. Jadi, mikroplastik yang ada di dalam ikan, nantinya akan berakhir di tubuh manusia,” imbuh dia.

Karenanya, melalui pembangunan museum yang terdiri dari empat instalasi ini, Prigi berharap, pihaknya dapat mengedukasi masyarakat terkait bahaya dari menggunakan plastik sekali pakai. Apalagi, jika mereka membuang sampah itu sembarangan. 

Sponsored

Sampah belanja online melimpah

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat sepanjang 2020 ada sekitar 521.275,06 ton sampah plastik di laut Indonesia. Jumlah tersebut diklaim menurun, karena pada tahun sebelumnya, jumlah sampah di laut lepas diperkirakan ada sebanyak 566.074,94 ton. 

Bahkan, menurut Plastic Bank Indonesia, setiap tahun diperkirakan masih ada sekitar 4,9 juta ton sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik dan 83% limbah tersebut bocor ke laut. Adapun jumlah total sampah plastik yang dihasilkan oleh masyarakat Indonesia ialah sekitar 7,8 juta ton per tahun.

Country Manager Plastic Bank Indonesia Paola Cortase bilang, jumlah ini diperkirakan masih dapat terus bertambah, seiring dengan terus tumbuhnya bisnis belanja daring nasional. Ini sesuai dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Pusat Penelitian Oseanografi dan Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Mei 2020 lalu. 

Di mana perilaku belanja online warga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) mengalami kenaikan, dari yang sebelumnya hanya 1 hingga 5 kali dalam satu bulan, menjadi 1 hingga 10 kali selama kebijakan di rumah saja. 

Padahal, 96% paket dibungkus dengan plastik yang tebal dan ditambah dengan bubble wrap. Selotip, bungkus plastik, dan bubble wrap merupakan pembungkus berbahan plastik yang paling sering ditemukan. Bahkan di kawasan Jabodetabek, jumlah sampah plastik dari bungkus paket mengungguli jumlah sampah plastik dari kemasan yang dibeli.

Data Statistik Sampah Plastik Indonesia

Tahun

Jumlah sampah (Ton)

Porsi sampah (%)

2021

24,83 juta

16

2020

17,39 juta

17,24

2019

16,13 juta

15,93

2018

26,0 juta

26

Sumber: Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN)

“Masih banyak penjual yang belum aware dengan material kemasan plastik, hingga bagaimana pengelolaan sampah plastiknya. Sedangkan pembeli, tidak ada pilihan lain, selain menggunakan apa yang disediakan,” ujar Paola kepada Alinea.id, Kamis (7/4) lalu.

Pemerintah sendiri, sejatinya telah berkomitmen untuk menurunkan jumlah sampah plastik, melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. Dalam beleid ini, diatur tentang pengurangan sampah oleh produsen di sektor manufaktur, jasa makanan dan minuman serta dari retail.

Beberapa material yang ditargetkan dalam peta jalan itu adalah plastik, aluminium, kertas dan kaca. Caranya dengan menggunakan produk atau kemasan produk yang mudah diurai dan dapat didaur ulang. Selain itu terdapat pula aturan yang mendorong penarikan kembali kemasan oleh produsen yang dapat dilakukan bekerja sama dengan bank sampah atau pusat daur ulang.

Kontaminasi sampah plastik di perairan. Foto Pixabay.com.

“Pertama, kita wajibkan semua produsen untuk membatasi timbulan sampah. Kedua, mendaur ulang sampah melalui penarikan kembali dan memanfaatkan kembali sampah,” tegas Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati, saat dihubungi Alinea.id, Rabu (27/4).

Langkah ini, dilakukannya untuk mencapai target pengurangan sampah plastik minimal 30% pada 2030. 

Kemasan ramah lingkungan

Selain mendaur ulang dan menggunakan kembali sampah plastik, inovasi seperti penggunaan plastik ramah lingkungan yang mudah terurai alias biodegradable hingga penggunaan kemasan berbahan alami menjadi cara lain untuk mengurangi timbulan sampah plastik. 

Di saat yang sama, pemanfaatan kemasan ramah lingkungan juga dapat menjadi inovasi bisnis anyar, yang masih sangat mungkin untuk lebih dikembangkan lagi. 

“Karena sekarang permintaan untuk tas belanja guna ulang atau kemasan ramah lingkungan lainnya mulai banyak dicari oleh toto-toko retail, pemilik bisnis e-commerce, atau oleh konsumen biasa,” ujar Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) Tiza Marfira, kepada Alinea.id, Jumat (22/4).

Tidak heran, jika kemudian semakin banyak produsen-produsen kantong pengganti plastik bermunculan. Beberapa di antaranya seperti, produsen kantong belanja dari bahan singkong, produsen bungkus makanan dari lilin lebah dan kapas, produsen kemasan makanan yang bisa dimakan, hingga kemasan yang bisa ditanam.

Adalah Kevin Kumala, sosok yang mendirikan Evani Eco, perusahaan rintisan yang memproduksi kemasan makanan dan minuman dari bahan alami. Sebut saja singkong, rambut jagung, kedelai, biji bunga matahari, dan ampas tebu.

Sebelum dia berangkat untuk melanjutkan studinya di Amerika pada 1997, pantai di Bali, tempat tinggalnya masih sangat bersih, lengkap dengan macam-macam biota lautnya. Namun, ketika Kevin kembali ke Indonesia pada 2009, dia terkaget-kaget karena sudah banyak sampah plastik yang bertebaran di tepi pantai, bahkan mengapung di atas air. 

“Dari rasa frustasi itu, muncul sebuah ide untuk membuat bioplastik. Tujuannya untuk menggantikan plastik yang selama ini terbuat dari polystyrene,” jelas dia, kepada Alinea.id, Jumat (29/4).

Lulusan University of Southern California itu menghabiskan waktunya di dalam lab, meramu bahan-bahan yang cocok digunakan untuk menciptakan kemasan ramah lingkungan pengganti plastik. Modal yang dikeluarkannya untuk membuat kemasan ramah lingkungan ini pun tidak sedikit.

Pada 2013, Kevin akhirnya berhasil membuat cassava bag dan kemasan lainnya. Adapun produk bio-degradable yang dihasilkan Evani Eco antara lain, kantong belanja dari singkong atau cassava bag, jas hujan ramah lingkungan (eco poncho) dari kedelai dan biji bunga matahari, gelas (eco cup), sedotan, mangkuk kertas (eco paper bowl), alat makan (eco cutlery) dari rambut jagung, serta kotak tempat makan (eco bagasse box) dari ampas tebu.

Selain mudah terurai, Kevin juga memastikan bahwa bahan-bahan baku yang digunakannya berasal dari produk berkelanjutan dan tidak mengambil dari pertanian rakyat. 

Setelah lebih dari delapan tahun, produk-produk biodegradable itu kini sudah banyak digunakan oleh produsen retail, rumah makan, hingga hotel di Indonesia. Selain itu, Avani Eco juga menerima banyak pesanan yang dari luar negeri. Bahkan, pada 2016 lalu, Kevin mengklaim produk Evani Eco sudah dapat mengurangi penggunaan plastik hingga 6.000 ton. 

Selain itu, ada pula Telobag. Pengembang Telobag Mariani Chandra mengatakan, pihaknya mulai mengembangkan kantong dari ketela ini sejak 2016. Setelah menemukan formula yang tepat, dia lantas memasarkan Telobag secara luas pada Agustus 2017. Tujuannya, mengedukasi masyarakat untuk mulai menggunakan kantong nabati yang ramah lingkungan, sebagai pengganti kantong plastik sekali pakai. 

Seharusnya, kata dia, sampah-sampah dipilah dulu sesuai jenisnya, yakni organik dan anorganik sebelum dibuang. Sampah organik juga lebih baik dibuang ke dalam tanah, seperti lubang biopori, atau diolah menggunakan komposter. 

Tapi tidak semua orang mempunyai sumur biopori atau komposter, jadi pilihannya bisa menggunakan kantong organik. Dus, kantong beserta sampah organik tersebut, nantinya dapat terurai dan dijadikan kompos.

Tidak seperti kantong plastik yang sulit terurai meskipun dalam jangka waktu lama, Telobag atau kantong-kantong organik lainnya hanya membutuhkan waktu paling lama 2-6 bulan untuk bisa terurai dan menyatu kembali dengan tanah. Belum lagi, dengan bahan-bahan nabati yang digunakan, kantong dari ketela juga aman saat tertelan oleh biota laut maupun hewan-hewan darat. 

“Jadi, ketika kita makan ikan atau unggas yang sebelumnya enggak sengaja makan kantong-kantong dari singkong ini, kita juga akan tetap aman,” imbuh Founder PT Mogallana Plastic ini.

Selain sebagai kantong sampah, Telobag juga bisa digunakan sebagai kantong laundry, kantong belanja, apron atau celemek sekali pakai, hingga kantong pembuang kotoran hewan. Varian Telobag yang ditawarkan Mariani pun beragam, mulai dari bentuk singlet (T-Shirt bag), oval, dan kantong serut, di mana tali serutnya juga terbuat dari serat singkong dan bisa menahan beban hingga 2 kilogram.

Ketiga, ada jenama Evoware yang lahir tahun 2015. Bisnis ini didirikan Founder Eco & Co. David Christian pasca menamatkan studi di Canadian Collage. Kala itu, pria 31 tahun ini merasa prihatin melihat banyaknya volume sampah, utamanya plastik yang ada di Jakarta. 

“Percuma, kalau cuma dengan berbicara saja, saya kemudian cari cara lain dan tercetuslah ide untuk membuat gelas yang bisa dimakan ini,” kisahnya, kepada Alinea.id, Senin (25/4).

Karena tidak punya latar belakang ilmu gizi, David sempat kesulitan merealisasikan idenya. Ia sempat berpikir untuk membuat gelas dari agar-agar, namun agar-agar biasa dinilai kurang enak dan cepat meleleh jadi tidak kuat digunakan sebagai gelas. 

David juga menimang untuk menggunakan gelatin, namun gelatin terbuat dari tulang hewan di mana kalangan vegan tidak akan bisa memakannya. Belum lagi, gelatin juga dirasa tidak sustain lantaran terbuat dari tulang hewan. Hingga pada akhirnya David menemukan bahan yang tepat yakni rumput laut.

Pada 1 April 2016, David memperkenalkan gelas ciptaannya yang bernama Ello Jello di sebuah bazar makanan di Jakarta. David mampu menjual sebanyak 400 gelas pada momen itu.

Setelah peluncurannya, David mengaku mampu memproduksi Ello Jello sekitar 1.000 buah. Kini, pesanan Ello Jello mulai berdatangan dari sejumlah daerah, seperti Bandung, Surabaya, dan bahkan Papua. 

“Sekarang sudah hampir di seluruh Indonesia dan banyak juga pesanan yang dari luar negeri,” imbuh David.

Selanjutnya, ada Boenkus By Beeyond Co yang digagas Puti Shania Sastrosatomo. Ia bercerita, perjalanan dia dan delapan kawannya membuat Boenkus dimulai sejak September 2018. Saat itu, mereka mendapatkan tugas mata kuliah Integrated Business Experience, di Sekolah Manajemen Bisnis Institut Teknologi Bandung (ITB). 

Kesembilan mahasiswa ini lantas memutuskan untuk membuat bungkusan makanan dari lilin lebah. Pertimbangannya, potensi lilin lebah alias beeswax masih sangat besar di Indonesia. Setelah mengalami berbagai trial dan error, Boenkus pun tercipta. 

Pembungkus makanan berbahan lilin lebah dapat dipakai berulang kali hingga satu tahun lamanya. Selain itu, kantong kemasan ini juga bisa membuat makanan yang ada di dalamnya lebih tahan lama.

“Bahannya campuran beeswax, organic oils, dan organic cotton," kata perempuan 24 tahun ini, saat dihubungi Alinea.id, Jumat (29/4).

Dengan mematok harga Rp100.000/kemasan untuk tiga lembar kain beeswax berukuran berbeda, Shania atau yang lebih karib disapa Naya dan teman-temannya pun mulai memasarkan Boenkus dari kos-kosan. Hasilnya pun lumayan memuaskan, mengingat harga jual Boengkus yang jauh lebih terjangkau dibanding produk serupa dari luar negeri, yang biasanya dijual dengan harga Rp300.000/kemasan. 

Naya pun mengklaim produk buatannya mampu terurai jauh lebih cepat dari plastik yakni dalam kurun waktu lima tahunan. Hanya saja, dia lebih menyarankan customer untuk menggunakan ulang produknya untuk masa pemakaian yang lebih lama. Ketimbang dibuang, Boenkus bersedia menerima produk yang sudah mulai ‘luntur’ dari pembeli, untuk di-coating ulang.

“Jadi, pembeli tidak perlu untuk membeli pembungkus baru,” katanya.

 

Berita Lainnya