logo alinea.id logo alinea.id

PHRI meminta tak ada monopoli harga avtur Pertamina

Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani meminta tak ada monopoli harga avtur dari PT Pertamina (Persero)

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Senin, 11 Feb 2019 22:25 WIB
PHRI meminta tak ada monopoli harga avtur Pertamina

Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani meminta tak ada monopoli harga avtur dari PT Pertamina (Persero).

Pemilik Grup Sahid yang juga ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) itu mengatakan, dengan adanya kenaikan harga tiket pesawat, diporyeksikan akan membuat tingkat hunian hotel berbintang menurun di bawah 55% pada tahun ini.  

Hariyadi berharap agar industri penerbangan menurunkan harga tiket pesawat dan meminta kepada Pertamina untuk tidak memonopoli penjualan avtur

"Kita mengharapkan pemerintah untuk membuka dominasi Pertamina. Pertamina tidak boleh memonopoli penjualan avtur. Harus ada perusahaan lain yang menjual avtur," kata dia di salah satu hotel di Jakarta, Selasa (11/2). 

Selain itu juga, penjualan avtur di dalam negeri harus dikondisikan dengan perusahaan internasional lain menjual avtur. Mereka tidak mengenakan tambahan pajak pertambahan nilai (PPn) dalam menjual avtur. 

"Karena kalau dikenakan PPn kan masakapai penerbangannya berat, akhirnya kan balik lagi masalah mereka tidak bisa menutup operasional. Mereka mulai aneh-aneh idenya, bagasi berbayar dan sebagainya," imbuh dia. 

Dari industri penerbangannya, PHRI menilai adanya monopoli harga tiket pesawat oleh dua maskapai domestik. Mengingat, industri penerbangan domestik dikuasai oleh Lion Group, serta Garuda Indonesia yang kini sudah mengakuisisi Sriwijaya Air Group.

"Dari sisi penerbangan, kami melihat tendesinya adalah kartel, karena tersisa dua penerbangan nasional," ujar dia. 

Sponsored

Oleh karena itu, Hariyadi berharap pemerintah bisa membuka peluang terhadap pemain baru atau memberi izin bagi perusahaan penerbangan regional untuk bisa terbang.

"Contohnya, ini kan Air Asia mulai mungkin kita berikat kepada Jet Starm kita berikan ke Scot. Jadi, penerbangan regional itu diberi kesempatan untuk menerbangi rute-rute yang meenurut pemerintah harganya tidak fair," tukas Hariyadi. 

Sebelumya, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira juga mengatakan hal yang sama. 

Biaya avtur kata Bhima, pemain besarnya ada di Pertamina. Oleh karena itu, pemerintah seharusnya bisa meregulasi Pertamina dengan skema penugasan untuk sementara waktu. Sehingga harga avtur kemudian bisa sedikit diturunkan.