Bisnis / Pasar modal

Saham BUMI milik Bakrie terpental dari Indeks LQ45

Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) milik Grup Bakrie terpental dari Indeks LQ45 di lantai bursa bersama 4 saham lain.

Saham BUMI milik Bakrie terpental dari Indeks LQ45 Lima saham baru penghuni Indeks LQ45 antara lain PT Sentul City Tbk. (BKSL), PT Elnusa Tbk. (ELSA), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC). / Istimewa

Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) milik Grup Bakrie terpental dari Indeks LQ45 di lantai bursa bersama 4 saham lain.

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan bahwa terdapat lima saham baru yang masuk dalam daftar kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 di pasar modal Indonesia.

Kepala Divisi Operasional Perdagangan BEI Irvan Susandy mengemukakan bahwa ketentuan itu berdasarkan hasil evaluasi pada Juli 2018 atas saham-saham yang akan digunakan dalam penghitungan indeks LQ45.

Ia mengemukakan bahwa lima saham baru itu, yakni PT Sentul City Tbk. (BKSL), PT Elnusa Tbk. (ELSA), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC).

Sedangkan saham yang keluar dari indeks LQ45, yaitu PT Global Mediacom Tbk (BMTR), PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Hanson International Tbk. (MYRX), PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON), dan PT Trada Alam Minera Tbk. (TRAM).

"Daftar saham yang masuk dan keluar dalam penghitungan indeks LQ45 itu berlaku untuk periode perdagangan Agustus 2018 sampai dengan Januari 2019," ujar Irvan dalam keterangan resmi, Rabu (25/7).

Indeks LQ45 adalah indeks yang terdiri dari 45 saham perusahaan tercatat yang dipilih berdasarkan pertimbangan likuiditas dan kapitalisasi pasar, dengan kriteria-kriteria yang sudah ditentukan. Tinjauan dan penggantian saham dilakukan setiap enam bulan.

Proses seleksi saham yang masuk dalam indeks LQ45 dimulai dengan memilih 60 perusahaan dengan nilai transaksi tertinggi di pasar reguler dalam 12 bulan terakhir.

Dari 60 perusahaan tersebut kemudian dipilih 45 saham berdasarkan pertimbangan nilai transaksi, kapitalisasi pasar, jumlah perdagangan harian, dan frekuensi transaksi di pasar reguler selama 12 bulan terakhir.

Saham juga harus dimasukkan dalam perhitungan Indeks Komposit (IHSG) dan harus terdaftar di BEI minimal tiga bulan. Saham juga harus memiliki kondisi keuangan yang baik, prospek pertumbuhan, frekuensi perdagangan dan transaksi yang tinggi di pasar reguler.

Pada perdagangan Rabu (25/7), IHSG ditutup menguat tipis 0,03% sebesar 2,05 poin ke level 5.933,89. Investor asing membukukan net buy senilai Rp95,99 miliar dan net sell sejak awal tahun mencapai Rp50,12 triliun.  (Bursa Efek Indonesia).

Kinerja emiten

Sementara itu, musim laporan keuangan emiten semester I/2018 menunjukkan tren positif bagi sejumlah perusahaan. Misalnya saja emiten pelat merah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT).

Pengamat Pasar Modal Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Reza Priyambada mengatakan emiten akan mencatatkan kinerja positif kembali pada semester II/2018.

"Kalau dari sisi kinerja, saya perkirakan masih ada potensi menghasilkan kinerja yang positif," ungkap Reza saat dihubungi Alinea.id, Rabu (25/7).

Menurut dia, positifnya kinerja keuangan sejumlah emiten mengungkit sentimen positif bagi Indeks harga saham gabungan (IHSG). Namun, penguatan IHSG diprediksi hanya terjadi sesaat lantaran investor bakal kembali fokus pada perkembangan pasar global.

"Nantinya, pelaku pasar akan kembali melihat kondisi pasar, terutama kondisi global yang dapat mempengaruhi rupiah dan pasar saham," jelas Reza.

Dia memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada pada Rp13.350-Rp13.650 per dollar AS di akhir tahun ini. "Tergantung dari sinkronisasi antara program pemerintah dan kebijakan moneternya Bank Indonesia," jelasnya.

Reza menilai penguatan IHSG, terjadi dengan dukungan adanya aksi beli meski tidak sebesar sebelumnya. Selain itu, positifnya laju bursa saham Asia yang dibarengi dengan tercatatnya aksi beli bersih asing senilai Rp288,35 miliar membuat laju IHSG masih dapat bertahan di zona hijau. 

Meski pergerakan IHSG dihalangi dengan kembali melemahnya laju rupiah, namun IHSG mampu bertahan positif. Kenaikan IHSG banyak ditopang oleh saham-saham industri dasar, khususnya semen, properti hingga pertambangan.

Adapun, dia memerkirakan pergerakan IHSG pada perdagangan Kamis (26/7), berada pada rentang di atas support 5.905-5.913 dan resistance dapat menyentuh kisaran 5.948-5.953.

Penguatan IHSG masih ditopang oleh meningkatnya volume beli dengan memanfaatkan sentimen pergerakan bursa saham kawasan yang menguat. Akan tetapi, aksi beli tersebut cenderung terbatas dengan adanya sentimen kembali melemahnya rupiah.

"Diharapkan IHSG dapat bertahan dalam tren kenaikannya. Tetap mewaspadai terhadap sentimen-sentimen yang dapat membuat IHSG kembali melemah," jelasnya.

Terpisah, Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, Maximilianus Nico Demus mengatakan saat ini keadaan ekonomi sedang mengkhawatirkan karena inflasi  justru sangat rendah. Harapannya pada semester II/2018, emiten mampu menunjukkan kinerja yang positif.

"Dengan dasar kita sebagai negara berkembang, kita justru membutuhkan inflasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Inflasi yang terlalu rendah justru tidak bagus, sehingga membuat laba emiten tentu akan berkurang," jelas Nico.

Nico merekomendasikan saham-saham sektor consumer goods INDF, infrastruktur JSMR, INDY, dan WSKT, untuk dikoleksi. Sedangkan, Reza merekomendasikan saham-saham berkapitalisasi pasar besar seperti UNVR, BBNI, BBCA, BMRI, TPIA, dan TLKM.

"Saham-saham mining juga menarik, seperti PTBA, ADRO, ANTM, PTBA, TINS, PGAS seiring rampungnya holding energi dan tambang. Untuk yang second liners, bisa cermati INKP, BRPT, MCAS DOID, IMAS, PTRO dab TKIM," pungkas Reza. 


Berita Terkait