logo alinea.id logo alinea.id

Setelah ambrol akibat sentimen China-AS, IHSG diproyeksi masih terpuruk

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan tertekan oleh sentimen global pada perdagangan akhir pekan, Jumat (10/5).

Annisa Saumi
Annisa Saumi Jumat, 10 Mei 2019 07:01 WIB
Setelah ambrol akibat sentimen China-AS, IHSG diproyeksi masih terpuruk

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan tertekan oleh sentimen global pada perdagangan akhir pekan, Jumat (10/5).

Analis PT Artha Sekuritas Dennies Christopher Jordan memperkirakan IHSG akan melemah terbatas. Sepanjang akhir pekan, IHSG diperkirakan akan dibayang-bayangi sentimen dari bursa global.

"Investor akan menunggu kepastian dari negosiasi antara China dan Amerika Serikat," ujarnya, Kamis (5/9).

Dari sisi teknikal, dia menggambarkan indikator stochastic IHSG bergerak di titik jenuh area oversold sehingga pelemahan diperkirakan akan terbatas.

Dennies memprediksi saham HMSP dan ICBP akan menguat pada perdagangan akhir pekan ini, sedangkan INDF akan tertahan di area support, tapi masih berpotensi melanjutkan penguatan.

Setali tiga uang, analis PT Reliance Sekuritas Lanjar Nafi memprediksi tekanan terhadap IHSG masih didorong oleh pasar regional. 

Pasalnya, bursa saham di Asia tengah menunggu pertemuan penting antara AS dan China untuk membahas penambahan tarif perdagangan kedua negara tersebut.

Meski demikian, lantai bursa domestik masih mencoba untuk rebound pada akhir pekan ini. Lanjar memperkirakan IHSG akan berada pada level support 6.180 dengan titik resistance 6.260.

Sponsored

"Pergerakannya akan semakin suram jika tidak mampu kembali bergerak di atas 6.200,” kata Lanjar secara terpisah.

Untuk pelaku pasar, dia merekomendasikan saham-saham yang masih bisa dicermati seperti WSBP, WTON, GGRM, HMSP, BBNI, BDMN, SMRA, LPPF. 

Pada perdagangan saham sehari sebelumnya, tepatnya Kamis (9/5), IHSG ditutup ambrol cukup dalam ke level 6,198.80 atau merosot 1,14%. Sektor industri dasar dan aneka industri memicu penurunan IHSG masing-masing sebesar 2,92% dan 2,54%.

“Sementara itu, sektor konsumer menguat sendirian dengan pergerakan 0,61%, dipimpin oleh saham produsen rokok yang naik signifikan. Hal ini terjadi setelah bea cukai rokok diperkirakan akan tetap di tahun ini, yang otomatis lebih menguntungkan,” ujar Lanjar.

Penutupan IHSG tersebut hanya membuat level yang nyaris sama dengan akhir tahun lalu 6.194. IHSG sejak awal tahun tercatat hanya naik 0,07% year-to-date (ytd). 

Investor asing ramai-ramai melepas portofolio dengan mencatatkan aksi jual bersih alias net sell senilai Rp1,48 triliun sepanjang hari. Namun, investor asing masih mencatatkan net buy sejak awal tahun senilai Rp61,9 triliun.

Rupiah loyo

Sementara itu, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis (9/5) sore bergerak melemah dipicu sentimen perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Rupiah melemah 65 poin atau 0,45% menjadi Rp14.360 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.295 per dolar AS.

Analis Monex Investindo Futures Dini Nurhadi Yasyi mengatakan, rupiah masih akan cenderung bergerak melemah seiring proses negosiasi dagang antara AS dan China yang kini kembali memanas.

"Pelemahan rupiah hari ini masih soal perang dagang. Pelaku pasar tampaknya masih khawatir," ujar Dini.

Berdasarkan keterangan US Trade Representative pada Rabu (8/5) malam, tarif impor dinaikkan dari 10% menjadi 25% terhadap produk China ke AS senilai US$200 miliar dan akan berlaku mulai Jumat 10 Mei 2019.

Selain itu, pelemahan rupiah juga akan dipicu kekhawatiran tertekannya defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD), yang datanya akan dirilis oleh Bank Indonesia Jumat (10/5).

Menurut Dini, CAD terancam semakin tertekan seiring harga minyak dunia yang menguat tajam dan dapat menjadi sentimen negatif bagi rupiah.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah Rp14.306 dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.306 per dolar AS hingga Rp14.370 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Kamis menunjukkan, Rupiah melemah menjadi Rp14.338 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya di posisi Rp14.305 per dolar AS. (Ant).