sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Siasat bisnis open trip di era serba pembatasan

Pelaku bisnis pariwisata berstrategi di tengah pembatasan sosial akibat pandemi Covid-19.

Nurul Nur Azizah
Nurul Nur Azizah Rabu, 19 Mei 2021 16:12 WIB
Siasat bisnis open trip di era serba pembatasan

Aneka pembatasan kala pandemi tak dimungkiri berdampak bagi para pelaku pariwisata. Termasuk, bisnis paket wisata bersama atau kerap disebut open trip.

Bisnis pariwisata yang menentukan titik kunjungan sebelum memulai perjalanan ini juga terdampak larangan mudik 6-17 Mei tahun ini. Alhasil, pebisnis paket wisata hemat tersebut mesti pandai bersiasat. Seperti halnya dilakukan oleh Open Trip Indonesia (ID). 

Co-Founder Opentrip ID, Eko Pambudi mengatakan bisnis open trip memang terpukul berat di masa awal-awal pandemi. Bulan Juni-Juli 2020 lalu, menjadi titik terendah minat wisatawan untuk menggunakan jasa open trip. 

Kala itu, para penyedia open trip pun mesti menguatkan kolaborasi dan kerja sama agar bisa tetap bertahan. Sosialisasi agar masyarakat tak takut berwisata pun, digencarkan. Tentunya dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. 

"Tahun 2020 kita kerjasama agen-agen travel lokal, kita bentuk hashtag kembali berwisata," ujar Eko kepada Alinea.id, Senin (17/5).

Menurut Eko, kondisi bisnis open trip saat ini sudah berangsur membaik, meskipun masih jauh dari kata normal. Sebab, berbagai kebijakan pembatasan juga berdampak langsung terhadap permintaan wisatawan.

"Paling (okupansi) 10-20% kala itu. Kalau saat ini 50% ada, dibandingkan awal-awal pandemi sudah meningkat," imbuh pelaku bisnis open trip yang mengusung tagline "Liburan Aman, Harga Nyaman" tersebut. 

Dia menilai penyedia jasa pariwisata masih terkendala konsistensi dan ketegasan kebijakan. Tak hanya di level pemerintah pusat, namun juga di pemerintah daerah setempat yang menurutnya perlu lebih sinkron dan terkoordinir. 

Sponsored

"Sangat disayangkan kebijakan masing-masing kan ada yang berubah-ubah. Padahal kita sudah open kuota misalnya, tapi destinasi ada yang tidak bisa ternyata," imbuhnya. 

Para pemuda menyaksikan layang-layang di Pantai Mertasari, Sanur, Bali saat festival layang-layang yang dimulai Mei 2021 hingga September 2021 mendatang. Foto Reuters/Dicky Bisinglasi.

Ia mengaku setidaknya tiap minggu selalu ada trip yang berjalan. Jumlah totalnya ada sekitar 35 titik destinasi wisata, dengan keterisian kuota masing-masing mulai dari 8 orang hingga 20 orang. 

Untuk Lebaran kali ini, dia menyebut, destinasi terlaris yang paling banyak diminati wisatawan open trip adalah Pulau Seribu yang meliputi Pulau Harapan, Pulau Pari hingga Pulau Tidung. 

"Destinasi Pulau Seribu lumayan, kemarin Lebaran 3 tiba-tiba ada penutupan, itu kita reschedule lagi," katanya. 

Perusahaan jasa open trip yang beralamat di Agro Plaza, Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan tersebut menawarkan promo menarik selama Lebaran ini yaitu "Promo Lebaran Big Sale" pada 7-10 Mei 2021 yang berlaku untuk keberangkatan 2021 hingga 2022. 

Menariknya, pemesanan open trip ini bisa di reschedule hingga tahun 2022 dengan biaya gratis. Pemesanan pun bisa via website atau aplikasi Open Trip ID. Sedangkan, pembayaran bisa melalui transfer ke semua jenis bank, kartu kredit, Kredivo, hingga Pay Later dari Indodana. 

Beberapa destinasi yang ditawarkan seperti Sailing Komodo Luxury Phinisi dari Rp7,4 juta-an menjadi mulai dari Rp2,2 juta, Sailing Komodo Reguler dari Rp2,5 juta-an menjadi Rp1,6 juta-an. 

Selain itu, ada pula Pula Peucang dari Rp826.000-an menjadi Rp575.000, Bromo Midnight dari Rp599.000-an menjadi Rp250.000, Dieng Plateau dari Rp692.000-an menjadi Rp495.000, dan Derawan Labuan Cermin dari Rp2,9 juta-an menjadi Rp1,7 juta-an. 

Tren kembali menggeliatnya permintaan open trip juga dialami oleh Explore.id. Marketing Explore.id Ayke menyampaikan sampai saat ini tren open trip terus meningkat. Menurutnya, ini tak lepas dari semakin banyak orang yang sadar akan konsep wisata bersama orang tak dikenal di kalangan usia 20-35 tahun.

"Ini dilihat dari follower Instagram sebanyak 85,7k follower dan pengguna aplikasi Explorer.id sebanyak >63 ribu user yang terus bertambah dan semakin banyaknya perusahaan travel yang memberikan jasa open trip," ujar Ayke kepada Alinea.id, Senin (17/5). 

Ayke membeberkan, selama tahun 2019 jumlah peserta trip memang selalu bertambah setiap bulannya hingga mencapai 18.000 peserta. Meskipun, adanya pandemi menyebabkan kegiatan wisata sempat terhenti.

Data internal Explorer.id mencatat, selama masa pandemi ini jumlah peserta open trip sebanyak 6.000 peserta di tahun 2020 dan 2.000 peserta di 2021 (Januari-April 2021). 

Jumlah ini memang relatif menurun jika dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi yang bisa menembus sekitar 1.500 peserta per bulannya. Namun, dirinya optimistis bahwa potensi pariwisata akan bisa kembali menggeliat. 

"Karena masyarakat merasa bosan dan rindu beraktivitas di alam. Setelah larangan mudik kemarin juga permintaan wisata terus meningkat dengan adanya permintaan trip hingga Juni (2021) ini," jelasnya.  

Dari sekian banyak destinasi tempat wisata yang ditawarkan, Ayke mengaku tujuan open trip yang paling banyak diminati adalah Pesona Ujung Genteng. Destinasi lokawisata Sukabumi itu nyaris selalu berangkat setiap minggu sejak akhir Januari 2021. 

Selain itu, ada pula destinasi Ciwidey, Lembang, Geopark Ciletuh, Sukabumi, Majalengka, dan trekking di Bogor yang juga cukup diminati. Setiap trip ini ada sekitar 10-30 orang peserta, tergantung destinasi dan kendaraan yang digunakan.

"Hampir semua wisata alam untuk melihat pemandangan, berenang di air terjun atau pantai," kata Ayke.

Wisatawan menikmati kesegaran air terjun Sendang Gile di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Foto Reuters.

Selama masa lebaran ini, Explore.id menawarkan promo meriah #raMAYkan Akhir Pekan. Tanggal keberangkatan trip ini adalah 20-23 Mei dan 27-30 Mei 2021. 

Beberapa destinasinya meliputi Suspension Situ Gintung (Rp88.000), Pangalengan (Rp88.000), Kawah Putih-Ranca Upas di Ciwidey (Rp88.000), Kuliner Trip Edisi Cirebon (Rp230.000), dan Pesona Ujung Genteng (Rp300.000).

Ada pula paket open trip untuk Trekking Goa Garunggang (Rp325.000), Pantai Sawarna dari Rp800.000 menjadi Rp700.000, Bromo Midnight-Batu dari Rp1,2 juta menjadi Rp1,1 juta, dan Karimunjawa dari Rp 1,6 juta menjadi Rp1,5 juta. 

Pihak Explorer.id juga mengaku terus berinovasi menawarkan pengalaman unik bagi peserta melalui trip khusus seperti Horor Trip, Kuliner Trip, Menanam Padi, Gowes Cikole, Dog Adventure trip, dan beragam lainnya.

"Sehingga tidak hanya jalan-jalan tetapi ada pengalaman berkesan dan koneksi baru antar anggota trip yang dapat dirasakan peserta ketika mengikuti trip," katanya. 

Sementara itu, penyedia open trip Bali Flores Wisata, juga mulai mengalami peningkatan. Founder Bali Flores Wisata, William mengatakan sebelum masa Lebaran tahun ini ada permintaan yang cukup banyak untuk bisnis yang mengusung konsep pengenalan pedesaan ini. Para wisatawan ini, biasanya mengakses layanan informasi open tripnya lewat website dengan berbasis SEO (Search Engine Optimization).

"Website itu sudah mengalami peningkatan dari hari-hari biasa, meskipun satu paket aja seperti Nusa Penida. Tren sekarang 25% ke atas," ujar William kepada Alinea.id, Senin (17/5).

Tak hanya mempromosikan pariwisata yang belum banyak dikenal, Bali Flores Wisata juga mempunyai misi untuk memberdayakan masyarakat sekitar.

"Kita membeli paketnya orang lokal di sana. Kita menggunakan jasa mereka, empowering gitu memberdayakan masyarakat di sana," imbuhnya. 

Dalam sebulan, paling tidak open trip milik William dan kedua temannya ini bisa melayani 5 trip berupa couple trip (pasangan) ataupun family trip (keluarga). Destinasi yang paling banyak diminati adalah Nusa Penida dan Labuan Bajo.

Seorang wisman mengambil foto di atas puncak Pulau Kelor di kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Foto Reuters/Beawiharta.

Menggaungkan tagline "Your Travel Partner!", penyedia jasa open trip yang berada di Manggarai Barat, NTT ini, menyediakan aneka layanan seperti Tour in Bali, Flores Tour Package, Komodo National Park Tour, dan Labuan Bajo & Ruteng Land Tour

Disiplin protokol kesehatan

Berwisata di masa pandemi, tak bisa lepas dari kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Mulai dari memakai masker, cuci tangan/sanitasi tangan, pengecekan suhu tubuh, menjaga jarak (social distancing) hingga kebersihan dan keamanan melalui tes usap untuk meminimalisir penularan Covid-19. 

Ketiga penyedia open trip tersebut sepakat, bahwa dalam menjalankan bisnisnya disiplin menerapkan protokol kesehatan menjadi hal mutlak. 

"Kita juga ada form khususnya, ada yang punya penyakit enggak, ada pengecekan suhu tubuh rutin, hari pertama berapa, kedua berapa," jelas Eko Pambudi dari Open Trip ID. 

Sementara itu, William dari Bali Flores Wisata menambahkan, pihaknya juga melakukan sosialisasi yang masif untuk terus meningkatkan kesadaran para wisatawan agar patuh pada prokes pencegahan Covid-19.

"Kita wajib menerangkan ke calon customer hal yang harus disediakan itu kayak apa saja," kata dia. 

Ayke dari Explore.id menambahkan, pihaknya bahkan melakukan penerapan physical distancing di kendaraan. Jumlah peserta sekitar 70% dari kapasitas kendaraan. Sehingga, peserta dapat memilih ingin duduk bersebelahan dengan keluarga atau teman atau duduk sendiri. 

"Selain itu, peserta wajib mengenakan masker, di cek suhu sebelum memasuki kendaraan, dan tersedia hand sanitizer di dalam kendaraan. Untuk trip tertentu membutuhkan hasil swab antigen," jelasnya. 

Konsistensi kebijakan dan keselamatan

Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Azril Azhari menekankan upaya menggairahkan kembali pariwisata butuh keseimbangan. Tak hanya aspek protokol kesehatan, namun juga konsistensi kebijakan hingga Standar Operasional Prosedur (SOP) keselamatan.   

"Kita belum mendapatkan rumusnya, karena dicoba-coba saja. Kadang-kadang ditutup, kadang-kadang dibuka lagi. Nah, ini yang bermasalah, harusnya konsisten," ujar Azril kepada Alinea.id, Selasa (18/5). 

Dalam konteks open trip, Azril menekankan upaya disiplin prokes akan sangat berguna untuk melindungi satu sama lain dari potensi penularan virus. Tidak saja sesama peserta, namun juga pemandu hingga orang-orang yang ditemui selama berwisata. 

"Karena open trip kan dia ketemu orang yang tidak kenal, lalu dia jadi satu grup yang sama-sama bepergian," imbuhnya. 

Sementara itu, dia menambahkan, kebijakan pemerintah soal pariwisata juga mesti konsisten dan terkoordinasi mulai dari pusat hingga daerah. 

"Koordinasi juga, antara pusat, daerah, polisi, dinas perhubungan, dinas pariwisata, Satpol PP," kata dia. 

Menurutnya, waktu pemberlakuan kebijakan hingga pengaplikasian di lapangan selama ini masih belum optimal. Dia juga menggarisbawahi soal aspek SOP keselamatan yang minim. 

Dia mencontohkan, pada kasus terbaliknya kapal di Waduk Kedung Ombo yang menunjukkan nihilnya SOP keselamatan berwisata. 

"Itu dalamnya 20-30 meter, tapi safetynya, pelampungnya enggak diberikan," ujarnya. 

Padahal, dalam menjalankan pariwisata menurutnya tidak bisa mengabaikan unsur-unsur mulai dari kesehatan dan kebersihan (health and hygiene), keselamatan dan keamanan (safety and security), ramah lingkungan dan keberlanjutan (environment and sustainability) dan pelayanan infrastruktur yang memadai bagi wisatawan (tourist service infrastructure). 

"Itu harus diperbaiki," pungkasnya.

Ilustrasi Alinea.id/Oky Diaz.

Berita Lainnya