close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Pixabay
icon caption
Ilustrasi. Pixabay
Bisnis
Kamis, 15 April 2021 12:02

Indef: Silicon Valley Sukabumi angan-angan yang susah direngkuh

Keberadaan Bukit Algoritma dikhawatirkan menjadi eksklusif dan bisa menjadi serangan balik ke perekonomian nasional.
swipe

Indonesia berencana membangun pusat riset dan teknologi di Sukabumi, Jawa Barat, bernama Bukit Algoritma. Bukit Algoritma ini digadang-gadang akan menjadi seperti Silicon Valley di Amerika Serikat, yang menjadi pusat dari banyak perusahaan teknologi dunia.

Kepala Pusat Inovasi dan Ekonomi Digital Indef Nailul Huda menyebut, proyek ini hanya sebuah angan-angan semata yang susah direngkuh.

"Kenapa saya sebut halusinasi? Karena beberapa catatan yang saya temukan, proyek ini tidak bisa menunjang Silicon Valley yang inklusif. Malah itu (Bukit Algoritma) bisa jadi eksklusif dan bisa menjadi serangan balik ke perekonomian nasional," kata Nailul, Kamis (15/4).

Dia melanjutkan, ada beberapa poin yang menjadi alasan mengapa proyek ini hanya angan-angan semata. Pertama, ekosistem riset dan pengembangan (research and development atau R&D) Indonesia masih sangat rendah.

Rendahnya R&D ini disebabkan karena kondisi proporsi dana R&D terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia masih rendah. Berdasarkan catatannya, sampai saat ini proporsi dana R&D terhadap PDB Indonesia hanya 0,02% dari PDB. 

"Itu sangat jauh sekali dibandingkan negara seperti Korea Selatan, Jepang, Singapura, bahkan Thailand yang dia mengembangkan R&D dari sektor bisnis swasta," ucap dia. 

Permasalahan lainnya menurut Nailul, ketika melihat Silicon Valley di AS, yang dibangun pertama kali bukanlah tempatnya, tetapi industrinya. Sedangkan di Indonesia, yang dibangun fisiknya terlebih dahulu, bukan teknologinya.

Kemudian, kata dia, tidak ada linkage terhadap universitas, karena Sukabumi relatif jauh dari Jakarta, dan jauh dari sumber daya mahasiswa yang bisa menggunakan atau memanfaatkan Silicon Valley. 

"Letak Sukabumi di Selatan Jawa, relatif lebih rawan terhadap bencana alam. Kebutuhan data center yang kuat bisa terkendala dari adanya rawan bencana ini, padahal data center ini salah satu tulang punggung pembangunan teknologi," tuturnya. 

Selain itu, mempertimbangkan industri hi-tech di Indonesia yang masih sangat rendah, Nailul khawatir industri yang masuk ke Silicon Valley ini industri yang tidak hi-tech. 

"Jadi sama saja cuma menyediakan properti saja," ujarnya.

img
Annisa Saumi
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan