Bisnis / Ekonomi makro

Solusi permanen atasi ketidakstabilan ekonomi dalam negeri

Meningkatkan ekspor menjadi jalan keluar untuk menstabilkan ekonomi. Tidak sendirian, pemerintah harus mengandeng Bank Indonesia (BI).

Solusi permanen atasi ketidakstabilan ekonomi dalam negeri Impor migas tercatat mengalami kenaikan sehingga menyebabkan defisit neraca perdagangan./Antara Foto

Ekonomi makro saat ini dalam kondisi tidak stabil. Nilai tukar rupiah terhadap dollar masih cenderung melemah. Kondisi ini mendorong Pemerintah berupaya menggenjot ekspor. 

Langkah tersebut dinilai Peneliti Center for Indonesian Policy Studies Novani Karina Saputri lebih bijak dengan meningkatkan ekspor daripada menekan impor untuk menstabilkan ekonomi. Sebab nilai ekspor akan jauh lebih efektif daripada kebijakan berupa intervensi pasar yang pernah dilakukan sebelumnya. 

Apalagi kata Novani, nilai tukar rupiah saat ini terbilang masih fluktuatif. Tidak bisa diprediksi menguat dalam waktu dekat. Bahkan, kebijakan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga dinilai efektif untuk jangka pendek. 

Nah, peningkatan nilai ekspor kata Novani penting untuk menstabilkan kembali neraca perdagangan. Apalagi neraca perdagangan defisit karena nilai impor migas naik. 

Sebagai informasi, impor migas pada Mei 2018 meningkat sebanyak 20,95% dibandingkan dengan bulan April. Secara year on year (yoy) bahkan impor migas meningkat 57,17%. 

“Misalnya saja ekspor di bidang manufaktur. Nilai ekspor Indonesia di bidang ini lebih rendah kalau dibandingkan Malaysia,” terang Novani, seperti dikutip dalam siaran tertulisnya pada Rabu (11/7).

Untuk diketahui, ekspor barang manufaktur Indonesia pada Januari-Desember 2017 tercatat US$ 114,67 miliar atau Rp 1.548 triliun. Sementara pada periode yang sama, ekspor barang manufaktur Malaysia tercatat RM 703,08 miliar atau Rp 2.460 triliun. 

Maka, diperlukan adanya peningkatan ekspor agar nilai ekspor bergerak naik. BI dan pemerintah pun harus terus mencari upaya untuk meningkatkan potensi ekspor Indonesia guna mengendalikan kondisi neraca perdagangan dan cadangan devisa.

“Apabila neraca perdagangan dan cadangan devisa membaik, maka akan membantu menstabilkan nilai tukar rupiah yang terus melemah akibat goncangan global,” imbuh Novani.

Tidak tepat mengurangi impor

BI juga diingatkan untuk tidak mengandalkan BI 7 days Repo Rate dan intervensi ganda melalui pasokan valas dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) untuk mengendalikan nilai tukar rupiah terhadap dollar. Apabila terus dilakukan justru bisa menimbulkan krisis ekonomi

Solusinya, BI diminta bekerjasama dengan pemerintah untuk kembali memacu ekspor. Toh, kata Novani Indonesia punya banyak potensi ekspor yang potensial untuk digenjot produktivitasnya. Langkah tersebut lebih efektif dan berdampak pada kestabilan nilai Rupiah dan juga neraca perdagangan.

Di sisi lain, penekanan impor dinilai tidak tepat dan berisiko. Sebab dapat membuat tingginya harga komoditas di dalam negeri. 

Melarang atau mengurangi volume impor butuh pertimbangan khusus, karena hal ini akan memengaruhi stabilitas harga di pasar domestik. Berkaca pada produksi dalam negeri yang tidak bisa memenuhi kebutuhan pasar domestik, maka impor harus tetap dilakukan untuk menjaga kestabilan harga.

Daya beli lesu 

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar sudah pasti berdampak atas mahalnya barang impor. Sebagai importir utama untuk beberapa barang terutama bahan pokok, semakin mahalnya barang impor yang merupakan bahan pokok dan bahan produksi, berdampak pada tingginya nilai jual produksi. Lantas harga pun makin mahal.

Tidak hanya industri besar, pedagang kecil yang menjual bahan pokok juga merasakan meningkatnya harga. Inflasi semacam ini akan menurunkan daya beli masyarakat yang secara tidak langsung akan berdampak pada melemahnya perekonomian Indonesia secara agregat.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang dimaksud antara lain adalah kondisi sosial dan keamanan dalam negeri, meski pengaruhnya tidak terlalu besar terhadap stabilitas nilai tukar Rupiah. 

Sementara itu faktor eksternal yang selalu terdengar adalah dampak kenaikan suku bunga The Fed dan Perang dagang China serta Amerika. Terakhir, tingginya harga minyak dunia.


Berita Terkait