sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Sukuk Ritel 006 terserap 84% sebesar Rp840 M

Sukuk Tabungan 006 ini merupakan surat utang ritel terakhir yang diterbitkan Kemenkeu tahun ini.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Sabtu, 16 Nov 2019 14:03 WIB
Sukuk Ritel 006 terserap 84% sebesar Rp840 M

Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) masih membuka penawaran surat utang Green Sukuk Ritel seri ST006 secara online kepada investor individu. Penawaran ini baru akan ditutup pada 21 November 2019.

Dirjen DJPPR Luky Alfirman mengatakan Sukuk Tabungan ST006 ini merupakan surat utang ritel terakhir yang diterbitkan Kemenkeu tahun ini. Luky mengatakan Kemenkeu menargetkan penerbitan Surat Berharga Negara sebanyak 10 kali dalam setahun, yang dilakukan setiap bulan kecuali Juni dan Desember. 

"Targetnya peroleh dana dari ST006 ini di kisaran Rp1 triliun," ujar Luky di Jakarta, Sabtu (16/11).

Sebagai informasi, hingga Jumat 15 November 2019, realisasi penjualan Sukuk Tabungan ST006 mencapai Rp840,4 miliar atau 84% dari target indikatif Rp1 triliun. Dengan demikian, masih ada kuota pemesanan Sukuk Tabungan ST006 sebanyak Rp159,54 miliar.

Sukuk Tabungan ST006 memiliki imbalan mengambang dengan batasan minimal (floating with floor) 6,75% per tahun, yang diperoleh dari BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 5% ditambah dengan spread 175 basis poin atau 1,75%. 

Sama seperti Obligasi Ritel (ORI) seri 016 yang diterbitkan pemerintah bulan lalu, ST 006 ini bisa dibeli mulai dari harga Rp1 juta dan maksimal Rp3 miliar. ST 006 memiliki masa jatuh tempo 2 tahun atau pada 10 November 2021.

Dana hasil penerbitan ST 006 ini nantinya akan digunakan pemerintah untuk membiayai proyek-proyek green atau yang memiliki kepedulian pada lingkungan. ST 006 ini merupakan Green Sukuk Ritel yang pertama kali diluncurkan dunia. 

Dengan berorientasi pada kepedulian lingkungan, Luky mengatakan ingin menjangkau investor dari kalangan milenial. 

Sponsored

"Target kami menjangkau generasi milenial. Karena memang sejak kami memasarkan SBN secara online, terjadi peralihan di mana sekarang investor yang dominan itu dari 51%-52% dari milenial," tutur Luky. 

Berita Lainnya