sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Tertekan Covid-19, pengembang harus manfaatkan digital marketing

Dengan adanya pandemi Covid-19 dan PSBB, pemulihan pasar properti semakin sulit dilakukan.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 09 Apr 2020 16:05 WIB
Tertekan Covid-19, pengembang harus manfaatkan digital marketing
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 534.266
Dirawat 66.752
Meninggal 16.825
Sembuh 445.793

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat Covid-19 di DKI Jakarta membuat pengembang properti harus memutar otak untuk memasarkan produk mereka. 

Kepala riset Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan, saat ini pasar properti sedang mengalami tekanan berat. Dengan adanya pandemi Covid-19 dan PSBB, pemulihan sektor properti semakin sulit dilakukan. Seperti diketahui, setelah melesat tahun 2013, pertumbuhan sektor properti tercatat terus mengalami penurunan.

"Sebulan terakhir dampak PSBB sedemikian dahsyat bagi sektor properti. Sehingga kami tak bisa berharap sektor ini akan pulih cepat," ujar Ferry dalam konferensi video Colliers Indonesia, dari Jakarta, Rabu (8/4).

Ferry melanjutkan, meskipun Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan menjadi 4,5%, tetapi penjualan properti tetap tak bergerak. Sebab, menurut dia, saat ini prioritas masyarakat bukan lagi berinvestasi, melainkan menjaga kelangsungan hidup beberapa bulan ke depan.

Selain itu, kebijakan PSBB membuat kegiatan transaksi properti berkurang. Menurut Ferry, saat ini developer properti mau tak mau harus memanfaatkan teknologi digital untuk berkembang. Sebab, dengan kondisi saat ini, developer sulit untuk melakukan manuver di lapangan.

"Ini saat yang tepat bagi developer properti untuk melakukan branding ulang dan masuk ke digital marketing," kata dia.

Sementara itu, Senior  Associate Director Industrial Services Colliers International Indonesia Rivan Munansa mengatakan, PSBB tak berpengaruh bagi sektor yang bergerak di industri barang konsumen, seperti barang kebutuhan sehari-hari dan alat kesehatan.

Sehingga, tak semua sektor properti pertumbuhannya menjadi negatif. Sebab, menurut Rivan, sewa properti dan okupansi dari sektor-sektor tersebut akan tetap ada.

Sponsored

"Mal yang tutup kan supermarketnya tetap buka. Jadi kebutuhan itu tetap ada," ujar Rivan.

Berita Lainnya