sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Tiga perusahaan investasi sektor industri petrokimia

Tiga perusahaan tersebut akan memproduksi kebutuhan bahan baku kimia berbasis nafta cracker di dalam negeri.

Hermansah
Hermansah Selasa, 20 Feb 2018 09:22 WIB
Tiga perusahaan investasi sektor industri petrokimia
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 392.934
Dirawat 61.851
Meninggal 13.411
Sembuh 317.672

Sedikitnya ada tiga perusahaan yang telah menyatakan minatnya untuk berinvestasi dalam pengembangan sektor industri petrokimia di Indonesia. Mereka akan memproduksi kebutuhan bahan baku kimia berbasis nafta cracker di dalam negeri sehingga Indonesia tidak perlu lagi impor.

Pertama, pelaku industri nasional PT Chandra Asri Petrochemical Tbk akan menggelontorkan dana sebesar US$ 6 miliar sampai 2021 dalam rangka peningkatan kapasitas produksi. Kedua, industri petrokimia asal Korea Selatan, Lotte Chemical Titan akan merealisasikan investasinya sebesar US$ 3-4 miliar untuk memproduksi nafta cracker dengan total kapasitas sebanyak dua juta ton per tahun.

Ketiga, manufaktur besar Thailand, Siam Cement Group (SCG), juga berencana membangun fasilitas produksi nafta cracker senilai US$ 600 juta di Cilegon, Banten. 

Dengan tambahan investasi Lotte Chemical dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, Indonesia akan mampu menghasilkan bahan baku kimia berbasis nafta cracker sebanyak 3 juta ton per tahun. Bahkan, Indonesia bisa memposisikan sebagai produsen terbesar keempat di ASEAN setelah Thailand, Singapura dan Malaysia.

Sponsored

Industri Kimia, Tektsil, dan Aneka (IKTA) merupakan kelompok sektor manufaktur yang berkontribusi signfikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian terus berupaya mengakselerasi pertumbuhan sektor IKTA melalui pendalaman struktur industri serta melakukan peningkatan investasi dan ekspor.

“Kami telah memiliki berbagai langkah strategis dalam mendorong pengembangan industri nasional, termasuk di sektor IKTA yang punya potensi dan berpeluang besar dapat tumbuh dan semakin berdaya saing. Hal ini guna memacu pertumbuhan ekonomi kita,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara Breakfast Meeting dengan Pelaku Usaha Sektor IKTA di Jakarta, Senin (19/2).

Kemenperin mencatat, kontribusi sektor IKTA terhadap PDB nasional sebesar 4,54% pada 2017. Adapun subsektor sebagai penyumbang terbesar adalah industri bahan kimia dan barang kimia sekitar 1,25%, diikuti industri pakaian jadi sekitar 0,80%, industri barang galian bukan logam sekitar 0,66%, serta industri karet, barang karet, dan plastik sekitar 0,63%.

Berita Lainnya