sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Transisi ke energi bersih terbarukan butuh energy storage

Pemerintah juga harus memikirkan pengembangan energy storage, khususnya yang berskala ekonomis. 

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 08 Mar 2021 16:04 WIB
Transisi ke energi bersih terbarukan butuh energy storage

Indonesia tercatat menjadi salah satu negara yang meratifikasi Perjanjian Paris atau Paris Agreement untuk menurunkan gas rumah kaca. Indonesia pun berkomitmen untuk menurunkan emisi sebesar 29% dengan upaya sendiri pada 2030.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, apabila Indonesia ingin memasuki status dekarbonisasi pertengahan abad ini, maka 70% bauran pasokan listrik Indonesia pada 2050 harus berasal dari energi bersih terbarukan (EBT). 

"Kita harus menambah pembangkit EBT 15 Giga Watt (GW) sampai 20 GW per tahun, kalau ingin masuk ke jalur transisi energi," kata Fabby dalam diskusi virtual, Senin (8/3).

Dia melanjutkan, apabila melihat beberapa model peta jalan energi global, maka 50% energi akan berasal dari surya dan bayu. Dengan sifatnya yang intermittent, maka tekonologi penyimpanan energi atau energy storage menurut Fabby sangat diperlukan untuk transisi energi.

Sponsored

Di saat pemerintah mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar, Fabby menilai, pemerintah juga harus memikirkan pengembangan energy storage, khususnya yang berskala ekonomis. 

"Sambil energi itu masuk, Indonesia punya potensi mengembangkan pumped hydro energy storage (PHES) yang cukup besar. Kalau dikembangkan bisa jadi solusi ekonomis dengan dikombinasikan dengan energi surya dan bayu," tuturnya.

Adapun saat ini, tercatat PHES mendominasi teknologi penyimpanan energi secara global, dengan porsi 91%. Hal ini karena teknologi PHES telah tersedia dan memiliki harga yang lebih kompetitif.

Berita Lainnya