close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi perang Israel-Hamas. Foto Freepik.
icon caption
Ilustrasi perang Israel-Hamas. Foto Freepik.
Bisnis
Rabu, 22 November 2023 19:23

Saham Unilever, Starbucks, dan Pizza Hut terseok-seok, efek boikot Israel?

Pergerakan harga saham UNVR, MAPB, dan PZZA tak menggembirakan. Terdampak boikot Israel?
swipe

Gerakan memboikot produk yang terhubung dengan Israel di tengah konflik Gaza di Indonesia semakin masif. Seruan ini didorong oleh lembaga seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan gerakan global Boycott, Divestment, and Sanction (BDS) yang tidak hanya mengarah pada barang dan jasa, tetapi juga pada aspek budaya dengan tujuan memberi tekanan secara ekonomi, sosial, budaya, dan politik terhadap Israel. 

Beberapa perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau terafiliasi dengan Israel. Sebut saja emiten PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) yang produk-produknya masuk dalam daftar gerakan BDS. UNVR menaungi segudang merek consumer goods ternama seperti Pepsodent, Lux, Lifebuoy, Dove, Sunsilk, Clear, Rexona, Vaseline, Rinso, Molto, Sunlight, Wall's, Bango, Royco, Sariwangi, dan masih banyak lagi.

Saham UNVR terpantau turun sejak 26 Oktober 2023 lalu dan terus mengalami pelemahan. Saat itu, harga saham ditutup pada Rp3.980 per saham dan pada perdagangan Rabu (22/10) hari ini UNVR berada di Rp3.500 per saham.

Sementara nasib saham PT MAP Boga Adiperkasa Tbk. (MAPB), pengelola brand kopi ternama Starbucks Indonesia tak jauh berbeda dengan UNVR.

Brand kopi terbesar di dunia asal Amerika Serikat (AS) itu disebut-sebut mendukung Israel. Di AS, saham Starbucks anjlok. Selain itu sejumlah outlet Starbucks kini sepi pengunjung di dua titik ibu kota dan kota penyangga.

Meski pihak Starbucks Indonesia menyatakan tidak mengikuti langkah Starbucks di AS dan juga telah mengutuk tindakan teror, namun saham MAPB bergerak turun 4,28% dalam satu bulan terakhir. Demikian juga pada perdagangan Rabu (22/11), harga saham anak usaha jaringan ritel PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) itu ditutup turun 3,55% pada Rp1.900 per saham.

Selain Starbucks, harga saham pemegang hak waralaba restoran Pizza Hut, PT Sarimelati Kencana Tbk. (PZZA) bergerak stagnan. Dalam satu bulan terakhir, harga saham ini hanya naik 1,47%. Adapun pada perdagangan hari ini ditutup pada Rp414 per saham atau naik 0,98%.

Analis Binaartha Sekuritas, Nafan Aji mengatakan seruan boikot akan berdampak terhadap kinerja penjualan dan pendapatan perusahaan. Menurutnya, perusahaan harus berupaya meningkatkan komitmen dalam memberikan humanitarian aid khususnya kepada pihak terdampak konflik, yaitu warga Gaza.

"Perusahaan-perusahaan ini established di Indonesia yang merupakan negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. Jadi harus menunjukkan perusahaan juga memiliki komitmen untuk mewujudkan perdamaian khususnya di kawasan Timur Tengah. Misalnya menggalang bantuan untuk warga Gaza dengan tujuan bisa menciptakan trust terhadap para investor," tutur Nafan kepada Alinea.id, baru-baru ini.

Masih menarik?

Nafan memprediksi sentimen negatif boikot produk terhadap pergerakan saham tidak akan berlangsung lama. Menurutnya, saham UNVR hanya mengalami bearish consolidation. Adapun MAPB disebut masih bekerja sideways alias sedang datar. 

"Jadi memang masih relatif defensif kalau melihat dari pergerakan harga sahamnya dan apalagi jika emiten-emiten tersebut mampu memitigasi seruan boikot," tuturnya.

Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani menyebut belum ada dampak boikot terhadap keuangan Unilever. Meski demikian, boikot memberikan sentimen negatif terhadap pergerakan harga saham. 

"Unilever sudah cukup turun sejak beberapa minggu, namun sudah mencapai support dan berpotensi ada pembalikan arah. Boikot tersebut hanya sentimen saja yang berpengaruh terhadap penurunan saham, namun tren penurunan sudah sebelum perang Israel-Hamas," tuturnya. 

UNVR memilliki fundamental yang tak mencolok dengan pertumbuhan laba dalam dua tahun terakhir sangat tipis. Di sisi lain, valuasi saham cukup tinggi.

"Kalau MAPB itu memang saham goreng tidak likuid dan trennya turun sejak Februari tahun ini jadi tidak ada hubungan sama sekali dengan boikot. Untuk PZZA juga sudah turun jauh sebelum perang Israel-Hamas, sahamnya sendiri kurang kondusif. Emiten tersebut juga rugi sejak 1 tahun lebih, tidak ada hubungan dengan boikot, jadi tentu ini masih menarik bagi investor," ujarnya.

img
Ummu Hafifah
Reporter
img
Satriani Ari Wulan
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan