sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

24 orang tewas akibat bentrok antarsuku di Papua Nugini

Bentrokan antarsuku itu terjadi di Provinsi Hela, bagian barat Papua Nugini, dan berlangsung selama tiga hari.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 10 Jul 2019 15:59 WIB
24 orang tewas akibat bentrok antarsuku di Papua Nugini

Dua puluh empat orang tewas dalam konflik antarsuku di dataran tinggi Papua Nugini. Pada Rabu (10/7), Perdana Menteri James Marape berjanji akan segera mengatasi persoalan tersebut dan menindak para pelaku.

Para pejabat setempat mengatakan bentrokan antarsuku itu terjadi di Provinsi Hela, bagian barat Papua Nugini, dan berlangsung selama tiga hari.

Sejumlah suku di dataran tinggi Papua Nugini telah berselisih sejak lama. Namun, memasuki era modern, senjata otomatis menjadikan bentrokan lebih mematikan dan meningkatkan siklus kekerasan.

"Dua puluh empat orang dipastikan tewas, terbunuh dalam tiga hari, tetapi jumlah itu bisa saja meningkat pada hari ini," kata pejabat Provinsi Hela, William Bando. "Hari ini kami masih menunggu pengarahan dari para petugas di lapangan."

Bando menyerukan agar setidaknya 100 polisi tambahan dikerahkan untuk memperkuat sekitar 40 petugas keamanan setempat.

Insiden itu mengejutkan PM Marape, yang daerah pemilihannya termasuk salah satu distrik tempat pembantaian itu terjadi. Dia berjanji akan meningkatkan keamanan dan menindak keras para pelaku pembunuhan. 

"Hari ini adalah salah satu hari tersedih dalam hidup saya," tutur Marape. "Banyak anak-anak dan ibu yang tidak berdosa tewas di Munima dan Karida, di daerah pemilihan saya."

Di Karida para pelaku dilaporkan menembak enam wanita, termasuk dua wanita hamil, dan delapan anak dalam serangan yang berlangsung selama 30 menit.

Sponsored

Petugas kesehatan setempat, Pills Kolo, mengatakan sulit untuk mengidentifikasi beberapa bagian tubuh yang tersisa di lokasi penyerangan.

Media lokal melaporkan bahwa serangan itu merupakan pembalasan atas penyergapan dan pembunuhan yang terjadi sebelumnya.

"Penjahat bersenjata, waktu kalian sudah habis ... Saya tidak akan segan menggunakan tindakan keras untuk menangani kalian," tegas PM Marape.

Dia mengancam para pelaku dengan hukuman mati yang legal di Papua Nugini.

Belum jelas apa yang memicu serangan itu, tetapi sebagian besar perselisihan di provinsi itu dipicu oleh rivalitas lama yang biasanya terjadi karena masalah pemerkosaan, pencurian atau sengketa lahan.

Di Provinsi Enga gelombang kekerasan yang serupa mendorong pemerintah mendirikan garnisun darurat dan mengerahkan sekitar 100 tentara. Marape mengkritik sumber daya keamanan yang ada di provinsi tersebut.

"Bagaimana sebuah provinsi dengan 400.000 orang dapat mematuhi hukum dan ketertiban dengan pengawasan di bawah 60 polisi," ujarnya. (AFP)