sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Aktivis demokrasi Hong Kong Joshua Wong kembali ditangkap

"Dia dengan paksa didorong ke dalam mobil pribadi dan dikawal ke markas polisi di Wan Chai."

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 30 Agst 2019 15:23 WIB
Aktivis demokrasi Hong Kong Joshua Wong kembali ditangkap
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 275213
Dirawat 61813
Meninggal 10386
Sembuh 203014

Aktivis demokrasi Hong Kong, Joshua Wong, ditangkap pada Jumat (30/8). Ini penangkapan kedua bagi Joshua, setelah ditahan lima minggu dalam kasus penghinaan pengadilan dan dibebaskan pada Juni lalu. 

Joshua dikenal sebagai salah satu tokoh sentral Gerakan Payung pro-demokrasi pada 2014.

Demosisto, kelompok pro-demokrasi yang didirikan Joshua, dalam pernyataan resminya menyampaikan penangkapan terjadi sekitar pukul 07.30 waktu setempat. Pria berusia 22 tahun itu ditangkap saat sedang berjalan ke stasiun MTR Horizons Selatan.

"Dia dengan paksa didorong ke dalam mobil pribadi dan dikawal ke markas polisi di Wan Chai," demikian bunyi pernyataan Demosisto.

Selain Joshua, sejumlah tokoh prodemokrasi Hong Kong juga ditangkap. Anggota Demosisto Agnes Chow, ditangkap di dalam rumahnya. Hingga kini belum jelas tuduhan apa yang ditujukan kepadanya.

Pendiri Partai Nasional Hong Kong, yang dibubarkan pemerintah pada September 2018, Andy Chan, juga ditangkap. Melalui unggahan di Facebook pada Kamis (29/8) malam, Andy menyatakan dirinya ditangkap saat sedang berada di Bandara Internasional Hong Kong.

Aksi protes di Hong Kong awalnya dipicu oleh RUU ekstradisi yang kini sudah ditangguhkan. Di bawah RUU itu, seseorang yang ditetapkan sebagai tersangka dapat diekstradisi untuk diadili di pengadilan China daratan yang dikontrol Partai Komunis.

Sejak itu, demonstrasi telah berkembang menjadi seruan lebih luas untuk reformasi demokrasi di bawah formula "satu negara, dua sistem", yang menjamin independensi Hong Kong sejak 1997.

Sponsored

China menuduh kekuatan asing, khususnya Amerika Serikat dan Inggris, sebagai pihak yang mengobarkan api kerusuhan di Hong Kong. Beijing berulang kali memperingatkan agar pihak asing tidak ikut campur dalam urusan internal mereka.

Setidaknya 900 orang telah ditangkap sejak demonstrasi pecah pada Juni.

Tidak akan tinggal diam

Editorial yang terbit di surat kabar China Daily pada Jumat (30/8), menyatakan bahwa pasukan Tentara Pembabasan Rakyat (PLA) yang ditempatkan di Hong Kong tidak berada di sana untuk tujuan simbolis. PLA tidak akan tinggal diam jika situasi di kota itu memburuk.

"Jika situasi memburuk dengan ancaman kekerasan dan keresahan, pasukan PLA tidak memiliki alasan untuk duduk diam saja," demikian bunyi editorial tersebut. "Garnisun PLA di Hong Kong bukan hanya simbol kedaulatan China atas kota itu."

Pada Kamis, militer China melakukan rotasi pasukan baru PLA ke garnisunnya di Hong Kong. Kantor berita Xinhua menyebut langkah tersebut sebagai rotasi rutin yang normal dilakukan.

PLA ditempatkan di Hong Kong sejak kota itu dikembalikan Inggris ke China pada 1997. Sejumlah analis memperkirakan jumlah pasukan yang berada di garnisun berkisar antara 8.000 hingga 10.000 personel.

Setelah rotasi pasukan tersebut, aksi massa yang direncanakan pada Sabtu (31/8) di Hong Kong telah dibatalkan. Unjuk rasa bertujuan untuk memperingati lima tahun Gerakan Payung.

Sebelumnya, pihak penyelenggara, Front Hak Asasi Manusia Sipil (CHRF), mengajukan banding setelah polisi menolak izin mereka untuk menggelar protes tersebut. Perwakilan CHRF Bonnie Leung mengatakan, banding mereka telah ditolak.

"Prinsip utama kami adalah untuk melindungi semua peserta demonstrasi dan memastikan bahwa tidak ada yang menanggung konsekuensi hukum, karena berpartisipasi dalam protes yang kami selenggarakan," tutur Bonnie.

Pada Kamis, pemimpin CHRF Jimmy Sham, diserang oleh dua pria bersenjata pisau dan tongkat bisbol. 

"Pelecehan yang kerap menimpa aktivis pro-demokrasi dikombinasikan dengan larangan polisi untuk menggelar unjuk rasa, telah menciptakan iklim penuh ketakutan bagi demonstran yang ingin melakukan aksi damai," kata Amnesty International dalam pernyataannya. (Reuters dan The Guardian)

Berita Lainnya
×
img