sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Amerika Serikat mulai proses keluar dari Perjanjian Paris

Setelah keluar, AS akan menjadi satu-satunya negara yang berada di luar Perjanjian Paris.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 05 Nov 2019 08:50 WIB
Amerika Serikat mulai proses keluar dari Perjanjian Paris

Pemerintahan Donald Trump pada Senin (4/11) mengatakan pihaknya telah mengajukan dokumen untuk menarik diri dari Perjanjian Paris. Itu merupakan langkah formal pertama dalam proses satu tahun untuk keluar dari pakta global yang bertujuan memerangi perubahan iklim.

Langkah ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas oleh Trump untuk mengurangi birokrasi pada industri Amerika Serikat. Negeri Paman Sam tercatat sebagai penghasil gas rumah kaca terbesar dalam sejarah serta produsen minyak dan gas terkemuka.

Setelah keluar, AS akan menjadi satu-satunya negara yang berada di luar Perjanjian Paris.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengonfirmasi langkah tersebut lewat twitnya pada Senin. 

"Hari ini kita memulai proses penarikan resmi dari Perjanjian Paris. AS bangga dengan catatan kami sebagai pemimpin dunia dalam mengurangi seluruh emisi, memelihara ketahanan, menumbuhkan ekonomi dan memastikan energi bagi warga. Kami adalah model yang realistis dan pragmatis," twit Pompeo.

Surat yang dikirim Kementerian Luar Negeri AS ke Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menandai dimulainya proses yang akan berakhir satu hari setelah Pilpres AS pada 2020.

Seluruh bakal calon presiden dari Partai Demokrat yang ingin menggulingkan Trump telah berjanji untuk membawa AS kembali ke Perjanjian Paris jika mereka menang.

Sponsored

Keterlibatan AS dalam Perjanjian Paris dilakukan di bawah pemerintahan Barack Obama, menjanjikan pengurangan 26-28% emisi gas rumah kaca pada 2025 dari levelnya pada 2005.

Trump sejak kampanye dalam pemilu 2016 berjanji untuk menarik AS dari Perjanjian Paris dengan mengatakan itu akan merugikan ekonomi AS.

Presiden ke-45 AS itu telah melepaskan sejumlah peraturan yang dibuat pada era pemerintahan Obama yang membatasi emisi, termasuk dari industri listrik, mobil dan sektor pengeboran minyak dan gas. Sebuah laporan tahun ini oleh jaksa agung negara bagian menyebutkan bahwa kemunduran dapat meningkatkan emisi karbon AS lebih dari 200 juta per tahun pada 2025.

Menteri Lingkungan Hidup Spanyol Teresa Ribera mentwit bahwa penarikan diri AS memberi pukulan bagi Perjanjian Paris. Spanyol akan menjadi tuan rumah putaran negosiasi iklim berikutnya menggantikan Chile pada awal Desember.

Kelompok lingkungan juga mengecam langkah Trump.

Sebuah laporan oleh Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim PBB mengatakan, tahun lalu dunia memiliki sedikitnya lebih dari satu dekade untuk secara cepat mengurangi emisi dari penggunaan bahan bakar fosil demi menjaga suhu global dari kenaikan lebih dari 1,5 derajat Celcius.

"Di luar ambang batas pemanasan itu, planet ini menjadi lebih mungkin untuk melihat dampak perubahan iklim yang dramatis. Mulai dari kenaikan permukaan laut hingga badai, kekeringan, banjir dan gelombang panas yang lebih sering," menurut laporan itu.

Dengan tidak adanya kepemimpinan federal AS tentang perubahan iklim, beberapa negara bagian dan pemerintah kota telah berupaya menerapkan peraturan mereka sendiri yang membatasi emisi dan mempromosikan sumber energi terbarukan seperti matahari dan angin.

Hingga keluar secara resmi, AS akan terus berpartisipasi dalam negosiasi mengenai aspek teknis perjanjian, yang diwakili oleh pejabat karier Kementerian Luar Negeri.

Sumber : Reuters