sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Armenia: Gereja bersejarah kami dirudal Azerbaijan

Ratusan orang dilaporkan tewas akibat pertempuran Armenia-Azerbaijan dalam dua pekan terakhir di Nagorno-Karabakh.

Angelin Putri Syah
Angelin Putri Syah Jumat, 09 Okt 2020 13:26 WIB
Armenia: Gereja bersejarah kami dirudal Azerbaijan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 410.088
Dirawat 58.418
Meninggal 13.869
Sembuh 337.801

Armenia menuduh Azerbaijan menembaki gereja bersejarah di wilayah Nagorno-Karabakh, tempat pertempuran sengit selama hampir dua minggu telah menewaskan ratusan orang, pada Kamis (8/10). Kubah Katedral Ghazanchetsots, sebuah situs ikonik jemaah Gereja Apostolik Armenia, ditembaki rudal sehingga merusak bagian dalamnya.

Laporan media mengatakan, terdapat beberapa anak di dalam katedral saat penembakan. Meskipun tidak terluka, mereka menderita stres setelah serangan.

Kementerian Luar Negeri Armenia mengecam penembakan itu sebagai "kejahatan yang mengerikan dan tantangan bagi umat manusia yang beradab." Juga memperingatkan Azerbaijan, bahwa menargetkan situs-situs keagamaan tak ubahnya kejahatan perang.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Azerbaijan membantah menyerang Katedral Ghazanchetsots dengan mengatakan, tentaranya "tidak menargetkan bangunan bersejarah, budaya, dan terutama bangunan dan monumen keagamaan."

Katedral Ghazanchetsots, yang dibangun pada abad ke-19, mengalami kerusakan signifikan selama kekerasan etnis pada 1920. Gereja sempat direhabilitasi setelah pertempuran Armenia dan Azerbaijan pada 1990-an dan merupakan bagian dari Gereja Kerasulan Armenia.

Menyusul serangkaian panggilan dengan para pemimpin Armenia dan Azerbaijan, Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada Kamis (8/10) malam, mengusulkan gencatan senjata untuk memungkinkan para pihak bertukar tahanan dan mengumpulkan mayat.

Dia mengatakan, menteri luar negeri Armenia dan Azerbaijan diundang ke Moskow, Jumat (9/10), untuk berkonsultasi guna membahas gencatan senjata. Namun, pejabat kedua negara tidak segera mengomentari proposal Rusia tersebut.

Pertempuran dengan artileri berat, pesawat tempur, dan pesawat nirawak (drone) terus berlanjut meskipun banyak seruan internasional untuk gencatan senjata. Kedua pihak saling menuduh memperluas permusuhan di luar Nagorno-Karabakh dan menargetkan warga sipil.

Sponsored

Untuk gencatan senjata, Azerbaijan meminta Armenia menarik tentaranya. Adapun Armenia menuduh Turki terlibat dalam konflik dan mengirim tentara bayaran Suriah untuk berperang di pihak Azerbaijan. Turki secara terbuka mendukung Azerbaijan dalam konflik, tetapi membantah mengirim pasukan.

Menurut militer Nagorno-Karabakh, 350 prajuritnya telah tewas sejak 27 September, sedangkan Azerbaijan belum memberikan perincian tentang kekalahan militernya. Meski demikian, puluhan sipil kedua negara dilaporkan tewas.

Rusia, Amerika Serikat, dan Prancis bersama-sama memimpin Minsk Group, yang didirikan pada 1990-an di bawah naungan Organisasi Keamanan dan Kerja Sama di Eropa untuk menengahi konflik. Mereka berulang kali menyerukan penghentian permusuhan dan memulai pembicaraan damai.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengkritik kelompok Minsk karena gagal menyelesaikan masalah tersebut. Dia menegaskan kembali dukungan penuh negaranya untuk Azerbaijan, yang katanya bertekad untuk merebut kembali wilayahnya.

"Kelompok Minsk hingga saat ini belum menunjukkan kemauan untuk menyelesaikan masalah ini. Solusi untuk masalah ini–yang telah berubah menjadi gangren bisa dikatakan karena sikap Armenia yang tidak kenal kompromi dan manja selama hampir bertahun-tahun–adalah untuk mengakhiri pendudukan," kata dalam sambutannya melalui video di forum kerja sama ekonomi di Istanbul.

Dia menambahkan, Truki mendukung sepenuh hati perjuangan Azerbaijan untuk merebut kembali wilayahnya. (AP)

Berita Lainnya