sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Australia tolak jadi tuan rumah bagi rudal AS

Meningkatnya perselisihan AS-China disebut membuat Australia jadi canggung.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 05 Agst 2019 16:46 WIB
Australia tolak jadi tuan rumah bagi rudal AS
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 72347
Dirawat 35349
Meninggal 3469
Sembuh 33529

Rudal jarak menengah Amerika Serikat tidak akan dikerahkan di Australia. Hal tersebut ditegaskan oleh PM Scott Morrison pada Senin (5/8) setelah AS mengungkapkan ambisinya untuk menempatkan rudal di kawasan Asia Pasifik.

Para pejabat kedua pemerintah mengadakan pembicaraan di Sydney selama akhir pekan dan pertemuan itu di akhiri dengan pernyataan bersama. Kedua sekutu berjanji untuk memperkuat perlawanan terhadap kegiatan-kegiatan China di Asia Pasifik.

Selama pembicaraan tersebut, Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengungkap harapannya untuk menempatkan rudal di kawasan Asia Pasifik dalam beberapa bulan mendatang. Pernyataan Esper muncul setelah AS resmi menarik diri dari perjanjian pembatasan senjata nuklir jarak menengah dengan Rusia (INF) pekan lalu.

Pernyataan itu kemudian memicu spekulasi bahwa Australia telah diminta menjadi tuan rumah bagi rudal AS. Morrison membantah bahwa permintaan semacam itu telah dibuat. Dan dia juga mengatakan Australia akan menolaknya jika memang ada di masa depan.

"Itu tidak diminta kepada kami, kami tidak mempertimbangkannya," tegas PM Morrison.

Meningkatnya ketegangan antara Washington dan Beijing baru-baru ini, baik di dalam isu perdagangan, hak navigasi di Laut China Selatan dan Taiwan, telah menempatkan Australia pada posisi yang canggung. Di satu sisi, AS adalah sekutu terbesar Australia, namun di lain sisi China adalah pasar ekspor terbesarnya.

Beijing, pekan lalu menggambarkan upaya Australia untuk meningkatkan hubungan bilateral tidak memuaskan.

Australia disebut khawatir bahwa China menggunakan bantuan asing untuk mengamankan pengaruh yang lebih besar atas negara-negara kecil di kawasan Pasifik yang mengendalikan lautan yang kaya sumber daya.

Sponsored

Negeri Kanguru, yang secara tradisional merupakan kekuatan utama di Pasifik Selatan, telah menjanjikan hingga 3 miliar dolar Australia dalam bentuk hibah dan pinjaman murah untuk melawan apa yang digambarkan Washington sebagai diplomasi pinjaman cepat dan mudah China atau payday loan diplomacy.

Upaya lain AS membendung pengaruh China

Menlu AS Mike Pompeo pada Senin mengatakan bahwa negosiasi telah dimulai dengan tiga negara di Kepulauan Pasifik untuk memperbarui perjanjian keamanan nasional yang akan membantu Washington melawan pengaruh China yang tumbuh di wilayah tersebut.

Menurut ketentuan perjanjian, yang dikenal sebagai Compact of Free Association, militer AS memiliki akses eksklusif ke wilayah udara dan perairan teritorial Negara Federasi Mikronesia, Kepulauan Marshall dan Palau. Sebagai gantinya, pulau-pulau kecil menerima bantuan keuangan.

"Hari ini, saya di sini untuk mengonfirmasi, AS akan membantu Anda melindungi kedaulatan, keamanan dan hak Anda untuk hidup dalam kebebasan dan perdamaian," kata Pompeo kepada wartawan di Negara Bagian Pohnpei, salah satu dari empat anggota Negara Federasi Mikronesia. "Saya senang mengumumkan bahwa AS telah memulai negosiasi untuk memperluas perjanjian kami ... mereka mempertahankan demokrasi dalam menghadapi upaya China untuk 'menggambar ulang' Pasifik."

Pompeo, yang menjadi Menlu AS pertama yang mengunjungi Mikronesia, mengumumkan hal tersebut setelah bertemu dengan para pemimpin Mikronesia, Kepulauan Marshall dan Palau.

Tiga negara kecil di Pasifik telah memperoleh signifikansi strategis yang lebih besar dalam beberapa tahun terakhir menyusul upaya oleh China untuk memperluas pengaruhnya.

Sebagai fondasi untuk negosiasi, pada Mei, Donald Trump menjadi tuan rumah bagi para pemimpin Negara Federasi Mikronesia, Kepulauan Marshall dan Palau. Kunjungan kenegaraan oleh negara-negara kecil seperti itu terbilang jarang terjadi.

Compact of Free Association akan berakhir pada 2024, dan setiap kesalahan kecil dinilai dapat menguntungkan China.

China telah menjadi pemberi pinjaman bilateral terbesar di kawasan Pasifik selama dekade terakhir, meskipun sekutu-sekutu AS termasuk Jepang, Australia dan Selandia Baru tetap memelihara, bahkan dalam beberapa kasus baru-baru ini meningkatkan, program bantuan mereka yang sudah signifikan bagi ekonomi Kepulauan Pasifik.

Sumber : Reuters

Berita Lainnya