sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Bocah migran meninggal dalam tahanan AS pada hari Natal 2018

Kepergian Felipe Gomez Alonzo menandai kematian kedua bocah migran dalam tahanan Amerika Serikat.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Rabu, 26 Des 2018 16:07 WIB
Bocah migran meninggal dalam tahanan AS pada hari Natal 2018
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 116871
Dirawat 37530
Meninggal 5452
Sembuh 73889

Otoritas imigrasi Amerika Serikat mengungkapkan bahwa seorang bocah asal Guatemala meninggal dalam tahanan pemerintah AS di New Mexico bertepatan pada perayaan Natal 2018. 

Kepergian bocah lelaki berusia delapan tahun ini menandai kematian kedua bocah migran dalam bulan ini.

Kematian ini terjadi saat keamanan di perbatasan tengah menjadi sorotan. Donald Trump dan Senat tidak mencapai kesepakatan terkait pendanaan pembangunan dinding perbatasan hingga memicu terjadinya government shutdown atau penutupan pemerintahan.

Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) menyatakan, bocah yang diidentifikasi oleh Konsul Guatemala di Pheonix sebagai Felipe Gomez Alonzo menunjukkan gejala tidak sehat pada Senin (24/12). Pada hari itu juga sang ayah membawanya ke rumah sakit di Alamogordo, New Mexico, di mana sang bocah didiagnosis menderita pilek dan demam.

Felipe diberi obat amoksisilin dan ibuprofen. Dia kemudian dibolehkan pulang pada Senin sore setelah diperiksa selama 90 menit.

Bocah itu kembali dirawat di rumah sakit pada Senin malam akibat mual dan muntah. Menurut keterangan CBP, Felipe mengembuskan napas terakhir di rumah sakit tepat setelah tengah malam atau pada Selasa (25/12) dini hari.

CBP belum mengonfirmasi kapan dan di mana ayah dan anak lelakinya itu memasuki AS serta berapa lama waktu penahanan mereka. Dalam pernyataannya, CBP hanya menerangkan bahwa Felipe "sebelumnya telah ditahan" oleh agen perbatasan.

Penyebab kematian bocah itu, menurut CBP, belum dipastikan. CBP menuturkan telah mengabarkan inspektur jenderal Kementerian Keamanan Dalam Negeri (DHS) dan pemerintah Guatemala terkait kepergian anak laki-laki tersebut.

Sponsored

Sebelumnya, seorang gadis Guatemala berusia tujuh tahun meninggal pada awal bulan Desember setelah ditahan oleh agen perbatasan di New Mexico. Jasad gadis bernama Jakelin Caal itu dikembalikan ke keluarganya di desa terpencil di Guatemala pada Senin untuk dimakamkan pada hari berikutnya.

Gedung Putih merujuk pertanyaan terkait kasus terbaru ini kepada DHS sebagai agen induk CBP. Petugas CBP dan Patroli Perbatasan tetap bekerja meski adanya penutupan pemerintahan.

Menurut Kementerian Luar Negeri Guatemala, ayah dan anak itu memasuki AS dari El Paso, Texas, pada 18 Desember. Mereka kemudian dibawa ke stasiun Patroli Perbatasan di Alamogordo pada Minggu (23/12). Alamogordo sendiri berjarak sekitar 144 km dari El Paso.

Konsul Guatemala di Pheonix Oscar Padilla mengungkapkan bahwa melalui wawancara via telepon, ayah Felipe memberi tahu kepadanya bahwa keduanya melakukan perjalanan dari rumah mereka di Nenton, sebuah desa sekitar 450 km dari Guatemala City. Keduanya berencana pergi ke Johnson City, Tennessee.

Oleh Konsul Guatemala ayah Felipe diidentifikasi sebagai Agustin Gomez yang berusia 47 tahun. Yang bersangkutan kini tetap berada dalam tahanan Patroli Perbatasan AS.

CBP biasanya menahan migran tidak lebih dari beberapa hari ketika mereka melintasi perbatasan. Penahanan sementara ini mereka lakukan sebelum menyerahkan para migran ke Penegakan Bea Cukai dan Imigrasi AS (ICE) untuk penahanan jangka panjang.

Pedoman agensi ini menyatakan migran umumnya tidak boleh ditahan selama lebih dari 72 jam di fasilitas penahanan CBP, yang umumnya lebih kecil dan memiliki layanan lebih sedikit dibandingkan dengan pusat penahanan ICE.

Orang tua dengan anak-anaknya pun hampir selalu dilepaskan dengan cepat akibat keterbatasan ruang di fasilitas penahanan keluarga ICE.

Pada Selasa, seorang juru bicara CBP tidak menanggapi pertanyaan terkait penjelasan dari kementerian. Sama halnya, rumah sakit tempat Felipe dirawat, the Gerald Champion Medical Centre, juga menolak berkomentar karena adanya peraturan privasi pasien.

Meski begitu, CBP berjanji akan melakukan "peninjauan yang independen dan menyeluruh tentang situasi ini."

Kemlu Guatemala juga menyerukan penyelidikan yang "sesuai dengan proses hukum."

Anggota Kongres dari Partai Demokrat dan pendukung imigrasi mengkritik tajam penanganan CBP atas kematian Jakelin. Mereka mempertanyakan apakah agen perbatasan dapat mencegah kejadian itu dengan melihat gejala penyakit atau menyerukan evakuasi ambulans udara lebih awal.

CBP menyebut, perlu beberapa jam untuk mengangkut Jakelin dan ayahnya dari fasilitas Patroli Perbatasan terpencil ke stasiun perbatasan yang lebih besar di mana saat diukur, suhu bocah itu sudah mencapai 40,9 derajat Celsius. Petugas darurat sampai dua kali berusaha menghidupkan Jakelin kembali.

Akhirnya Jakelin diterbangkan ke rumah sakit di El Paso, di mana dia meninggal pada hari berikutnya.

Sejumlah besar keluarga migran asal Guatemala tiba dalam beberapa pekan terakhir di New Mexico, seringkali mereka berakhir di daerah gurun yang terpencil dan berbahaya. Layaknya Jakelin dan ayahnya yang sedang bersama 161 migran lainnya ketika mereka ditangkap di Antelope Wells, sekitar 370 km dari Alamogordo.

Pelapor khusus PBB terkait hak asasi migran Felipe Gonzalez pada Senin mengatakan bahwa penahanan pemerintah AS terhadap anak-anak karena status imigrasi mereka merupakan sebuah pelanggaran hukum internasional. (The Telegraph)

Berita Lainnya