Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan bahwa Washington berpotensi meninjau kembali hubungan dan nilai aliansi dengan NATO setelah konflik dengan Iran berakhir.
Pernyataan tersebut disampaikan Rubio dalam wawancara dengan FOX News pada Selasa (1/4) seperti dilansir dari Anadolu Ajansi, di tengah meningkatnya kekecewaan Amerika Serikat terhadap sikap sejumlah sekutu yang dinilai tidak memberikan dukungan penuh dalam operasi militer.
“Setelah konflik ini selesai, kita harus meninjau kembali hubungan tersebut. Kita harus menilai kembali nilai NATO dan aliansi itu bagi negara kita,” ujar Rubio.
Ia menambahkan bahwa keputusan akhir terkait arah hubungan tersebut berada di tangan Presiden Amerika Serikat.
“Pada akhirnya, itu adalah keputusan yang harus diambil oleh presiden,” lanjutnya.
Rubio secara terbuka mengkritik negara-negara anggota NATO yang menolak permintaan Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan militer mereka dalam mendukung operasi terkait perang Iran.
“Kami tidak meminta mereka melakukan serangan udara. Ketika kami membutuhkan mereka untuk mengizinkan penggunaan pangkalan militer mereka, jawabannya adalah ‘Tidak.’ Lalu untuk apa kami berada di NATO?” tegas Rubio
Menurut Rubio, selama ini NATO telah memberikan keuntungan strategis bagi Amerika Serikat, terutama dalam memproyeksikan kekuatan militer melalui keberadaan pangkalan di kawasan Eropa. Namun, ia mengingatkan bahwa aliansi tersebut berisiko menjadi hubungan yang tidak seimbang. Ia memperingatkan bahwa aliansi tersebut berpotensi menjadi “hubungan satu arah”.
Ia mempertanyakan keberadaan pasukan Amerika Serikat di wilayah sekutu jika pada saat dibutuhkan justru tidak dapat memanfaatkan fasilitas militer yang tersedia.
“Mengapa kita memiliki semua pasukan Amerika yang ditempatkan di kawasan tersebut jika pada saat kita membutuhkan, kita tidak diizinkan menggunakan pangkalan itu?” ungkap Rubio.
Pernyataan Rubio muncul setelah sejumlah negara Eropa membatasi atau menolak permintaan Amerika Serikat terkait penggunaan pangkalan militer dan wilayah udara dalam operasi yang berkaitan dengan konflik Iran. Penolakan tersebut didasarkan pada kekhawatiran atas legalitas perang serta minimnya konsultasi dalam kerangka NATO.
Italia dilaporkan menolak permintaan pendaratan pesawat militer AS di pangkalan di Sisilia, sementara Spanyol tidak memberikan izin penggunaan pangkalan maupun wilayah udaranya. Sejumlah negara lain seperti Inggris, Prancis, dan Jerman memilih membatasi keterlibatan mereka hanya pada dukungan defensif serta terus mendorong de-eskalasi konflik.