sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Didikan ISIS, ABG fan Chelsea kangen PlayStation dan McD

Omar datang ke Suriah bersama keluarganya saat Ia berusia delapan tahun. Kini ia rindu kehidupan normal di London.

Fitra Iskandar
Fitra Iskandar Jumat, 02 Jul 2021 07:27 WIB
Didikan ISIS,  ABG fan Chelsea kangen PlayStation dan McD

Omar datang ke Suriah saat usianya baru delapan tahun. Saat ini dia ada di penjara anak-anak di Suriah Utara. Omar sudah kangen makanan cepat saji, PlayStation dan Xbox. 

Pihak berwenang Suriah mengklaim Omar yang berusia tiga belas tahun, sebelumnya hidup di bawah kelompok ISIS. Ia dan keluarganya berasal dari London yang direkrut untuk berjuang bersama ISIS di Suriah.

Omar mengatakan kepada jurnalis Andrew Drury bahwa keluarganya membawanya ke Suriah ketika dia berusia delapan tahun - tetapi mengklaim bahwa ibu, ayah, adik perempuan dan dua saudara laki-lakinya telah meninggal.

Begitu dia tiba di Suriah, Omar mengatakan dia diberi pistol. Namun dia mengaku tidak pernah menggunakannya meskipun anggota ISIS lainnya memintanya.  “Hari pertama saya pergi ke sekolah mereka mengajari saya cara menggunakan senjata," kata Omar.

Omar adalah salah satu dari puluhan anak-anak ISIS yang direkrut ke dalam 'Anak Kilafah' untuk memajukan ideologi bengkok mereka. BBC membandingkan 'Anak Kilafah' seperti dengan Pemuda Hitler.

Menurut Omar, sebagian besar keluarga meninggal di Baghouz, kota Suriah yang dihancurkan oleh serangan udara di hari-hari terakhir kekhalifahan ISIS.

Tapi Omar menambahkan ingatannya telah terpengaruh oleh pertumpahan darah yang dia saksikan. “Saya tidak ingat (berapa umur saya ketika saya datang ke sini), di Baghouz ada banyak serangan udara, dan hal semacam ini, dan saya lupa banyak hal,” katanya.

Remaja itu bahkan mengatakan dia tidak dapat mengingat hari ulang tahunnya sendiri. “Di London ketika saya merayakan ulang tahun saya, kami makan kue dan semacamnya. Tapi di sini kita tidak bisa berbuat apa-apa," katanya. Mengingat ibunya, dia mengatakan "tentu saja" dia merindukannya.

Sponsored

“Dia terbunuh di Baghouz, saya tidak pernah melihatnya. Banyak orang mengatakan kepada saya bahwa dia terbunuh. Saya memiliki dua saudara perempuan, satu lebih besar dari saya, dan satu lebih kecil dari saya, dan saya memiliki dua saudara laki-laki."

Dia menambahkan kakak laki-lakinya terbunuh di al-Shaddadi dan adik laki-lakinya meninggal bersama ibu dan saudara perempuannya. Saudara perempuannya itu sempat menikah dengan seorang pria yang merupakan pejuang ISIS.

“Dia terbunuh dan kemudian orang-orang mengatakan kepada saya bahwa saya harus keluar dari Baghouz karena itu bukan tempat yang baik untuk saya,” remaja itu menjelaskan.

“Di Baghouz, saya melihat satu orang bunuh diri (dengan meledakkan dirinya). Saya melihat penembak jitu, ada banyak hal semacam ini.”

Sekarang, Omar menghabiskan sembilan jam setiap hari dikurung di Penjara Pusat Anak Laki-Laki Hori di Suriah Utara, yang dijalankan oleh pasukan Kurdi. Tapi dia mengenang Inggris, video game, dan makanan cepat saji. 

“Saya ingin pergi (kembali ke) London, London adalah yang terbaik. Saya memiliki PlayStation dan Xbox di London. Saya suka Chelsea. Biasanya, saya suka Xbox, dan hal-hal semacam ini, tetapi di sini kami tidak dapat melakukan apa pun karena ini adalah penjara."

Menggambarkan rutinitas hariannya, dia bilang dia bangun jam 6 pagi untuk berolahraga. Kemudian dia sarapan dan makan siang, sebelum menghabiskan sorenya mengobrol dengan teman-temannya di balik jeruji besi. Dia memperkirakan dia sudah tinggal di penjara selama 18 bulan.

Sebelum dia dipenjara, Omar mengatakan dia tinggal di Raqqa, di mana dia memiliki rumah, internet, dan mobil. Di sana pun dia merindukan makanan cepat saji seperti McDonald's.

Berita Lainnya