sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Joma Sison, PKI, dan abadinya komunisme di Filipina

Pada dekade 1960-an, pentolan komunis Filipina Jose Maria Sison sempat belajar di Indonesia dan berteman dengan kader-kader PKI.

Christian D Simbolon
Christian D Simbolon Minggu, 04 Apr 2021 11:52 WIB
Joma Sison, PKI, dan abadinya komunisme di Filipina

Jauh sebelum mengorganisasi aksi-aksi protes mahasiswa di University of the Philippines (UP) pada dekade 1960-an, Jose Maria Sison atau yang akrab disapa Joma sudah diyakini bakal jadi "orang besar". Sebagai bocah dari keluarga kaya, hidup Joma sudah diatur oleh orang tuanya. 

Ayah Joma, seorang tuan tanah di Cabugao, Ilocos Sur, Filipina, punya gambaran mengenai masa depan sang bocah: Joma bakal belajar jurnalisme, masuk ke sekolah hukum, berangkat ke Harvard untuk studi S-2, pulang dan menikahi gadis dari keluarga kaya, dan masuk ke dunia politik. 

Joma, sebagaimana prediksi sang ayah, bakal jadi trapo. Itu sebutan bagi politikus pragmatis yang pandai beradaptasi dengan realitas dan situasi politik di Filipina yang sulit ditebak. Jika beruntung, Joma mungkin saja bisa jadi orang nomor 1 di negeri itu. 

Namun, nasib berkata lain. Lahir pada 8 Februari 1939, Joma ternyata adalah seorang pemberontak sejak kecil. Pada usia 12 tahun, ketika bersekolah di Jesuit Ateneo de Manila di Manila, Joma bahkan memimpin rekan-rekannya untuk protes terhadap aturan guru-guru Jesuit. 

"Meskipun menyandang status sebagai murid kehormatan, Joma dikeluarkan dari sekolah itu pada tahun kedua," tulis Ninotchka Rosca dalam Jose Maria Sison: At Home in the World—Portrait of a Revolutionary yang terbit pada 2004. 

Oleh sang ayah, Joma kemudian dipindahkan ke Letran, sekolah yang dikelola biarawan dari orde Dominika di Ateneo. Di sekolah itu, Joma mulai berkenalan dengan tulisan-tulisan Marx dan Engels dalam buku-buku yang justru bergenre antikomunis.

Pada masa itu, Joma juga sering mendengar cerita kekaguman sang ayah terhadap Don Claro M. Recto, seorang senator yang kerap mengkritik hubungan antara Filipina dan Amerika Serikat (AS). Ia juga menyerap cerita-cerita mengenai pemberontakan kelompok komunis Huk dari tukang cukurnya. 

Huk adalah kependekan dari Hukbalahap atau Hukbo ng Bayan Laban sa Hapon. Pada era pendudukan Jepang tahun 1941, kaum Huk membentuk pasukan pemberontak yang berpusat di desa-desa terpencil di Luzon, pulau terbesar di Filipina. 

Sponsored

Pada September 1942, tercatat ada 3.000 geriliyawan Huk. Empat tahun berselang, angkanya mencapai sekitar 10.000. Namun, usai Jepang kalah dalam Perang Dunia ke-2, kaum Huk dipersekusi. Diinstruksikan oleh AS selaku pemenang perang, kaum Huk dilucuti dan dilabeli komunis oleh pemerintah Filipina. 

Selain kaum Huk, Partido Komunista ng Pilipinas (PKP) juga jadi sasaran persekusi. Didirikan pada 7 November 1930 oleh pemimpin kaum buruh Crisanto Evangelista, PKP sempat berniat berpartisipasi dalam politik Filipina. Namun, AS "melarangnya".

Kelompok dagang, asosiasi petani, dan organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan PKP kemudian diburu. Orang-orang PKP ditangkap. Pada 1950, Jesus Lava, pemimpin PKP ketika itu, menyerukan perang terbuka untuk membebaskan Filipina dari kuasa AS. 

Tanpa kekuatan memadai, perang pembebasan itu gagal. Pada 1955, Jesus Lava mengonversi pasukan pembebasan yang ia bentuk menjadi sebuah brigade organisasional. Di tengah tekanan, Lava kemudian mengeluarkan "single-file policy" pada 1957. Isinya menginstruksikan agar kader-kader PKP sebisa mungkin menghindari pertemuan tatap muka. 

Menurut Ninotschka, keputusan-keputusan blunder itu bikin kekuatan PKP tergerus. Pada pengujung 1960, PKP dianggap tak lagi bertaji. "Reputasinya (PKP) hanya ada di ingatan orang-orang yang sudah tua saja," tulis dia. 

Dengan latar belakang seperti itu, pada 1959, tepat ketika genap berusia 20 tahun, Joma lulus dari University of the Philippines (UP). Seperti rencana sang ayah, Joma menyandang gelar sarjana Bahasa Inggris dengan pengkhususan pada jurnalisme dan penulisan kreatif. 

Selagi menempuh pendidikan S-2 di universitas itu, Joma juga didapuk menjadi salah satu pengajar. Selain jadi dosen dan kuliah, keseharian Joma diisi dengan membaca buku-buku karya orang-orang kiri. Joma juga rutin mengorganisasi kelompok-kelompok belajar informal. 

Pada 1959, dia membentuk organisasinya yang pertama, The Student Cultural Association of the Philippines (SCAUP). Kelompok itu merupakan parodi dari The UP Student Catholic Action (UPSCA), "mata-mata" gereja Katolik Filipina di kampus. 

Ketika histeria antikomunisme sedang intens di Filipina pada 1961, Congressional Committee on Anti-Filipino Activities (CAFA) mewacanakan "perburuan penyihir" ke kampus-kampus. Salah satu targetnya ialah fakultas filsafat yang dianggap sebagai tempat bersarangnya kaum ateis dan komunis. 

Di bawah komando Joma, SCAUP kemudian membangun aliansi dari berbagai organisasi kampus untuk menghentikan rapat dengar pendapat di kongres. Sekitar 5.000 mahasiswa dan pelajar hadir dalam aksi unjuk rasa di depan kongres. Rapat itu pun batal. 

Polisi Filipina memburu pelajar dan mahasiswa yang terlibat dalam salah satu aksi demonstrasi menentang rezim Ferdinand Marcos pada dekade 1970-an. /Foto dok The First Quarter Storm Library

Belajar di Jakarta, berteman dengan kader PKI

Pamor SCAUP melambung. Di kampus, Joma kian rajin mengkritik sistem pendidikan yang terlalu pro-Katolik. Supaya imbang, ia menuntut agar buku-buku karya penulis progresif juga dijadikan bahan ajar. 

Pihak kampus yang gerah dengan kritik Joma tidak lagi memperpanjang kontrak mengajarnya. Bagi Joma, pemecatan itu kabar yang teramat buruk. Selain tengah menuntaskan tesis, saat itu ia juga baru saja menikahi Julieta de Lima, rekan sesama akademikus yang bekerja sebagai juru katalog di kampus. 

Dilabeli sebagai provokator, Joma pun kesulitan mendapat pekerjaan baru. Melanjutkan kuliah ke AS sebagaimana cita-cita sang ayah pun tak mungkin lagi dijalani setelah Kedutaan Besar AS di Manila memasukan nama Joma ke dalam daftar hitam.

Hanya Asosiasi Serikat Buruh Nasional yang mau menerima Joma. Saat mengerjakan tugas-tugas dari asosiasi, Joma dianugerahi beasiswa untuk belajar bahasa dan literatur di Indonesia. Pada pengujung 1961, Joma mengepak koper dan berangkat ke Jakarta. 

Di Indonesia, Joma tinggal selama beberapa bulan. Selain belajar bahasa, Joma juga dikenalkan oleh Ilyas Bakri kepada tokoh-tokoh organisasi pelajar, kelompok buruh, dan kader-kader Partai Komunis Indonesia (PKI). Ilyas adalah teman Joma saat kuliah di UP. Saat Joma tiba di Jakarta, Ilyas masih menyelesaikan gelar master di UP. 

Ketika itu, Ilyas berpangkat kapten di militer Indonesia. Ia lahir dari keluarga komunis di Sumatera. Kelak, sepulang dari Filipina, Ilyas ditangkap dan dibui selama 10 tahun tanpa persidangan. Ilyas dicurigai rezim Soeharto lantaran dekat dengan orang-orang komunis di Filipina.

Di Jakarta, Joma dengan mudah menemukan buku-buku Marxis, sosialis, dan karya-karya terlarang lainnya. Ia juga melahap tulisan-tulisan petinggi PKI, semisal DN Aidit. Karya monumental Joma bertajuk Philipine Society and Revolution (PSR) bahkan dituding menjiplak Masjarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia (MIRI) karya Aidit. 

Dalam "Blood Brothers: The Communist Party of The Philippines and the Partai Komunis Indonesia" karya Ramon Guillermo, Joma mengatakan, belajar di Indonesia punya pengaruh krusial terhadap perkembangannya sebagai seorang Marxis. 

"Saya juga membangun hubungan baik dengan rekan-rekan seperjuangan di PKI. Pada saat itu, PKI adalah partai komunis terbesar di sebuah negara yang bukan negara sosialis," kata Joma. 

Joma pulang ke Filipina pada 1962. Ia langsung jadi bulan-bulanan media massa. Tak lama setelah diangkat jadi Sekjen Philipines-Indonesia Friendship and Cultural Association, oleh Philippine Herald, Joma dilabeli sebagai agen PKI. 

Usai konferensi Mafilindo (Malaysia, Filipina, dan Indonesia) yang dihadiri Soekarno di Manila pada 1963, Joma juga diserang tabloid-tabloid kuning. Ia dituding jadi makelar untuk pembelian sebuah rumah mewah di Forbes Park untuk Amelia de la Rama. Amelia digosipkan salah satu kekasih Soekarno. 

"Satu-satunya momen saya berada di satu ruangan bersama Soekarno dan perempuan cantik adalah ketika saya duduk di antara dia dan aktris Josephine Estrada dalam acara makan siang di kediaman speaker Jose Laurel pada 1963," ujar Joma sebagaimana dikutip Guillermo dalam Blood Brothers. 

Ketika itu, Joma memang mengidolakan Indonesia. Pada edisi Juli-Agustus 1963, Progresive Review--jurnal dwi mingguan yang diampu Joma--bahkan mendedikasikan satu terbitan penuh untuk segala hal yang berbau Indonesia, mulai dari pidato Soekarno tentang politik bebas aktif di Belgrade, wawancara dengan tokoh PKI Soebandrio, hingga hubungan dagang Indonesia dan Filipina. 

Pada terbitan kali itu, Joma juga memasukkan tiga puisi karya Chairil Anwar yang ia terjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, yaitu "Aku", "Sia-sia", dan "Orang Berdua/Dengan Mirat". Soal itu, Joma--yang pada 1961 merilis buku puisi Brothers and Other Poems--mengatakan menyukai puisi Chairil karena gaya mereka yang mirip. 

"Bisa dikatakan bahwa kami sama-sama dipengaruhi penulis-penulis modern dari Barat seperti Rilke, Auden, dan Hemingway, terutama dalam penggunaan bahasa, metafora, dan tamsilan," ujar Joma. 

 Jose Maria Sison membuka rapat pembentukan Partido ng Bayang (Peoples Party) pada 30 Agustus 1986. /Foto dok. josemariasison.org

Memimpin partai, dibui, hingga diasingkan

Terinspirasi situasi di Indonesia, Joma pun kian aktif terlibat dalam pergerakan mahasiswa. Pada 1964, setelah diterima bekerja di Lyceum of the Philippines University, Joma mendirikan Kabataang Makabayan (KM), sebuah pusat pembelajaran politik untuk anak-anak muda. 

Pada tahun yang sama, KM mendeklarasikan dukungan terhadap Ferdinand Marcos sebagai calon presiden. Saat kampanye, Marcos berjanji bakal memastikan Filipina tak terlibat perang Vietnam. Namun, usai memenangi pemilu, Marcos ingkar janji. Ia malah menunjuk Letkol Fidel Ramos guna mempersiapkan kontingen untuk dikirim ke Vietnam.

Bersama SCAUP, KM kemudian menggelar serangkaian aksi protes. Pada 23 Oktober 1966, Joma memimpin aksi mogok di depan Hotel Manila, venue pertemuan tingkat tinggi antara AS dan Filipina. Aksi unjuk rasa itu dibubarkan polisi. Selama beberapa jam, Joma dan rekan-rekannya ditahan. 

Tahun-tahun berikutnya, Filipina terus bergolak dan Joma kian radikal. Pada pengujung 1968, Joma memimpin rapat yang dihadiri sekitar 70 muda-mudi untuk merealisasikan pembentukan Communist Party of the Philippines (CPP), lepas dari PKP yang dianggap gagal membebaskan Filipina dari cengkeraman imperialis. Di rapat itu, Joma ditunjuk jadi Ketua Komite Sentral CPP. 

Tiga bulan berselang, the New People’s Army (NPA), sayap militer CPP terbentuk. Beranggotakan 65 pejuang, NPA dipimpin oleh Komandan Dante, nama samaran Bernabe Buscayno. Bernabe bekas pemimpin gerilya dalam pemberontakan kaum HUK. Dari Bernabe, kader-kader CPP belajar segala seluk-beluk perang gerilya. 

Tak lagi beroperasi di perkotaan, Joma ikut terjun ke hutan dan pedesaan. Di Provinsi Isabela yang sebagian besar wilayahnya masih hutan perawan, CPP dan NPA berkembang pesat. Disokong warga desa dan petani, basis-basis militer CPP terbentuk. Dari basis-basis itu, lahir kader-kader yang kemudian dikirimkan ke berbagai daerah untuk membuka front perang gerilya melawan rezim Marcos.

Pada 1976, pukulan pertama bagi CPP datang: Komandan Dante tertangkap. Setahun berikutnya, tepatnya pada November 1977, giliran Joma bersama istri dan anak-anaknya yang tertangkap. Ketika itu, CPP telah memiliki sekitar 5.000 anggota yang tersebar di sepuluh organisasi regional. NPA tercatat telah punya ribuan bedil. 

 Gerilyawan CPP-NPA membawa perbekalan menggunakan bantuan kerbau. /Foto dok josemariasison.org

Meski begitu, menurut Ninotchka dalam Jose Maria Sison: At Home in the World—Portrait of a Revolutionary, roda organisasi tidak lumpuh. "Kediktatoran Marcos berbangga hati untuk sesaat, tapi proses untuk membangkitkan, mengorganisasi, dan memobilisasi massa tetap berjalan," tulis Ninotchka. 

Di penjara, Joma disiksa habis-habisan. Pengalaman mengerikan itu, kata Ninotchka, direkam secara mendetail dalam puisi "Fragments of a Nightmare" yang dibikin Joma. "Dia bertahan dari beragam siksaan mental. Selama dibui, kacamatanya diambil, ia dirantai, dan diisolasi dalam sel gelap tanpa cahaya matahari," tulisnya. 

Selama kurang lebih sembilan tahun Joma dikerangkeng. Pada 5 Maret 1986, tak lama setelah kediktatoran Marcos tumbang, Joma menghirup udara bebas. Corazon Aquino, janda mendiang Benigno Aquino, yang saat itu jadi Presiden Filipina, ingin berdamai dengan National Democratic Front of The Philippines (NDFP), sebuah koalisi yang memayungi 14 organisasi revolusioner bawah tanah, termasuk di antaranya CPP dan NPA. 

Joma, Komandan Dante, dan puluhan tahanan politik lainnya disambut bak pahlawan oleh rakyat Filipina yang tengah mabuk kemenangan. Serangkaian perjamuan makan diselenggarakan untuk mereka. Pada 1 Mei 1986, bertepatan dengan perayaan Hari Buruh, Joma tampak duduk di sebelah kiri Aquino. 

"Jenderal Fidel Ramos duduk di sebelah kanan dia (Aquino). Pada satu momen, mereka bertiga menyaksikan palu dan arit raksasa muncul di antara lautan kaum buruh selagi (mars kaum komunis) Internationale dinyanyikan," tulis Ninotchka. 

Setelah bebas, Joma kemudian kembali bekerja di UP. Tak lagi menjabat sebagai ketua komite pusat di CPP, ia mulai rutin hadir di berbagai forum diskusi di kampus sebagai pembicara politik. Setelah tur di Filipina, Joma diundang untuk berbicara di depan khalayak oleh kampus-kampus di Asia, Australia, dan Eropa. 

Selagi Joma sibuk pindah dari satu mimbar ke mimbar lainnya, Filipina kembali bergejolak. Pembicaraan damai antara kaum revolusioner tersendat. Joma jadi sasaran propaganda militer. Ia bahkan jadi target pembunuhan kaum kanan. 

Infografik Alinea.id/Amifta

Mendarat di Belanda pada 23 Januari 1987, Joma disambut Luis Jalandoni, kepala panel negosiasi NDFP. Jalandoni melaporkan kabar pembantaian dalam aksi unjuk rasa kaum petani di depan Istana Kepresidenan di Manila. Sebulan berselang, Aquino mengumumkan perang terbuka terhadap semua kelompok revolusioner. Upaya damai gagal. 

"Jenderal Ramos hanya menyiagakan sebagian kecil pasukannya di Manila dan menerjunkan mayoritas personel militer ke kawasan pedesaan. Dia kemudian meluncurkan serangkaian kampanye militer untuk melumpuhkan CPP dan NPA," tulis Ninotschka. 

Sementara konflik bersenjata antara kaum revolusioner dan militer kembali pecah, Joma "terdampar" di Belanda. Ia tak bisa pulang setelah paspornya dibekukan pemerintah Filipina. Dari Negeri Kincir Angin itu, Joma hanya bisa mengirimkan pesan, analisis, dan instruksi untuk "pemulihan" CPP-NPA. 

Tiga dekade berselang, Joma masih mengasingkan diri di Belanda. Di Filipina yang kini di berada tangan Rodrigo Duterte, komunisme tetap hidup. Di hutan-hutan dan desa-desa, CPP-NPA masih bergerilya. Militer dan kaum komunis masih saling bunuh. 

Seperti para pendahulunya, Duterte juga sempat mewacanakan pembicaraan damai dengan kelompok komunis dan kaum revolusioner. Namun, Duterte putar haluan menyusul konflik berdarah antara militer dan CPP-NPA pada 2017 dan ditemukannya kuburan massal berisi kerangka puluhan personel militer. 

Dalam sebuah kunjungan ke kamp militer di Compostela Valley Province pada 22 Desember 2018, tepat empat hari sebelum perayaan hari jadi CPP yang ke-50, Duterte bahkan berjanji bakal memberantas komunisme hingga ke akar-akarnya. 

Seperti Joma yang belajar dari PKI, Duterte bakal mencontoh gaya Soeharto membumihanguskan PKI. "Mereka (rezim Soeharto) membunuh orang-orang komunis dan melempar jasadnya ke sungai. Mereka membiarkannya membusuk,"  kata Duterte. 

Awal Maret lalu, Duterte menegaskan kembali komitmennya. Ia bilang siap menanggung dosa pelanggaran HAM. "Jika kamu (polisi dan militer) bertemu dengan pemberontak komunis, bunuh mereka. Pastikan kalian membunuh mereka. Habisi mereka jika masih hidup. Lupakan hak asasi," kata dia.

Ironisnya, Duterte dan Joma dulu pernah sepaham. Duterte muda pernah jadi murid Joma saat kuliah di Lyceum. Ia bahkan sempat jadi anggota KM, organisasi aktivis muda yang dibesut Joma. Kini, Duterte malah jadi "Marcos kedua" untuk orang-orang yang dididik Joma. 

Perihal rencana Duterte memberantas komunisme dan kaum kiri hingga ke akar-akarnya, juru bicara CPP/NPA Marco Valbuena telah mengeluarkan pernyataan resmi.  Ia sesumbar CPP-NPA bakal hidup lebih lama daripada Duterte. "Kami yakin saat masa kepemimpinan berakhir atau bahkan ketika Duterte mati, rencana untuk menghancurkan NPA tidak akan terealisasi," ujarnya. 


 

Berita Lainnya