sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kapal perang kedua Inggris tiba di Teluk

Saat ini Inggris memiliki dua kapal perang di Teluk. Masing-masing tipe fregat dan kapal penghancur.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 29 Jul 2019 11:34 WIB
Kapal perang kedua Inggris tiba di Teluk

Kapal perang Royal Navy kedua telah tiba di Teluk untuk melindungi kapal-kapal berbendera Inggris melintasi Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan itu. HMS Duncan dilaporkan sudah bergabung dengan fregat HMS Montrose yang telah lebih dulu berada di sana.

Menurut Kementerian Pertahanan Inggris, HMS Montrose sejauh ini telah mengawal 35 kapal melalui Selat Hormuz.

Menteri Pertahanan Ben Wallace mengatakan, Inggris terus mendorong penyelesaian diplomatik atas ketegangan yang tengah berlangsung. 

"Kebebasan navigasi di Selat Hormuz sangat penting tidak hanya bagi Inggris, tetapi juga mitra internasional dan sekutu kami. Kapal dagang harus bebas bepergian untuk melakukan perjalanan yang sah dan berdagang dengan aman, di mana saja di dunia," ujar Wallace.

HMS Duncan adalah tipe kapal penghancur yang digambarkan AL Inggris sebagai kapal perang paling canggih yang pernah dibangun.

Ketegangan antara Inggris dan Iran bermula dari penyitaan kapal Iran Grace 1 di dekat Gibraltar. Inggris menuduh kapal tersebut melanggar sanksi Uni Eropa dengan mengirim minyak ke Suriah.

Langkah tersebut membuat marah Iran. Kemudian pada 19 Juli, Iran menyita Stena Impero, kapal minyak berbendera Inggris.

Tanker Inggris lainnya, MV Mesdar, juga sempat dinaiki oleh pasukan Garda Revolusi Iran. Namun, kemudian dibebaskan. 

Sponsored

Iran mengklaim bahwa Stena Impero melanggar aturan maritim internasional.

HMS Montrose telah diberitahu terkait insiden tersebut, namun gagal melakukan upaya penyelamatan karena posisinya sedang terlalu jauh.

Kantor berita Iran, IRNA, menyebutkan bahwa tanker Stena Impero ditangkap setelah bertabrakan dengan sebuah kapal penangkap ikan dan gagal merespons panggilan dari kapal yang lebih kecil.

Sementara, Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, Jeremy Hunt, menuturkan bahwa tanker tersebut disergap di perairan Oman lewat cara yang melanggar hukum internasional dan kemudian dipaksa untuk berlayar ke wilayah Iran.

Pemilik Stena Impero mengatakan pihaknya terus bekerja sama dengan otoritas terkait untuk menjamin pembebasan tanker dan 23 awaknya. Tanker itu kini bersandar di Bandar Abbas.

"Kru dalam kondisi sehat dan tetap memiliki kontak terbatas dengan anggota keluarga, yang mana ini terus kami sokong dalam masa sulit ini," ungkap pihak Stena Bulk.

Mereka menambahkan, "Menyusul surat dari otoritas Iran kepada Dewan Keamanan PBB yang menguraikan dugaan pelanggaran peraturan dan regulasi internasional, termasuk tabrakan yang belum dikonfirmasi, Stena Bulk dan Northern Marine Management menganggap penting bahwa kami diberikan akses ke kapal untuk melakukan penilaian penuh. Kami terus menunggu respons dari otoritas Iran terhadap permintaan kami."

Ke-23 kru kapal Stena Impero berasal dari India, Rusia, Latvia dan Filipina. Mereka dilaporkan telah bertemu dengan para pejabat dari negaranya masing-masing.

Hunt mencap penyitaan Stena Impero sebagai pembajakan negara. Meski demikian dia menyatakan bahwa pihaknya akan menemukan cara untuk menurunkan ketegangan. 

Adapun Menlu Iran Javad Zarif dalam twitnya pada 20 Juli menyatakan bahwa Inggris harus berhenti menjadi aksesori bagi #EconomicTerrorism Amerika Serikat. Dia menekankan bahwa Iran menjamin keamanan di Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Presiden Hassan Rouhani telah mengindikasikan bahwa Stena Impero bisa dilepaskan jika Inggris membebaskan Grace 1.

"Kami tidak akan melanjutkan ketegangan dengan beberapa negara Eropa dan jika mereka berkomitmen pada kerangka kerja internasional dan membebaskan beberapa tindakan, termasuk apa yang mereka lakukan di Gibraltar, mereka akan menerima respons yang tepat dari Iran," sebut Rouhani dalam pernyataannya pada 24 Juli.

Di Wina, Austria, pada Minggu (28/7) pejabat dari Iran, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia dan China bertemu sebagai upaya menyelamatkan kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA). Seorang pejabat Iran mengatakan bahwa suasana pertemuan konstruktif.

Selain menyelamatkan JCPOA, tatap muka tersebut juga bertujuan untuk meredakan ketegangan di Teluk. Pada awal bulan ini, para pemimpin Inggris, Prancis dan Jerman telah merilis pernyataan bersama yang menyebutkan bahwa mereka sangat terganggu oleh berbagai peristiwa di Teluk.

Pemimpin ketiga negara itu menyatakan sudah waktunya untuk bertindak secara bertanggung jawab dan mencari solusi untuk menghentikan peningkatan ketegangan dan melanjutkan dialog.

"Suasananya konstruktif. Diskusinya berjalan baik. Saya tidak dapat mengatakan bahwa kami menyelesaikan semuanya, tetapi yang dapat saya sampaikan adalah ada banyak komitmen," ungkap Wakil Menlu Iran Abbas Araghchi yang hadir dalam pertemuan di Wina.

Bagaimanapun, Araghchi bersikeras bahwa penyitaan tanker minyak Iran melanggar JCPOA. Dia juga kembali menyatakan bahwa proposal Inggris yang berisi penempatan pasukan AL yang dipimpin Eropa di Teluk, provokatif. 

Sumber : BBC