close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei tiba untuk memberikan suara di TPS dalam pemilihan parlemen di Teheran, Jumat (21/2). ANTARA FOTO/Official Khamenei website/Handout via REUTERS.
icon caption
Pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei tiba untuk memberikan suara di TPS dalam pemilihan parlemen di Teheran, Jumat (21/2). ANTARA FOTO/Official Khamenei website/Handout via REUTERS.
Dunia
Kamis, 03 Desember 2020 12:16

Kedubes Iran kutuk pembunuhan ilmuwan nuklir dan vaksin

Pembunuhan terhadap Mohsen Fakhrizadeh dinilai tindakan pengecut dan bentuk terorisme.
swipe

Kedutaan Besar Iran di Indonesia pada Kamis (3/12) mengutuk pembunuhan seorang ilmuwan nuklir Mohsen Fakhrizadeh. Dia juga merupakan ilmuwan berpengaruh pada program pengembangan vaksin di Iran.

"Pada Jumat (27/11), melalui sebuah tindakan pengecut dan terorisme terhadap negara, Mohsen Fakhrizadeh, seorang ilmuwan terkemuka Iran dan kepala Organisasi Penelitian dan Inovasi Kementerian Pertahanan Iran, dibunuh secara keji," jelas kedubes dalam pernyataan resminya.

Sebelumnya, dilansir dari Reuters, Presiden Iran Hassan Rouhani sempat menuding bahwa Israel berada di balik pembunuhan Fakhrizadeh. Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak untuk berkomentar tentang hal tersebut.

Selain mengutuk pembunuhan tersebut, Iran meminta komunitas internasional untuk mengecam tindakan kriminal dan terorisme tersebut, serta menuntut pertanggungjawaban dari para pelaku dan aktor di balik serangan itu.

"Fakhrizadeh adalah seorang pejabat resmi Iran dan tindakan pembunuhan keji terhadap dirinya merupakan langkah terorisme serta melanggar berbagai peraturan, konvensi dan kesepakatan internasional yang diakui oleh dunia," jelas Kedubes Iran.

Menurut Iran, pembunuhan tersebut dilakukan dengan sejumlah tujuan. Pertama, untuk menghambat pendekatan diplomatik dan dialog utuk menyelesaikan perbedaan di tingkat regional dan internasional.

Selain itu, Iran menilai bahwa  pembunuhan Fakhrizadeh merampas hak Iran atas penggunaan teknologi nuklir secara damai, sebagaiamana telah ditetapkan dalam peraturan internasional.

"Lebih lanjut, tindakan ini menciptakan krisis skala besar untuk semakin membuat kawasan Timur Tengah tidak stabil dan mempersulit penerapan perjanjian nuklir Iran (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA)," tutur kedubes dalam pernyataannya.

Menurut Iran, Fakhrizadeh memiliki peran yang besar dalam berbagai proyek IPTEK Iran. Salah satunya merupakan kontribusinya terhadap pengembangan kit uji dan vaksin Covid-19 pertama di negara tersebut.

"Selama beberapa tahun terakhir, beberapa ilmuwan Iran dan pahlawan nasional kami telah menjadi sasaran dan dibunuh dalam berbagai serangan teroris," tulis pernyataan itu.

"Pembunuhan baru-baru ini terhadap ilmuwan nuklir senior Iran juga memiliki ciri dan cara yang sama dengan tindakan pengecut lainnya. Biasanya dilakukan oleh rezim teroris Israel yang telah membunuh sejumlah besar elit ilmiah di Iran dan di seluruh kawasan," imbuhnya.

Kedubes Iran menyatakan bahwa Israel, yang merupakan satu-satunya pemilik senjata nuklir di kawasan, memiliki konspirasi jahat untuk memicu kekacauan di Timur Tengah.

Sejak penandatanganan JCPOA pada 2015, lanjut kedubes, Israel telah mencoba membujuk Amerika Serikat untuk hengkang dari perjanjian tersebut.

"Tindakan teror dan pembunuhan terhadap Fakhrizadeh merupakan pelanggaran nyata terhadap aturan internasional dan prinsip moral dan kemanusiaan yang dilakukan terhadap Iran sebagai negara yang selama ini berada di garis terdepan dalam perang melawan terorisme demi membangun perdamaian dan stabilitas di kawasan dan dunia," tegas pernyataan itu.

img
Valerie Dante
Reporter
img
Fathor Rasi
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan