sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Khawatir penyebaran coronavirus, Arab Saudi tangguhkan umrah

Arab Saudi juga menerapkan larangan masuk bagi warga dari negara yang memiliki kasus coronavirus jenis baru.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 27 Feb 2020 10:14 WIB
Khawatir penyebaran coronavirus, Arab Saudi tangguhkan umrah
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Pada Kamis (27/2), Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengumumkan bahwa mereka telah menangguhkan pelaksanaan umrah dan kunjungan ke Masjid Nabawi di Madinah di tengah kekhawatiran atas penyebaran wabah coronavirus jenis baru.

Arab Saudi juga menerapkan larangan masuk bagi warga dari negara yang memiliki kasus coronavirus jenis baru. Kemlu Arab Saudi meminta warga mereka untuk tidak melakukan perjalanan ke negara-negara di mana wabah tersebut telah terdeteksi.

Kebijakan penangguhan juga diterapkan bagi mereka yang ingin bepergian dari dan menuju ke Arab Saudi menggunakan kartu identitas nasional.

Kemlu Arab Saudi memberikan pengecualian kepada warganya yang kini berada di luar negeri, yang ketika meninggalkan negara itu menggunakan kartu identitas nasional, demikian pula warga dari negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang masuk ke Arab Saudi dengan menggunakan kartu identitas nasional dan kini ingin kembali ke negara masing-masing.

Ketika kasus terinfeksi baru mulai menurun di pusat penyebaran wabah, China, telah terjadi peningkatan di sejumlah bagian di Asia, Eropa, dan Timur Tengah. Iran, yang sejauh ini mencatat 19 kematian, menjadi episentrum wabah di kawasan Timur Tengah.

Kasus-kasus terinfeksi yang terkait dengan Iran dilaporkan di sejumlah negara di Timur Tengah. Iran sendiri telah mengonfirmasi 139 kasus penularan coronavirus, sebagian besar berasal dari Kota Qom.

Tim dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan bertolak ke Iran pada akhir pekan untuk mengevaluasi situasi dan memberikan bantuan yang diperlukan pemerintah setempat.

Sponsored

Menanggapi situasi coronavirus jenis baru, Presiden Iran Hassan Rouani mengatakan bahwa sampai sekarang belum ada rencana untuk mengisolasi kota apa pun demi mencegah penyebaran wabah lebih lanjut.

Sementara itu, Brasil mengonfirmasi kasus infeksi pertama di Amerika Latin. Coronavirus jenis baru juga terdeteksi untuk pertama kalinya di Pakistan, Swedia, Norwegia, Yunani, Romania, dan Aljazair.

Otoritas kesehatan Amerika Serikat mengatakan bahwa ada kemungkinan besar epidemi coronavirus dapat berubah menjadi pandemi global. Negeri Paman Sam mengonfirmasi 60 kasus infeksi, 45 di antaranya berasal dari warga AS yang dipulangkan dari kapal pesiar Diamond Princess.

Presiden Donald Trump berupaya menenangkan publik dengan mengatakan bahwa AS sudah sangat siap untuk menghadapi ancaman coronavirus jenis baru.

Jerman, yang melaporkan 27 kasus coronavirus, menyatakan bahwa sudah tidak mungkin untuk melacak semua jejak infeksi di negara itu. Menteri Kesehatan Jens Spahn mendesak pemerintah daerah, rumah sakit, dan pejabat kesehatan meninjau perencanaan nasional untuk menghadapi pandemi.

Pada Rabu (26/2), Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta para pejabatnya untuk tidak mendefinisikan coronavirus sebagai pandemi.

"Menggunakan kata pendemi secara sembarangan memiliki risiko yang signifikan dalam hal memperkuat ketakutan dan stigma yang tidak perlu," katanya. "Itu juga bisa berarti bahwa kita tidak mampu mencegah penyebaran virus, hal yang tentu tidak benar."

Pada Kamis, Komisi Kesehatan Nasional China melaporkan bahwa menurut data per Rabu malam, angka kematian nasional menyentuh 2.744. Dengan sejumlah kematian di luar China daratan tercatat di Iran, Italia, Korea Selatan, Jepang, Prancis, Hong Kong, Taiwan, dan Filipina, angka kematian global akibat coronavirus mencapai lebih dari 2.790. 

Lebih dari 82.000 orang di seluruh dunia telah terinfeksi coronavirus jenis baru. (Reuters, France24, BBC, dan NHK)

Berita Lainnya