close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Foto: Ist
icon caption
Ilustrasi. Foto: Ist
Dunia
Rabu, 17 April 2024 22:44

Kunci jawaban untuk pemerintah atasi harga BBM akibat konflik Iran-Israel

Yusran menyebut, Indonesia harus mengambil sikap dengan posisi strategis.
swipe

Kondisi pemenuhan minyak dan gas dalam negeri terancam akibat perang Iran-Israel. Apalagi suasana di sana belum juga merada.

Situasi ini disayangkan, karena menurut Pakar Hubungan Internasional Universitas Budi Luhur, Yusran memaparkan kerjasama kedua negara sudah berlangsung selama 70 tahun. Keduanya berjalan konstruktif di hampir berbagai bidang.

"Konflik dengan Israel, tidak hanya membuat kerjasama kedua negara terancam. Namun, hampir berbagai negara yang juga bekerjasama dengan Iran. Jika eskalasi konflik ini tidak bisa diredakan,” kata Yusran kepada Alinea.id.

Yusran menyebut, Indonesia harus mengambil sikap dengan posisi strategis. Persisnya, melakukan dialog dengan Iran bila tidak, maka efeknya bisa regional bahkan global.

Indonesia sendiri harus berkaca pada APBN sebelum nantinya konflik berkepanjangan. Apalagi Indonesia masih melakukan kegiatan impor bahan bakar minyak dengan Iran.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) membocorkan solusi yang patut dijalankan pemerintah. Yakni, program Pertamax Green sebab eskalasi yang menjadi di sana, bisa membuat harga minyak dunia lebih US$100 per barrel.

Kepala Center of Industry, Trade and Investment di Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho menjabarkan, dalam negeri akan berdampak pada tanggung jawab fiskal yang membengkak. Sebab, harus menanggung subsidi energi yang pasti akan meningkat harganya.

Meski, komoditas minyak mentah juga diimpor dari Arab Saudi dan LPG dari Qatar tapi tak menampik kenaikan itu. Lantaran kedua negara masih berada di wilayah sekitar dan membuat alur pasokan terganggu. Belum lagi, tentunya dengan kurs yang lemah, akan membebani kondisi ini.

Menurut Andry, proses produksi dalam negeri, yakni pertamax green, bisa menolong kondisi ini. Dengan syarat di setiap wilayah Indonesia sudah siap menjalankannya, sementara jika hanya di wilayah tertentu dan pasokan kurang, bisa menjadi beban.

“Harusnya enggak terhenti. Seharusnya menjadi solusi karena tidak tergantung BBM impor jadi bisa sebagai bantalan,” kata Andry kepada Alinea.id.

Apalagi, bahan Bioethanol di setiap negara telah memilikinya. Meski tidak seperti Indonesia yang kaya akan sawit.

Problema selanjutnya adalah harga pertamax green yang harus dibuat setara dengan BBM. Sejauh ini masih lebih mahal dari BBM.

“Tapi dia (pertamax green) juga pasti membantu dari ketergantungan BBM impor,” ujarnya.

Kini, pemerintah harus membuat kesadaran tinggi bahwa program ini bisa membebaskan Indonesia dari jeratan BBM dunia. Jika tidak, maka subsidi BBM dapat menjadi langkah cepat sebagai solusi.

img
Immanuel Christian
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan