logo alinea.id logo alinea.id

Maut di Everest: Kombinasi kepadatan dan kurangnya pengalaman pendaki

Per Selasa (28/5), 11 pendaki kehilangan nyawa di Everest. Korban terakhir adalah seorang berkebangsaan Amerika Serikat.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 29 Mei 2019 11:23 WIB
Maut di Everest: Kombinasi kepadatan dan kurangnya pengalaman pendaki

Beberapa hari terakhir Nepal menjadi sorotan. Pemicunya adalah tingginya angka kematian para pendaki Everest, puncak gunung tertinggi di dunia.

Hingga Selasa (28/5), sudah 11 orang pendaki yang kehilangan nyawa. Korban terakhir adalah pendaki asal Colorado, Amerika Serikat, Christopher Kulish (62). 

Kulish meninggal pada Senin (27/5), tidak lama setelah mencapai puncak gunung tertinggi di dunia itu. Sebelumnya, pembalap asal Inggris, Robin Haynes Fisher (44), meninggal pada Sabtu (25/5).

Fisher juga kehilangan nyawa beberapa menit setelah mencapai puncak Everest.

Sedangkan pria asal Irlandia, Kevin Hynes (56), meninggal di tendanya pada Jumat (24/5). Warga Irlandia lainnya, Seamus Lawless, diperkirakan tewas setelah terjatuh di dekat puncak Everest.

Satu warga Nepal, empat warga India, seorang asal Austria dan Amerika Serikat turut dinyatakan telah tewas atau hilang. Seorang penyelenggara tur lokal mengatakan kepada AFP bahwa salah satu pendaki India, Nihal Ashpak Bhagwan, meninggal karena kelelahan setelah lebih dari 12 jam terjebak antrean menuju puncak.

Pekan lalu, foto-foto yang memperlihatkan antrean panjang para pendaki di Everest di area yang disebut "death zone" viral di media sosial.

Muncul dugaan, tingginya angka kematian di pendakian musim semi kali ini dipicu oleh membludaknya jumlah pendaki hingga membuat jalur menuju puncak "macet". Namun, pemerintah Nepal membantah tuduhan tersebut.

Sponsored

Dilaporkan BBC pada Minggu (26/5), Direktur Jenderal Kementerian Pariwisata Nepal Dandu Raj Ghimire mengatakan faktor-faktor lain seperti kondisi cuaca juga dapat menyebabkan kematian.

Ghimire mengatakan, pada musim semi ini, sebanyak 381 pendaki telah naik ke Everest. Tetapi karena periode cuaca baik yang cukup singkat, jumlah pendaki yang datang melebihi prediksi.

TIME dalam laporannya menyebutkan, sebagian besar korban diyakini tewas akibat menderita penyakit ketinggian ekstrem. Tipisnya oksigen membuat penderita mengalami sakit kepala, muntah, sesak napas, dan terganggunya kondisi mental.

Ghimire melayangkan ucapan belasungkawa kepada mereka yang meninggal dan berdoa agar pendaki yang hilang ditemukan.

"Pendakian gunung di Himalaya merupakan pengalaman penuh rintangan, kompleks, dan sensitif yang membutuhkan kesadaran penuh. Namun, terkadang kecelakaan tragis tidak dapat dihindari," kata dia.

Di lain sisi, ahli pendaki gunung meyakini bahwa kurang berpengalamannya para pendaki menjadi penyumbang tingginya angka kematian tahun ini.

Pemandu pendaki, Adrian Ballinger, berpendapat bahwa para pendaki yang berusaha mencapai puncak adalah mereka yang minim pengalaman.

"Kurangnya pengalaman, baik pihak operator komersial dan pendaki itu sendiri, menyebabkan ... orang membuat keputusan yang buruk, melibatkan diri mereka dalam masalah serius dan akhirnya menderita kematian yang seharusnya dapat dicegah," tutur Ballinger.

Kepada CNN, pendaki veteran David Morton melontarkan pernyataan serupa dengan Ballinger.

"Masalah utama adalah kurangnya pengalaman, tidak hanya pendaki tapi juga operator yang mendukung mereka," kata dia. "Everest pada dasarnya adalah teka-teki logistik yang sangat rumit dan saya rasa ketika ada banyak operator yang tidak berpengalaman demikian juga pendaki, terlebih pemerintah Nepal tidak membatasi jumlah orang, situasi semacam ini sangat mungkin terjadi."

Morton yang saat ini tengah berada di Everest untuk sebuah proyek penelitian menyatakan bahwa dia mendaki dari sisi Tibet, di mana otoritas setempat membatasi jumlah pendaki.

"Kami berada hanya 100 meter di bawah puncak pada tanggal 24. Itu merupakan hari yang indah. Dan mungkin ada 30 atau 40 orang yang mendaki dari sisi Tibet, sisi utara. Sebuah dinamika yang sangat berbeda," imbuhnya.

Morton menegaskan, sudah saatnya di mana para operator perlu disertifikasi untuk mengatur pendakian. 

Ghimire sendiri mengakui bahwa Nepal saat ini tidak mengharuskan pendaki menyertakan bukti pengalaman pendakian. Namun, dia menyatakan bahwa aturan ini kemungkinan akan direvisi.

Lebih dari 200 pendaki ditemukan tewas sejak 1922, ketika kematian pendaki pertama di Everest dicatat. Mayoritas jasad diyakini masih terkubur di bawah gletser.

Pengalaman pendaki Indonesia

Pada 2018, Fransiska Dimitri Inkiriwang (23), pendaki asal Indonesia menjadi salah seorang yang berhasil menjejakkan kaki di puncak Everest. Kepada Alinea.id, Fransiska menuturkan ada dua jalur yang dapat dilewati untuk mendaki Everest. 

Fransiska Dimitri dan Mathilda Dwi Lestari di Gunung Everest. / Dokumentasi Fransiska Dimitri

Pertama, jalur selatan di mana pendaki masuk dari Nepal. Jalur kedua atau jalur utara melalui Tibet.

Menurut Fransiska, jalur utara yang berada di bawah pengawasan China lebih ketat. Ada penerapan pembatasan kuota pendaki dan pengurusan perizinan yang cukup kompleks.

"Saya tidak tahu persis kuotanya berapa, tapi kalau sudah habis, tidak bisa masuk lewat Tibet," tuturnya saat dihubungi pada Selasa (28/5).

Berbeda dengan jalur utara, jalur selatan jauh lebih longgar karena mengurus perizinan di Nepal lebih gampang.

"Bayangkan, kalau di jalur selatan itu, dalam satu hari, bisa ada sekitar 1.000 pendaki yang muncak atau mencapai puncak Everest. Tapi kalau di jalur utara, sehari paling hanya 300 pendaki yang dibatasi untuk mencapai puncak," ujarnya.

Fransiska menilai, kelebihan kuota itulah yang membuat jalur menuju puncak macet. Jalur yang macet, disebutnya, dapat menyebabkan risiko berujung kematian bagi para pendaki.

"Ketinggian di atas 4.000 meter itu sudah di luar batas normal bagi manusia. Sedangkan Gunung Everest itu tingginya 8.848 meter, pendaki butuh pakai tabung oksigen. Kalau terpapar udara dingin terlalu lama, apa lagi badan tidak gerak, bisa hipotermia. Belum lagi dengan udara ekstrem yang tipis oksigen, bisa terkena Acute Mountain Sickness (AMS) tahap parah," jelas Fransiska.

Pendaki muda itu menjelaskan, tidak hanya menyebabkan badan perlahan lumpuh, hipotermia bisa juga menyebabkan halusinasi.

"Orang yang terkena hipotermia bisa tiba-tiba merasa panas, mendorongnya untuk membuka semua lapisan bajunya dan malah terekspos dingin. Atau karena tidak bisa berpikir jernih, orang itu melepas tali pengamannya dan jatuh dari gunung. Banyak kemungkinan seperti itu," ungkap dia.

Selain pendakian yang melebihi kuota, Fransiska menyebut bahwa kondisi cuaca buruk juga berisiko bagi pendaki Everest.

Musim pendakian Everest sendiri terbagi dua. Pertama pada Maret hingga Mei saat musim semi dan kedua pada September hingga November saat musim gugur.

"Kalau melihat perkembangan tahun ini, cuacanya lebih buruk dibanding musim semi pada tahun lalu," kata dia.

Fransiska beserta rekan satu timnya, Mathilda Dwi Lestari dari misi ekspedisi "The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala-Unpar (WISSEMU)", berhasil mencapai puncak Gunung Everest pada 17 Mei 2018, pukul 05.45 waktu Nepal.

Cuaca pada musim semi kali itu, kata Fransiska, sangat kondusif dan tidak menghambat jalannya pendakian.

Summit window atau kesempatan bagi pendaki untuk mencapai puncak karena cuaca baik sewaktu-waktu dapat berubah, dipersempit atau diperpanjang.

"Pada 2018 itu summit window-nya dari tanggal 14 Mei, sekarang dari tanggal 22 Mei jadi lumayan telat ya," sambungnya.

Menurut Fransiska, summit window yang dipersingkat membuat orang terburu-buru ingin cepat sampai ke puncak sebelum cuaca memburuk, akibatnya, antrean menumpuk.

Ketika ditanya mengenai pengalaman tidak terlupakan, Fransiska menyebut satu kejadian di mana dia dan grupnya sedang mendaki menuju puncak Everest sekitar pukul 22.30.

Sedang berjalan di jalur yang terjal dan hanya menggunakan pencahayaan minim dari headlamp, Fransiska terkejut ketika melihat sosok pria terduduk di dekat tebing.

"Pas saya mendekat, ternyata itu bukan orang yang sedang duduk, itu adalah jenazah pria. Saya agak kaget, sih. Sejak saat itu saya ambil pelajaran, kalau lagi mendaki pasang mata ke depan saja," ungkapnya.

Selain bersama Mathilda, Fransiska mendaki Everest beserta sembilan pendaki dari berbagai negara dan empat pemandu. Dia mengaku bahwa perjalanan dari Everest Base Camp pada ketinggian 5.150 meter menuju puncak Everest memakan waktu 34 hari.

"Yang memakan waktu itu proses adaptasi, aklimatisasi, dan latihan turun-naik di Everest sendiri," tuturnya. "Penyesuaian itu wajib, karena kalau badan gagal menyesuaikan diri dengan ketinggian dan cuaca ekstrem di sana, konsekuensinya tinggi sekali."

Dari Everest Base Camp, Fransiska dan tim bertolak menuju Advanced Base Camp di ketinggian 6.400 meter. Kemudian mereka kembali mendaki hingga base camp ketiga, yang terakhir, sebelum mendaki selama 10 jam tanpa henti menuju puncak gunung.

Fransiska memulai ekspedisinya pada 2014. Sebelum Everest, dia sudah menaklukkan enam puncak tertinggi dunia lainnya, yakni Cartensz Pyramid di Papua, Vinson Massif di Antartika, Akonkagua di Argentina, Elbrus di Rusia, Denali di Alaska, serta Kilimanjaro di Tanzania.