sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Menlu RI ajak pengusaha bangun ketahanan ekonomi

Menlu Retno mengingatkan bahwa konflik baru yang muncul di sejumlah negara dipicu oleh kebijakan ekonomi.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 19 Nov 2019 17:06 WIB
Menlu RI ajak pengusaha bangun ketahanan ekonomi

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengajak pelaku usaha untuk bersama-sama pemerintah berupaya membangun ketahanan ekonomi Indonesia.

"Indonesia memang memiliki pasar yang besar, tetapi jangan hanya menjadi pasar saja. Ukuran pasar dan banyaknya penduduk harus dimanfaatkan sebagai nilai tawar saat negosiasi ekonomi dan perdagangan demi memperoleh hasil win-win," ungkap Menlu Retno dalam 'Rapat Kerja Nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Hubungan Internasional' di Menara Kadin, Jakarta, pada Selasa (19/11).
 
Menlu Retno mengungkapkan bahwa konflik-konflik baru muncul di sejumlah negara akibat adanya ketidakpuasan rakyat terhadap kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah masing-masing.
 
"Faktor kebijakan ekonomi menjadi pemicu dari protes atau ketidakpuasan yang terjadi di sejumlah negara," jelas dia.

Contohnya, lanjut Menlu Retno, unjuk rasa di Chile yang sudah berlangsung sejak pertengahan Oktober. Demonstrasi itu dipicu oleh kenaikan tarif angkutan umum tetapi telah meluas mencakup dana pensiun, tingginya biaya utilitas, obat-obatan dan tarif tol serta layanan umum seperti kesehatan dan pendidikan.

"Akibatnya, KTT APEC dan Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP 25) yang seharusnya diadakan di Chile, dipindah," kata dia.

Selain Chile, gejolak juga terjadi di Lebanon aibat ketidakpuasan terhadap situasi politik dan ekonomi.

"Perdana Menteri Lebanon sudah mundur, kegiatan ekonomi mereka terganggu, bank-bank tutup dan terdapat pembatasan penarikan uang," jelas Menlu Retno.

Demonstrasi pun pecah di Irak dengan pemicu tingkat kemiskinan dan pengangguran yang semakin tinggi. Kemudian baru-baru ini, lanjut dia, unjuk rasa juga terjadi di Iran akibat kenaikan harga BBM.

Menlu Retno menyinggung demonstrasi di Hong Kong, yang meski tidak dipicu oleh kebijakan ekonomi, tetapi berdampak pada kondisi ekonomi pulau itu.

Sponsored

"Unjuk rasa yang berlangsung sejak Juni itu menyebabkan ekonomi Hong Kong menyusut sebesar 3,2%. Tentunya mengakhiri kekerasan dan memulihkan perdamaian penting untuk memperbaiki kondisi ekonomi mereka," kata dia.