close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Menko PMK, Muhadjir Effendy, menyampaikan, PM Vanuatu mau kerja sama dengan Indonesia lebih luas. Dokumentasi Kemenko PMK
icon caption
Menko PMK, Muhadjir Effendy, menyampaikan, PM Vanuatu mau kerja sama dengan Indonesia lebih luas. Dokumentasi Kemenko PMK
Dunia
Kamis, 11 Mei 2023 19:37

Menko Muhadjir: Vanuatu mau kerja sama dengan Indonesia lebih luas

Permintaan disampaikan saat PM Vanuatu bertemu tim delegasi RI yang menyalurkan bantuan untuk para korban bencana siklon Judy dan Kevin.
swipe

Tim Delegasi Kemanusiaan RI, yang menyalurkan paket bantuan kemanusian untuk korban bencana siklon Judy dan Kevin di Vanuatu, tiba kembali di Tanah Air, Kamis (11/5) dini hari. Rombongan menumpangi Garuda Indonesia yang menempuh perjalanan sekitar 14 jam.

Tim delegasi dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy. Rombongan turut beranggotakan Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto; Ketua Komisi VIII DPR, Ashabul Kahfi; serta jajaran delegasi kementerian/lembaga.

"Alhamdulillah, pagi ini, sekitar pukul 01.30 WIB, tim dari pemerintah Republik Indonesia yang langsung saya pimpin selaku Menko PMK, kemudian Bapak Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, dan Ketua Komisi VIII DPR RI, Bapak Dr. Ashabul Kahfi, serta seluruh rombongan kembali ke Indonesia dengan selamat dalam rangka mengantar dan menyerahkan bantuan kemanusiaan dari pemerintah Republik Indonesia untuk rakyat dan pemerintah Republik Vanuatu," tutur Muhadjir.

Muhadjir mengatakan kedatangannya di Vanuatu disambut antusias dan senang oleh Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri (Menlu) Vanuatu. Setibanya di lokasi Muhadjir langsung mengadakan pertemuan bilateral dan membahas penyaluran bantuan, termasuk rencana perbaikan gedung VIP Bandara Port Vila.

"Semuanya berjalan dengan lancar. Mudah-mudahan ini adalah langkah yang bagus untuk pemerintah Indonesia, terutama dalam rangka mempererat hubungan kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan Republik Vanuatu, dan juga dengan negara-negara Pasifik selatan," ucapnya.

Eks Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini berharap hubungan diplomatik yang baik dapat terus berlanjut. Ini juga harapan Vanuatu, yang mau kerja sama lebih luas, termasuk di bidang ekonomi.

"Pemerimtah Republik Vanuatu berharap kemajuan yang telah dicapai Indonesia juga bisa ikut dirasakan oleh rakyat dan Republik Vanuatu," kata Muhadjir dalam keterangannya.

Suharyanto menambahkan, Indonesia telah dua kali menyalurkan bantuan ke Vanuatu selama pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Satu di antaranya senilai US$2,2 juta pada 2015 saat bencana angin topan terjadi.

"Ini membuktikan bahwa Indonesia tidak memandang negara manapun dan tidak terkait dengan hubungan diplomatik atau mungkin suara-suara yang tidak begitu mendukung kebijakan politik luar negeri Indonesia. Indonesia tidak melihat itu. Ketika negara itu mengalami kesulitan dan meminta bantuan, kita berangkat," paparnya.

Vanuatu mengumumkan keadaan darurat pascabencana gempa dan topan. Gempa magnitudo 6,5 itu terjadi pada 3 Maret lalu, sehari setelah topan Judy.

Badai kategori empat ini memicu kerusakan dan banjir di hampir seluruh 83 pulau. Di tengah situasi tersebut, penduduk setempat kini menghadapi badai tropis besar lainnya, topan Kevin (badai kategori tiga) yang membawa angin hingga 130 km/jam. 

Sekitar 5.000 orang dilaporkan telah mengungsi. Belum ada korban jiwa yang dilaporkan hingga kini. Namun, akibat bencana tersebut, hampir seluruh warga Vanuatu, sekitar 300.000 orang, terdampak. Kerugian diperkirakan US$50 juta.

img
Fatah Hidayat Sidiq
Reporter
img
Fatah Hidayat Sidiq
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan