sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Peringatan perang nuklir kembali ditujukan pada NATO

Rusia mengatakan kemungkinan perang nuklir besar-besaran mungkin saja terjadi.

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Jumat, 13 Mei 2022 07:59 WIB
Peringatan perang nuklir kembali ditujukan pada NATO

Rusia kembali memperingatkan perang nuklir apabila Amerika Serikat dan NATO ikut campur tangan dalam konfliknya dengan Ukraina. Peringatan itu terlontar dari mantan Presiden Dmitry Medvedev yang juga merupakan orang dekat Vladimir Putin.

Dilansir dari Reuters, Jumat (13/5), dia mengatakan, dukungan militer yang diberikan kepada Ukraina oleh Amerika Serikat dan sekutunya memicu konflik Rusia dengan NATO. Menurutnya, konflik seperti itu bahkan berpotensi perang nuklir besar-besaran.

""Negara-negara NATO memasok senjata ke Ukraina, melatih pasukannya untuk menggunakan peralatan Barat, mengirim tentara bayaran, dan latihan negara-negara aliansi di dekat perbatasan kita meningkatkan kemungkinan konflik langsung dan terbuka antara NATO dan Rusia," kata Medvedev dalam sebuah posting Telegram.

Diakui Asosiasi Kontrol Senjata di Woshington, Rusia dan Amerika Serikat memang memiliki kekuatan nuklir terbesar di dunia. Rusia memiliki sekitar 6.257 hulu ledak nuklir, NATO memiliki tiga, Ingris dan Prancis memiliki 6.065 hulu ledak nuklir gabungan.

Terakhir diberitakan, Rusia mengadakan gladi bersih pada Sabtu (7/5) waktu setempat, untuk parade militer dalam rangka memperingati Hari Kemenangan pada 9 Mei, ketika negara itu menandai kekalahan Nazi Jerman selama Perang Dunia II.

Hari Kemenangan tahun ini, yang jatuh pada Senin, tidak hanya akan menghormati konflik yang berakhir 77 tahun lalu. Banyak orang Rusia akan memikirkan ribuan tentara di negara tetangga Ukraina. Tanda-tanda dukungan kepada militer itu, telah tumbuh di seluruh negeri sejak 24 Februari, dengan huruf "Z" muncul di papan reklame dan tanda-tanda itu juga muncul di jalan-jalan, kereta bawah tanah, televisi dan media sosial.

Di tempat terpisah, tim penyelamat berusaha untuk mengevakuasi lebih banyak warga sipil dari terowongan di bawah pabrik baja yang luas di Mariupol, ketika pejuang Ukraina membuat langkah terakhir mereka untuk mencegah pengambilalihan penuh Moskow atas kota pelabuhan penting yang strategis itu.

Puluhan orang dievakuasi pada Jumat (6/5) dari pabrik Azovstal dan diserahkan kepada perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Komite Palang Merah Internasional, kata pejabat Rusia dan Ukraina. Militer Rusia mengatakan kelompok yang terdiri dari 50 orang itu termasuk 11 anak-anak.

Sponsored
Berita Lainnya