close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Foto: Nehandaradio
icon caption
Foto: Nehandaradio
Dunia
Kamis, 14 Maret 2024 11:14

Polisi serang markas sekte sesat, kuburan-kuburan bayi juga ditemukan

Polisi mengatakan di antara kuburan yang mereka temukan adalah tujuh bayi yang penguburannya tidak terdaftar pada pihak berwenang.
swipe

Polisi Zimbabwe menangkap seorang pria yang mengaku sebagai nabi dari sekte apostolik di sebuah kuil. Yang mengerikan, pihak berwenang menemukan 16 kuburan yang tidak terdaftar, termasuk kuburan bayi, dan lebih dari 250 anak-anak yang dijadikan sebagai buruh murah. 

Ismael Chokurongerwa, 56, yang mengakui dirinya nabi, memimpin sebuah sekte dengan lebih dari 1.000 anggota di sebuah peternakan sekitar 34 kilometer barat laut ibu kota, Harare, tempat anak-anak tinggal bersama para pengikutnya yang lain.

Anak-anak tersebut digunakan untuk melakukan berbagai aktivitas fisik demi kepentingan pimpinan sekte tersebut. Dari 251 anak tersebut, 246 di antaranya tidak memiliki akta kelahiran.

“Polisi menemukan bahwa semua anak usia sekolah tidak mengikuti pendidikan formal dan menjadi sasaran pelecehan sebagai buruh murah, melakukan pekerjaan kasar atas nama diajarkan keterampilan hidup,” kata juru bicara polisi Paul Nyathi dalam sebuah pernyataan pada Rabu (13/3).

Polisi mengatakan di antara kuburan yang mereka temukan adalah tujuh bayi yang penguburannya tidak terdaftar pada pihak berwenang.

Dia mengatakan petugas polisi menggerebek kuil itu pada hari Selasa. Chokurongerwa, yang menyebut dirinya Nabi Ismail, ditangkap bersama tujuh pembantunya karena melakukan aktivitas kriminal termasuk pelecehan terhadap anak di bawah umur.

Nyathi mengatakan rincian lebih lanjut akan diumumkan pada waktunya seiring penyelidikan dilakukan.

Tabloid milik negara, H-Metro, yang mendampingi polisi selama penggerebekan tersebut, memperlihatkan polisi yang mengenakan perlengkapan antihuru-hara berdebat dengan para penganut perempuan yang mengenakan pakaian putih dan penutup kepala yang menuntut pengembalian anak-anak yang dimasukkan ke dalam bus polisi yang telah menunggu. Tidak jelas ke mana polisi membawa anak-anak dan beberapa perempuan yang menemaninya saat itu.

"Mengapa mereka mengambil anak-anak kami? Kami nyaman di sini. Kami tidak ada masalah di sini," teriak salah seorang perempuan dalam video yang diposting di akun surat kabar di X.

Menurut surat kabar tersebut, petugas polisi bersenjatakan senjata api, asap air mata, dan anjing terlatih melakukan serangan di kuil tersebut. Para pengikut menggambarkan kompleks itu sebagai “tanah perjanjian mereka.”

Salah satu ajudan Chokurongerwa memberikan wawancara kepada surat kabar. Ia mengatakan bahwa bahwa keyakinan mereka langsung berasal dari Tuhan, bukan kitab suci.

“Keyakinan kami bukan dari kitab suci. Kami mendapatkannya langsung dari Tuhan, yang memberi kami aturan bagaimana kami bisa masuk surga. Tuhan melarang pendidikan formal, karena pelajaran di sekolah tersebut bertentangan dengan perintahnya,” katanya, seraya menambahkan bahwa “ Tuhan bilang kalau kita menyekolahkan anak kita tidak akan turun hujan. Lihat kekeringan di luar sana, tapi di sini kita diguyur hujan. Kita punya karunia telinga rohani untuk mendengar suara Tuhan,” tuturnya.

Kelompok apostolik yang memasukkan kepercayaan tradisional ke dalam doktrin Pantekosta sangat populer di negara Afrika bagian selatan yang sangat religius.

Hanya ada sedikit penelitian terperinci mengenai gereja-gereja Apostolik di Zimbabwe, namun studi UNICEF memperkirakan gereja ini adalah denominasi agama terbesar dengan sekitar 2,5 juta pengikut di negara berpenduduk 15 juta jiwa. Beberapa kelompok menganut doktrin yang menuntut agar pengikutnya menghindari pendidikan formal untuk anak-anak mereka, serta obat-obatan dan perawatan medis bagi anggotanya yang harus mencari kesembuhan melalui keyakinan mereka pada doa, air suci, dan batu yang diurapi.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, negara lain mulai mengizinkan anggotanya untuk mengunjungi rumah sakit dan mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolah menyusul kampanye intensif yang dilakukan oleh pemerintah dan organisasi non-pemerintah.

Di Kenya, polisi pada bulan April 2003 menangkap seorang pendeta, Paul Mackenzie, yang tinggal di pesisir Kenya yang diduga memerintahkan jemaatnya mati kelaparan agar bisa bertemu dengan Yesus.

Jaksa penuntut utama negara itu pada bulan Januari memerintahkan pendeta dan lebih dari 90 orang dari sekte kiamat didakwa melakukan pembunuhan, kekejaman, penyiksaan anak dan kejahatan lainnya atas kematian 429 orang yang diyakini sebagai anggota gereja tersebut.(voa)

img
Fitra Iskandar
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan