sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Presiden Chile: Tak ada ampun bagi pasukan yang melanggar

Protes telah mengguncang Chile selama satu bulan terakhir, melahirkan dugaan pelanggaran oleh aparat keamanan terhadap para pengunjuk rasa.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 18 Nov 2019 15:43 WIB
Presiden Chile: Tak ada ampun bagi pasukan yang melanggar
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 72347
Dirawat 35349
Meninggal 3469
Sembuh 33529

Presiden Chile Sebastian Pinera menekankan, tidak akan ada impunitas bagi pasukan keamanan yang menggunakan kekuatan berlebihan dan melanggar hak-hak pengunjuk rasa selama aksi protes. Demonstrasi yang dipicu kebijakan ekonomi dan kesenjangan sosial selama berminggu-minggu di negara itu telah menewaskan lebih dari 20 orang.

Jaksa penuntut umum di Chile saat ini tengah menyelidiki lebih dari 1.000 kasus dugaan pelanggaran, mulai dari penyiksaan hingga kekerasan seksual, oleh polisi dan personel militer. Sementara itu, PBB dan Amnesty International telah mengirim tim untuk menyelidiki dugaan pelanggaran HAM oleh pasukan keamanan.

"Terlepas dari komitmen dan tindakan pencegahan kami ... untuk melindungi HAM, dalam sejumlah kasus ada protokol yang tidak dipatuhi, ada penggunaan kekuatan yang berlebihan dan pelanggaran serta kejahatan yang dilakukan," kata Pinera dalam pidato yang disiarkan di televisi pada Minggu (17/11) malam.

"Tidak akan ada impunitas."

Pinera sebelumnya mengatakan, pemerintah tidak menyembunyikan apa pun atas tuduhan bahwa pasukan keamanan telah menyiksa para pemrotes. Dia berjanji untuk menyelidikinya.

Protes yang terkadang diwarnai kekerasan, telah mengguncang Ibu Kota Santiago selama satu bulan terakhir, menjadikan itu sebagai krisis terbesar yang melanda Chile sejak negara itu kembali ke demokrasi pada 1990. Ekonomi Chile terkena imbas, mendorong prakiraan yang semakin suram atas pertumbuhan dan pengangguran.

Pemerintah Pinera telah menjanjikan serangkaian reformasi untuk memadamkan tuntutan para pemrotes, mulai dari menaikkan upah minimum hingga menambah dana pensiun.

Legislator Chile pada Jumat (15/11), juga mengumumkan rencana untuk mengadakan referendum pada April 2020 untuk menggantikan konstitusi era kediktatoran negara itu. Dalam pidatonya dari Istana La Moneda, Pinera memuji keputusan itu.

Sponsored

Konstitusi saat ini telah diamandemen beberapa kali tetapi tidak menetapkan tanggung jawab negara untuk menyediakan pendidikan dan perawatan kesehatan.

"Dalam empat pekan terakhir, Chile telah berubah. Rakyat Chile telah berubah. Pemerintah telah berubah. Kita semua telah berubah," ujar Pinera. "Pakta sosial yang menaungi kehidupan kita telah rusak."

Sebuah survei yang diterbitkan pada hari Minggu (17/11) oleh perusahaan konsulten Cadem mengungkap peningkatan popularitas Pinera selama sepekan terakhir, naik menjadi 17% dari 13% pada puncak protes.

Survei itu juga mengindikasikan bahwa 67% rakyat Chile mendukung konstitusi baru. Meski demikian, terlepas dari pengumuman itu, sejumlah orang masih turun ke jalan-jalan di Santiago dan beberapa bentrokan dengan polisi tidak terhindarkan.

Sumber : Al Jazeera

Berita Lainnya