logo alinea.id logo alinea.id

Singapura, kota kedua di dunia dengan kualitas udara terburuk

Singapura, yang bahkan tidak masuk dalam posisi 10 besar pada Senin (16/9) pagi, kini duduk di peringkat kedua.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 17 Sep 2019 15:55 WIB
Singapura, kota kedua di dunia dengan kualitas udara terburuk

Pada Selasa (17/9), kualitas udara di Singapura, Malaysia dan Indonesia masih mengkhawatirkan. Pada pukul 15.17 WIB, Malaysia berada di urutan keenam dalam daftar negara dengan kualitas udara terburuk versi World Air Quality Index, sementara Indonesia berada di urutan keempat.

Singapura berada di peringat ke-11 dengan angka kualitas udara 169 yang berada dalam kisaran "tidak sehat".

Pukul 15.10 WIB, Kuching dan Kuala Lumpur menduduki peringkat pertama dan keenam di daftar kota-kota besar dengan kualitas udara terburuk versi AirVisual.

Sedangkan Singapura, yang bahkan tidak masuk dalam posisi 10 besar pada Senin (16/9) pagi, kini duduk di peringkat kedua.

Sementara itu, situasi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia masih buruk. Seorang bayi berusia empat bulan dan pria usia 59 tahun dilaporkan tewas akibat krisis kabut asap yang masih berlanjut.

Menurut The Strait Times, bayi tersebut dilarikan ke rumah sakit karena menderita masalah pernapasan sementara pria lansia itu ditemukan tewas di perkebunannya sendiri.

Data Indeks Standard Pencemar Udara (ISPU) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI menyatakan bahwa pada Senin (16/9), kualitas udara Pekanbaru di Riau menyentuh 192 yang dikategorikan sebagai "tidak sehat". Kualitas udara di Pontianak, Kalimantan Barat, mencapai 160 yang juga dianggap "tidak sehat".

Pada Selasa pagi waktu setempat, Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) mengatakan bahwa pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Kabut Asap (HTF) yang terdiri dari 28 lembaga pemerintah. Satgas itu akan menerapkan langkah-langkah untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan publik.

Sponsored

HTF dijadwalkan untuk bertemu setiap tahun pada Mei, yang biasanya merupakan awal musim kemarau, untuk memperbarui rencana aksi mereka.

Data Indeks Polusi Standar (PSI) 24 jam di Singapura berada di angka 90-100 pada Selasa siang, lebih tinggi dari 78-84 pada Senin malam.

Menurut PSI, angka 50 ke bawah menunjukkan kualitas udara "baik", 51-100 "sedang", dan 101-200 dikategorikan sebagai "tidak sehat". PSI mencapai tingkat "tidak sehat" dengan angka 116 untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pada Sabtu (14/9) sore waktu setempat.

Sementara itu, data per jam PM2.5, yang mengukur level polusi, berkisar 68-102 yang masuk kategori Band II atau "tinggi" pada Selasa sore.

Berbeda dengan Singapura dan Indonesia, Malaysia menggunakan API untuk mengukur kualitas udara. Data API untuk Sri Aman, Sarawak, mencapai 386 dan jatuh ke kategori "berbahaya" pada Selasa pukul 15.00 waktu setempat.

Data API yang diukur per jam milik Kementerian Lingkungan Malaysia menunjukkan bahwa kualitas udara Sri Aman terus memburuk dan memasuki tingkat "berbahaya" di angka 311 pada Selasa pukul 03.00.

Sarawak terletak di dekat perbatasan dengan Kalimantan, di mana kebakaran hutan telah terjadi selama berminggu-minggu, mengirimkan kabut asap tebal ke sejumlah wilayah Malaysia.

Selain di Sri Aman, kabut asap di bagian lain di Malaysia juga tidak membaik. Data pada Selasa menunjukkan bahwa lima daerah masih masuk kategori "sangat tidak sehat" dan 30 lainnya berada dalam kisaran "tidak sehat".

Angka API dari 0-50 menunjukkan kualitas udara yang "baik", 51-100 dikategorikan sebagai "sedang", 101-200 merupakan "tidak sehat", 201-300 "sangat tidak sehat" dan 300 ke atas dianggap "berbahaya".

Akibat kabut asap, Kementerian Pendidikan Malaysia memerintahkan 298 sekolah di Sarawak, 138 sekolah di Selangor, 65 sekolah di Port Dickinson dan 25 sekolah di Putrajaya untuk meliburkan diri. (Business Insider)