logo alinea.id logo alinea.id

Tersangka penembakan di masjid Norwegia mengaku tidak bersalah

Polisi menuturkan bahwa tersangka mengakui dirinya berhaluan kanan jauh dan antiimigran.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 13 Agst 2019 12:34 WIB
Tersangka penembakan di masjid Norwegia mengaku tidak bersalah

Philip Manshaus (21), tersangka penembakan di masjid di Norwegia, mengaku tidak bersalah dalam persidangan pada Senin (12/8).

Manshaus yang melepas tembakan di Al-Noor Islamic Centre, di pinggiran Ibu Kota Oslo, pada Sabtu (10/8) muncul di pengadilan pada Senin dengan lebam di wajah dan lehernya. Dia tidak bersuara ketika ada wartawan dan sejauh ini menolak untuk berbicara dengan polisi.

"Dia menggunakan haknya untuk tidak diinterogasi," kata pengacara Manshaus, Unni Fries. "Dia tidak mengakui kesalahan apa pun."

Dalam persidangan itu, hakim memberikan izin kepada polisi untuk menahan Manshaus selama empat pekan selagi dia diselidiki dengan dugaan pembunuhan dan pelanggaran UU antiterorisme.

Vonis bersalah atas tuduhan melanggar UU antiterorisme dan pembunuhan dapat diganjar masing-masing hukuman maksimal 21 tahun penjara. Persidangan untuk memutuskan apakah Manshaus bersalah atau tidak kemungkinan akan digelar dalam beberapa bulan mendatang.

Para saksi mata mengatakan Manshaus memasuki Al-Noor Islamic Centre dengan membawa beberapa senjata. Dia berhasil dilumpuhkan oleh seorang anggota jemaah bernama Mohammad Rafiq (65). Rafiq menderita luka ringan.

Manshaus mengenakan helm yang dilengkapi dengan kamera untuk merekam aksinya. Namun jaksa penuntut menyatakan bahwa dia tidak menyiarkan penembakan itu.

"Video itu adalah bukti kunci," kata pejabat kepolisian, Paal-Fredrik Hjort Kraby dalam konferensi pers.

Sponsored

Polisi menuturkan bahwa Manshaus mengakui dirinya berhaluan kanan jauh dan antiimigran. Keterangan itu diperoleh dari sejumlah unggahan di internet atas namanya yang dibuat sesaat sebelum serangan terjadi.

Sejumlah unggahan tersebut menyatakan kekaguman Manshaus terhadap penembakan massal yang menewaskan lebih dari 50 orang di dua masjid di Selandia Baru pada Maret. Pelaku penembakan itu, Brenton Tarrant, merupakan seorang penganut ideologi supremasi kulit putih. Dia merekam dan menyiarkan aksinya melalui Facebook.

Beberapa jam setelah penyerangan di Al-Noor Islamic Centre, polisi menemukan jasad seorang perempuan di rumah tersangka. Polisi mengidentifikasinya sebagai saudara tiri Manshaus, Johanne Zhangjia Ihle-Hansen (17).

Saat kecil, remaja berdarah Tiongkok itu diadopsi oleh seorang wanita Norwegia yang kini menjadi ibu tiri Manshaus.

"Apa yang telah terjadi sangat kacau dan merupakan sebuah tragedi," kata Elisabeth Hagen, pengacara dari ibu tiri Manshaus.

Hagen menolak mengomentari kemungkinan motif pembunuhan itu.

Pada Minggu (11/8), Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg mengatakan bahwa masih banyak yang perlu dilakukan untuk memerangi kebencian.

"Kami mencoba untuk melawan ini, tetapi ini tidak mudah. Saya pikir persoalan ini adalah masalah yang luas," kata Solberg.

Menurut polisi, beberapa senjata yang dimiliki Manshaus telah dibeli secara sah namun ada pula yang diperoleh secara ilegal.

Layanan kepolisian Norwegia (PST), yang memantau dan menyelidiki ancaman ekstremis, mengatakan pada Senin bahwa pihaknya telah menerima petunjuk terkait Manshaus pada tahun lalu. Namun mereka belum meluncurkan penyelidikan pada saat itu.

"Tidak ada informasi dalam petunjuk itu yang mengindikasikan ada bahaya tindakan terorisme atau bahwa tersangka sedang merencanakan sebuah serangan," kata Kepala PST Hans Sverre Sjoevold.

PST akan menyelidiki apakah Manshaus memiliki hubungan dengan jaringan kelompok ekstremis di dalam atau luar negeri. Sebelumnya, para penyelidik meyakini bahwa tersangka bergerak sendiri dalam melakukan serangan itu.

Ini bukan pertama kalinya penembakan massal terjadi di Norwegia. Pada Juli 2011, Anders Behring Breivik, seorang antimuslim dan neo-Nazi menewaskan 77 orang akibat bom mobil dan penembakan massal. Breivik mengklaim dirinya termotivasi oleh kebenciannya terhadap multikulturalisme.