logo alinea.id logo alinea.id

Trump batalkan perundingan dengan Taliban karena serangan

Kelompok gerilyawan Taliban mengaku berada di balik serangan di Kabul.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Minggu, 08 Sep 2019 13:50 WIB
Trump batalkan perundingan dengan Taliban karena serangan

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan telah membatalkan perundingan perdamaian dengan pemimpin Taliban Afghanistan pada Sabtu (7/9). Keputusan itu diambil setelah kelompok gerilyawan mengaku berada di balik serangan di Kabul, yang menewaskan satu tentara AS dan 11 orang lainnya.

Trump mengatakan ia tadinya berencana melakukan pertemuan rahasia dengan para pemimpin utama Taliban pada Minggu (8/9) di kompleks kepresidenan di Camp David, Maryland.

Trump juga mengatakan bahwa ia sedianya akan bertemu dengan presiden Afghanistan.

Namun, kata Trump, dia segera membatalkan rencana pembicaraan itu setelah Taliban menyatakan sebagai pihak di balik serangan.

"Kalau mereka tidak bisa menyetujui gencatan senjata selama perundingan perdamaian yang sangat penting ini, dan bahkan membunuh 12 orang tak berdosa, mungkin mereka juga tidak punya kekuatan untuk merundingkan perjanjian itu," kata Trump di Twitter.

Para gerilyawan Taliban, yang saat ini menguasai lebih banyak wilayah dibandingkan dengan masa sejak 2001, pekan lalu melancarkan serangkaian serangan baru di kota-kota utara, Kunduz dan Pul-e Khumri.

Mereka juga melakukan dua pengeboman bunuh diri di Ibu Kota Afghanistan, Kabul.

Salah satu ledakan itu, yakni serangan bunuh diri di Kabul pada Kamis (5/9), menewaskan Sersan Angkatan Darat Elis A. Barreto Ortiz, 34 tahun asal Puerto Rico.

Sponsored

Dengan kematian Ortiz, sudah 16 tentara Amerika Serikat yang tewas di Afghanistan sepanjang tahun ini.

Pada awal pekan ini, para perunding AS dan Taliban membuat rancangan kesepakatan perdamaian, yang bisa membuka jalan bagi AS untuk semakin mengurangi jumlah tentaranya di Afghanistan --dalam perang terlama yang dijalani AS.

Berdasarkan kesepakatan itu, ribuan tentara AS akan dipulangkan ke tanah air mereka dalam kurun berapa bulan. Sebagai imbalannya, Taliban harus menjamin bahwa Afghanistan tidak akan digunakan sebagai markas untuk melancarkan serangan militan terhadap Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya.

Perjanjian perdamaian secara penuh, untuk mengakhiri perang dari 18 tahun, itu akan bergantung pada perundingan antar-kalangan di Afghanistan"berikutnya.

Taliban telah menolak desakan untuk melakukan gencatan senjata. Kelompok itu justru semakin meningkatkan pergerakannya di seantero negeri. (Ant)