Sepanjang sejarah, banyak komedian menggunakan humor untuk menantang rezim represif sekaligus memperjuangkan keadilan sosial. Salah satu yang kerap disebut adalah satiris Jerman Werner Finck, yang secara terbuka mengejek rezim Nazi pada 1930-an. Tradisi perlawanan lewat komedi ini berlanjut lintas zaman dan negara, menjadikan humor sebagai medium kritik terhadap otoritarianisme modern.
Berikut lima komedian yang dikenal menggunakan humor sebagai bentuk perlawanan terhadap rezim, sebagaimana dikutip dari The Guardian.
Werner Finck
Seorang komedian kabaret Jerman, Finck dikenal lewat kecerdasan tajam dan “parodi otoriter yang nyaris tak keliru” dalam mengejek rezim Nazi pada 1930-an. Ia kerap meniru gerak-gerik fisik para pemimpin Nazi, termasuk Joseph Goebbels. Sikap pembangkangannya berujung pada penangkapan dan pemenjaraan di kamp konsentrasi pada 1935, serta pelarangan tampil secara bebas.
Fritz Grünbaum
Fritz Grünbaum adalah pemain kabaret Yahudi asal Austria yang terkenal dengan humor sarkastiknya. Sejak awal 1920-an, ia secara terbuka mengkritik Adolf Hitler. Grünbaum ditangkap pada 1938 saat berupaya melarikan diri dari Austria dan meninggal di kamp konsentrasi Dachau pada 1941.
Charlie Chaplin
Ketika banyak komedian di Eropa dibungkam, Charlie Chaplin justru tampil menantang lewat film The Great Dictator. Film ini menjadi salah satu sikap terbuka pertama Hollywood melawan Nazi, dengan satire tajam yang merusak kultus kepribadian Hitler melalui medium film global.
Bassem Youssef
Komedian Mesir dan mantan ahli bedah jantung Bassem Youssef membawakan acara berita satir Al-Bernameg, yang populer dan kerap dijuluki sebagai “Jon Stewart-nya Mesir”. Ia secara konsisten mengkritik pemerintah Mesir pascarevolusi, termasuk kepemimpinan Abdel Fattah al-Sisi. Tekanan politik akhirnya membuat acaranya dibatalkan dan memaksanya pindah ke Amerika Serikat.
Maz Jobrani
Maz Jobrani, komedian kelahiran Iran yang berbasis di Amerika Serikat, menggunakan panggung stand-up untuk mengomentari situasi politik di tanah kelahirannya serta menyuarakan protes anti-rezim di Iran. Dalam pertunjukannya, ia kerap membahas isu diskriminasi dan stereotip Timur Tengah, menjadikan humor sebagai alat kritik sosial dan penantang narasi dominan.