logo alinea.id logo alinea.id

57x76: Kolaborasi epik Hanafi dan Goenawan Mohamad

Bagaimana jadinya jika instalasi seni dibangun oleh duet esais Goenawan Mohamad dan pelukis abstrak sekelas Hanafi?

Annisa Saumi
Annisa Saumi Jumat, 22 Jun 2018 16:14 WIB
57x76: Kolaborasi epik Hanafi dan Goenawan Mohamad

Esais Goenawan Mohamad (GM) dan pelukis abstrak Hanafi berkolaborasi bersama dalam pameran seni rupa ‘57x76’. Pameran yang diadakan di Galeri Nasional tersebut memajang 200 karya kolaborasi antara GM dan Hanafi, yang mereka kerjakan dalam rentang waktu enam bulan. Pameran digelar dari 21 Juni hingga 2 Juli 2018. Selain lukisan, Galeri Nasional juga memajang beberapa rancangan instalasi yang sebagian besar dikerjakan Hanafi.

Tajuk pameran 57x76 sendiri terinspirasi dari umur kedua pelukis, Hanafi yang berusia 57 tahun dan GM 76 tahun. Proses kolaborasi artistik kedua pelukis terbilang unik. Hanafi akan memulai dengan kanvas atau kertas yang telah dilukis, lalu memberikannya pada GM untuk diteruskan, demikian pula sebaliknya.

Hanafi dan GM hanya bertemu satu-dua kali untuk melukis bersama di suatu tempat. Sebagian besar karya mereka yang dipajang di Galeri Nasional tersebut mereka selesaikan di studio masing-masing, tanpa tatap muka. Hanafi maupun GM harus pasrah menerima kejutan-kejutan ketika gagasan dan bentuk yang mereka canangkan pada tahap awal harus mengalami pergeseran, perluasan, hingga perubahan besar.

'Revolusi Prancis di atas meja kaca' lukisan kolaborasi karya GM dan Hanafi yang sedang dipajang di Galeri Nasional (Saumi/ Alinea).

Ide untuk mengadakan kolaborasi tersebut muncul secara spontan dari Hanafi ketika ia menyaksikan pameran tunggal GM, "Kata, Gambar" tahun lalu.

“Pameran tidak akan terjadi jika tidak ada saling percaya di antara mereka, faktor kedekatan mereka berdua sangat berpengaruh,” kata Agung Hujatnikajennong, penyelenggara pameran ‘57x76’.

Sponsored

Salah satu lukisan kolaborasi Goenawan Mohamad dan Hanafi dalam pameran 57x76 dipajang di Galeri Nasional (Saumi/ Alinea).

“Ada aspek yang tidak terduga di situ (proses artistik), penuh ketidakpastian,” lanjut Jennong. Kolaborasi ini, kata Jennong, tidak lagi melihat individu sebagai seniman, tetapi, sebagai sebuah kesepakatan. Pameran ini menandai kolaborasi pertama GM sebagai seorang perupa sepanjang hidupnya.

Kolaborasi bukanlah barang baru baik bagi GM maupun Hanafi. Dalam kerja-kerja kepenulisannya, GM telah banyak berkolaborasi dengan para redaktur, penyunting, maupun penerjemah. Sementara itu, Hanafi juga memiliki riwayat panjang kolaborasi dari berbagai praktisi disiplin lain seperti arsitek, sastrawan, koreografer, dan penari.

Tur Galeri Nasional

Kamis sore (21/6) GM dan Hanafi mengajak awak media berkeliling Gedung A Galeri Nasional, tempat diselenggarakannya pameran mereka. Saat memasuki pameran '57x76', pengunjung akan disambut dengan puluhan lukisan yang terdiri dari garis-garis horizontal dan vertikal dengan berbagai macam warna dan bentuk garis. Hanafi mengandaikan garis-garis tersebut sebagai Hablumminallah (hubungan vertikal dengan pencipta) dan hablumminannas (hubungan horizontal dengan sesama manusia).

Sebuah lukisan besar bernama ‘Revolusi Prancis di atas meja kaca’ menjadi pusat perhatian GM dan Hanafi. “Dalam revolusi terjadi banyak pembunuhan, termasuk raja juga dibunuh. Seorang kaum konservatif Prancis pernah berkata ‘revolusi itu seperti dewa yang memakan anaknya sendiri’,” kata GM menjelaskan kolaborasi lukisan mereka.

'Bak Mandi' tempat memajang karya kolaborasi lukisan Goenawan Mohamad dan Hanafi di Galeri Nasional (Saumi/ Alinea).

Di ruang selanjutnya, pengunjung akan mendapati puluhan kolaborasi lukisan kedua seniman tersebut dipasang di tempat yang mirip ‘bak mandi’. “Di pameran lain, orang-orang biasanya akan adu punggung karena lukisan dipajang di dinding. Kali ini, karena tempat pajangnya berbentuk seperti bak mandi, orang-orang akan saling tatap muka,” kata Hanafi.

Hanafi dan GM menjelaskan jika pelukis seperti Antoni Tàpies, Pablo Picasso, dan Max Ernst menjadi sumber inspirasi mereka. Tiga orang seniman Eropa tersebut menjadi media mereka berdua untuk mengobrol. Hanafi bahkan mengungkapkan kekagumannya pada visi artistik Antoni Tàpies, seniman asal Katalunya, Spanyol yang banyak melukis karya abstrak sepanjang hidupnya.

Tàpies dalam kolaborasi lukisan GM dan Hanafi terlihat dari warna dan simbol yang dibubuhkan. Tàpies sendiri sepanjang karir melukisnya gemar memadukan warna seperti hitam, coklat, merah, dan putih dan sering membubuhkan tanda + (tambah) atau x (silang) dalam karya-karyanya.

Instalasi seni untuk mendampingi lukisan Stephen Hawking di Galeri Nasional dalam pameran 57x76 (Saumi/ Alinea).

Selain memajang lukisan, ada pula instalasi seni yang dikerjakan oleh Hanafi. Salah satu instalasi seni dibuat oleh Hanafi khusus untuk menghormati ilmuwan Stephen Hawking yang meninggal pada Maret lalu. Instalasi seni tersebut berupa beberapa kursi roda yang diatur sedemikian rupa untuk melengkapi lukisan besar Stephen Hawking yang dibuat bersama dengan GM.