sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

A Man Called Ahok: Biopik nir-politik dalam kemasan biasa

Akting para pemain buruk. Untungnya, film tak terjebak pada glorifikasi sosok Ahok atau muatan politis lainnya.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Sabtu, 10 Nov 2018 19:34 WIB
A Man Called Ahok: Biopik nir-politik dalam kemasan biasa
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 70736
Dirawat 34668
Meninggal 3417
Sembuh 32651

Kita perlu bersepakat, Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama adalah tokoh kontroversial. Sepak terjangnya sejak menjadi anggota dewan hingga pemimpin daerah diwarnai drama yang tak henti bergulir. Meski kini ia mendekam di balik sel penjara, namanya masih selalu dibicarakan para pendukung fanatik maupun lawan politik. 

Sebuah film biopik tentang Ahok pun diangkat ke layar lebar dengan judul "A Man Called Ahok". Cerita tidak fokus pada karir politik atau pemikiran Ahok dalam mereformasi aturan. Namun, lebih banyak menelanjangi Ahok kecil, juga seluruh keluarganya, termasuk Tjoeng Kim Nam, ayah Ahok yang seorang tauke di Gantung, Belitung Timur.

Kim Nam (Deny Sumargo) adalah pengusaha tambang timah yang sangat terpandang di Gantung. Ia adalah tipe orang kaya yang dermawan. Tak segan dia membagi rezeki kepada para tetangga. Dalam kondisi keuangan keluarga yang sedang surut pun, tauke ini selalu memberi pinjaman uang pada orang yang sedang kesulitan.

Boen Nen Tjaw (Eriska Rein), istri Kim, selalu menentang suaminya. Boen acapkali protes karena Kim terus-terusan membantu para tetangga. Pertengkaran mereka menjadi hal yang biasa dilihat Ahok remaja (Eric Febrian) dan ketiga adiknya, Basuri, Fifi, dan Harry sehari-hari. Meski sering adu mulut, namun mereka tetap rukun.

Kepada keempat anak-anaknya, Kim selalu menanamkan kedisiplinan dan kedermawanan. Baginya, berbagi dengan sesama manusia adalah kewajiban, meski tengah terjepit sekalipun. “Berbagi dalam ketiadaan,” begitu dia menyebutnya.

Dari keempat anaknya, Basuki dan Basuri yang diajarkan langsung bagaimana mengelola perusahaan. Suatu ketika, dua bocah itu disuruh bapaknya menemui pemasok aspal. Tugas keduanya adalah mencatat utang yang belum dibayarkan Kim.

Film bergulir. Kim Nam tua (Chew Kin Wah) mulai sakit-sakitan saat kondisi perusahaan sedang terpuruk. Utang menumpuk, Saat perekonomian keluarga sedang surut begini, Ahok yang sudah mendapat gelar sarjana di Jakarta, pulang ke kampung halaman. Sayang, Ahok mabur dari sekolah dokternya, dan malah sekolah tambang. Ayahnya tentu kecewa berat.

Ahok kukuh ingin membantu ayahnya sebagai pengusaha. Dia menawarkan berbagai rencana baru untuk menyelamatkan perusahaan. Namun, ayahnya tentu menolak. Alasan utama karena dia tidak mau merumahkan para pekerja. Berada di pemikiran yang berseberangan, baik Ahok dan Kim semakin keras kepala. Ahok akhirnya pergi kembali ke Jakarta untuk mengambil kuliah magister.  

Sponsored

Pertengkaran Ahok dengan ayahnya tak kunjung padam. Begitu pun dengan permasalahan perusahaan Kim. Hingga akhirnya Kim menutup napas. Ahok pun memulai usahanya membuka tambang timah. Serupa dengan ayahnya, dia mau berlaku jujur dalam usaha.

Saat kisah Ahok difilmkan

Masalah datang saat pejabat setempat meminta pungutan liar kepada Ahok. Pejabat ini (Donny Damara) adalah yang dulu juga memeras Kim. Ahok kian gusar. Dia berpikir, hanya ada satu cara untuk melawan para penindas tersebut, yakni menjadi pembuat kebijakan. Ini menjadi tonggak awal ia memulai karier politik sebagai anggota dewan Belitung Timur, lalu menjadi Bupati.

Banyak cacat 

Banyak hal yang mengganggu dalam film besutan Putrama Tuta ini. Pertama, penulis naskah terlalu berusaha keras memasukkan berbagai unsur drama dan konflik di dalamnya. Mulai dari permasalahan ekonomi keluarga Kim Nam, perusahaan yang hampir bangkrut, hingga Ahok yang diremehkan sebagai calon Bupati Belitung Timur.

Konflik yang muncul dalam film ini pun sangat tidak jelas dan tumpang tindih. Film seperti luput membangun plot tiga babak sesuai kaidah. Setiap ada konflik, tidak ada jalan keluar yang diberikan sutradara pun penulis naskah. Begitu pun dengan twist atau kejutan lainnya. 

Kim memang dihadang konflik permasalahan seperti terlibat utang, diperas pejabat setempat, hingga anak buah yang culas. Namun, tidak ada penyelesaian dalam konflik tersebut. Klimaks? Nihil. Ada pula perseteruan Kim tua dan Ahok dewasa yang terjadi terus menerus. Meski begitu, entah kenapa saat Kim mati, kepergiannya digambarkan dalam damai. Padahal, dia tidak mendapati Ahok maupun anak lainnya yang mengikuti kehendaknya. 

Kedua, transisi adegan, dialog, dan karakter tokoh tidak dibangun dengan apik. Misalnya, dalam satu scene makan malam keluarga yang cukup hangat, terjadi percakapan ringan. Tiba-tiba Kim Nam memberikan wejangan kepada anak-anaknya untuk saling menjaga saudara sekandung.

“Saat berburu harimau, yang namanya saudara tidak akan meninggalkan saudara lainnya,” kata dia.

Dialog yang dilantangkan Deny Sumargo dengan sangat kaku itu terasa tidak pas dalam suasana makan keluarga yang santai. Analogi yang digunakan pun terkesan wagu untuk dilontarkan kepada bocah-bocah SD. Sebagai penonton, saya cukup bingung apa yang mendorong Kim berbicara seperti itu.

Terakhir, yang tak kalah bikin gerah adalah akting para pemain yang sangat buruk. Deny Sumargo jelas punya kualitas akting paling parah. Perannya sebagai Kim Nam muda cenderung kaku. Tak jarang eskpresi wajahnya dibuat-buat untuk berperan sebagai ayah Ahok. Bahkan, saat beradu dialog dalam satu frame dengan Donny Damara yang menjadi pejabat Belitung Timur, akting Deny kalah telak.

Daniel Mananta juga tak kalah menyedihkan. Pembawa acara Indonesian Idol ini memang berhasil menaikkan berat badan sebesar 5-6 kilogram agar mirip Ahok. Namun sayang, baik fisik maupun karakter, dia tetap tidak bisa menyerupai mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut. Susah payah Daniel meniru suara Ahok serta logat bicaranya, tapi hasilnya tetap amburadul. Ini adalah hal paling fatal karena Daniel merupakan tokoh utama film ini.

Untung ada Chew Kin Wah yang menyelamatkan film dengan aktingnya yang menawan dan mengaduk emosi, seperti biasa. Aktor asal Malaysia tersebut bermain sangat lihai sebagai Kim Nam. Aktingnya memang tidak perlu diragukan sejak menjadi Koh Afuk dalam film "Cek Toko Sebelah" garapan Ernest Prakasa. Dalam "A Man Called Ahok" sekarang, Kin Wah mampu mengembangkan karakter Kim Nam sebagai pria Tionghoa yang keras kepala, sekaligus bertanggung jawab pada keluarga. 

Meski banyak lubangnya, film ini masih menyisakan hal yang patut diapresiasi dari sisi sinematografi dan latar yang baik. Ketika melihat daftar crew "A Man Called Ahok", saya tak terkejut karena Yadi Sugandi yang didapuk sebagai Director of Photography. 

Karya visual Yadi selalu bisa dinikmati, seperti dalam film-film epik macam "Ada Apa Dengan Cinta", "Sang Penari", "Laskar Pelangi", dan "Petualangan Sherina". Dalam "A Man Called Ahok", Yadi berhasil menampilkan keindahan pantai dengan pasir putih dan batu besar kasar di Belitung kepada penonton. Sayang, porsinya hanya sedikit dari keseluruhan durasi film.

Mungkin jika digarap dengan sudut pandang lakon para manusia dengan latar Belitung Timur yang sangat indah, film ini sedikit terselamatkan. Karena toh, sebagai film biopik, "A Man Called Ahok" juga banyak cacat. Apalagi karakter yang kuat dalam film ini bukan Ahok, tapi Kim Nam si tauke asal Gantung, Belitung Timur. Barangkali lebih cocok menyebut, ini film soal Kim nam, bukan Ahok.

 

2.5

(-) : Cerita lemah, plot amburadul, akting buruk. (+) : Sinematografi dan setting bagus.

 

Berita Lainnya