close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Pemudik sepeda motor mengantre memasuki kapal Roro di dermaga 3 pelabuhan penyeberangan Bakauheni, Lampung Selatan, Lampung, Sabtu (8/6/2019). Foto Antara/Ardiansyah
icon caption
Pemudik sepeda motor mengantre memasuki kapal Roro di dermaga 3 pelabuhan penyeberangan Bakauheni, Lampung Selatan, Lampung, Sabtu (8/6/2019). Foto Antara/Ardiansyah
Sosial dan Gaya Hidup
Sabtu, 06 April 2024 06:42

Agar berkendara sepeda motor selamat sampai kampung halaman

Dari tahun ke tahun, pengendara sepeda motor mewarnai aktivitas mudik Lebaran. Padahal, angka kecelakaannya tinggi.
swipe

Sore itu, Daniel tengah beristirahat sejenak usai sibuk mengutak-atik sepeda motor konsumennya di Dell Motor, Ciputat, Tangerang, Banten. Menjelang hari raya Idulfitri, bengkelnya kebanjiran order dari konsumen yang ingin pulang kampung atau mudik menggunakan sepeda motor. Ia mengungkapkan, peningkatan perbaikan sepeda motor di bengkel itu hampir 20% dibanding biasanya.

“Peningkatannya begitu cepat dan pesat ya, itu terlihat sebelum dan menjelang Lebaran,” kata Daniel saat ditemui Alinea.id di Ciputat, Tangerang, Banten, Kamis (4/4).

Nyaris setiap jam, ujar dia, ada saja sepeda motor yang masuk bengkelnya untuk diperbaiki. Bahkan, pernah 12 sepeda motor dalam sehari datang ke bengkelnya. “Kalau ditotal dari tanggal 1 (April) sampai sekarang (4 April) ya sudah puluhan (sepeda motor) lebih lah,” tutur Daniel.

Jenis perbaikan yang sering dilakukan pemudik, kata Daniel, antara lain cek mesin, penggantian kampas rem, ban, oli, dan aki. Sedangkan bagian dari sepeda motor yang harus diperiksa khusus agar aman, katanya, yakni mesin, rem, aki, dan rantai.

Di bengkel tersebut, Arief tengah menunggu sepeda motornya beres diperbaiki. Alasannya pergi ke bengkel, sebelum berangkat ke kampung halaman, supaya dalam perjalanan merasa aman dan nyaman.

“Mencegah sesuatu yang tidak diinginkan selama dalam perjalanan,” ujar Arief di Ciputat, Tangerang, Banten, Kamis (4/4).

“(Ongkosnya) sekitar Rp300.000, dari ganti oli, kampas rem, dan lain-lain.”

Bersama anak dan istrinya, Arief bakal mudik ke Sukabumi, Jawa Barat. Ia memperkirakan, perjalanan bila tak macet sekitar tujuh jam. “Kalau macet mungkin bisa 12 jam lebih,” kata dia.

Arief mengaku sudah lama tak pulang kampung. Alasannya memakai sepeda motor untuk mudik adalah menghindari kemacetan di jalan. “Pakai motor enak, bisa nyelap-nyelip,” tutur Arief.

Serupa dengan Arief, calon pemudik lainnya, Jamaludin Malik, memperbaiki kendaraan roda duanya agar aman selama berkendara. Selain itu, ia menghindari dari masalah, seperti pecah ban atau rantai putus.

“Yang lebih parah, bisa turun mesin. Takutnya mesin panas, enggak dibersihin yang ada malah berabe,” kata Jamaludin di Ciputat, Tangerang, Banten, Kamis (4/4).

Ia menghabiskan uang sekitar Rp700.000 untuk mengganti macam-macam onderdil. Bersama istrinya, Jamaludin bakal mudik ke Garut, Jawa Barat dengan sepeda motor. Alasannya, selain menghindari macet, menggunakan sepeda motor lebih efisien dan murah. Ia memperkirakan, perjalanan ditempuh selama sembilan hingga 10 jam.

“Kalau enggak macet ya. Kan pasti berhenti-berhenti dulu,” ujar dia.

Mudik menggunakan sepeda motor tampaknya masih menjadi pilihan. Berdasarkan survei Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kementerian Perhubungan (Kemenhub), pergerakan mudik tahun ini diperkirakan mencapai 193,6 juta orang atau meningkat 56,4% dibanding 2023. Sebanyak 35,42 juta orang diprediksi menggunakan kendaraan pribadi untuk mudik Lebaran 2024, dengan 31,12 juta di antaranya menggunakan sepeda motor.

Padahal, mengendarai sepeda motor untuk mudik punya risiko besar. Tahun lalu, Korlantas Polri mencatat, kecelakaan sepeda motor saat perjalanan mudik mencapai 74%. Ketika menghadiri acara pelepasan pemudik peserta program mudik BUMN 2024 di Lapangan Monas, Jakarta, Menteri BUMN Erick Thohir bahkan mengungkapkan, sekitar 77% pemudik yang menggunakan sepeda motor mengalami kecelakaan tahun lalu.

Menanggapi tingginya potensi kecelakaan itu, pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansah mengatakan, seharusnya mudik dengan sepeda motor dilarang. Oleh karena itu, ada program mudik gratis.

“Itukan pemotor-pemotor sudah include di dalamnya, sehingga motornya akan diangkut juga oleh bus atau truk yang sudah disediakan,” ujar Trubus saat dihubungi, Jumat (5/4).

“Namun, tiket mudik (gratis) itu sangat terbatas kepada pemudik yang menggunakan angkutan gratis, kebanyakan wilayahnya hanya Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.”

Banyaknya pemudik yang menggunakan sepeda motor dari tahun ke tahun, menurut Trubus, lantaran kelemahan pemerintah dalam penegakan peraturan. Lalu, pemudik pun ingin efisien dan praktis.

“Yang rumahnya sangat jauh kalau pakai kendaraan umum hanya sampai tempat-tempat tertentu,” tutur dia.

“(Alasan lainnya) adalah murah dan efektif, jadi ongkos mudiknya lebih rendah.”

Tak bisa dibantah, pemilik sepeda motor memang melimpah. Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengatakan, sebesar 84,5% kendaraan di Indonesia adalah sepeda motor. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022, sepeda motor di Indonesia tercatat 125.305.332 unit.

“Di daerah sekarang sudah banyak sepeda motor. Rata-rata setiap rumah tangga memiliki lebih dari satu sepeda motor,” kata Djoko, Jumat (5/4).

Maka, ia berpendapat, perlu dipertimbangkan Lebaran tahun 2025 pemudik yang menggunakan sepeda motor ditiadakan. “Lebih baik diperbanyak bus gratis,” ucap Djoko.

Menurut Djoko, dalam survei potensi mudik Lebaran 2024 terungkap, pilihan angkutan umum, yakni kereta api dan bus, menempati urutan utama ketimbang menggunakan mobil pribadi dan sepeda motor. “Tinggal genjot program angkutan umum di daerah—angkutan perdesaan dan perkotaan—secara all out,” tutur dia.

Jika masyarakat masih ingin mudik mengendarai sepeda motor, Trubus mengatakan, sebaiknya dikeluarkan beberapa kebijakan. Misalnya, pemerintah menunjuk bengkel-bengkel berstandar tinggi di beberapa wilayah agar pemudik bisa memperbaiki sepeda motornya sebelum melakukan perjalanan. Idealnya, bengkel yang ditunjuk pemerintah itu pun gratis.

“Tapi pemerintah masih membiarkan para pemudik service sendiri-sendiri. Mampu enggak mampu ya service sendiri, yang artinya ini dampaknya membahayakan bagi pengguna motor untuk pulang mudik,” ujar Trubus.

“Pengecekan kendaraan saat Lebaran itu seharusnya sudah menjadi tanggungan pemerintah. (Perlu juga) adanya sertifikasi tanda mereka lolos dan layak jalan.”

Kemudian, lanjut Trubus, seharusnya ada jenis-jenis sepeda motor yang bisa dipakai saat mudik. “Kalau bisa cc-nya yang 250 atau lebih dari itu. Nah, itu seharusnya ada ketentuan-ketentuannya,” kata Trubus.

Pemerintah seharusnya mendata sepeda motor yang layak jalan. Ada kriteria tertentu. Sepeda motor yang sudah tua, pajaknya mati, atau bermasalah lainnya, kata dia, jangan sampai diberi izin.

“Memberikan sanksi putar balik atau denda kepada pelanggarnya,” ujar Trubus.

Di samping kondisi sepeda motor, Trubus mengingatkan kesehatan pengendaranya. Kata dia, pengendaranya juga perlu dicek kesehatan agar selamat sampai tujuan. “Menurut saya, cek kesehatan juga termasuk tanggung jawab pemerintah dan sifatnya gratis,” kata Trubus.

img
Fery Darmawan
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan