sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Aksi donasi Covid-19: Solidaritas berbalut komodifikasi

Beragam cara dilakukan untuk menggalang donasi bagi warga terdampak Covid-19, dari menjual barang hingga lelang.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Minggu, 31 Mei 2020 19:22 WIB
Aksi donasi Covid-19: Solidaritas berbalut komodifikasi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 59394
Dirawat 29740
Meninggal 2987
Sembuh 26667

Sejak pandemi SARS-CoV-2 penyebab Coronavirus disease 2019 (Covid-19) merebak, berbagai kegiatan dan cara penggalangan donasi digelar kelompok masyarakat untuk membantu warga lain yang terdampak Covid-19 dan tenaga medis. Pada akhir Maret hingga April 2020, beberapa publik figur pun menggelar lelang barang koleksi pribadi miliknya untuk tujuan donasi.

Aktris Dian Sastrowardoyo misalnya, melelang koleksi sepatu miliknya, seperti Nike Vandalised, Nike Air Force, Nike Air Huarache Run, Nike Air Huarache Ultra, Reebook Instapump Fury, Adidas Falcon Black Light, Adidas Falcon Crystal White, dan Adidas NMD City Sock, dengan nominal angka mulai Rp7 juta.

Hal itu juga dilakukan selebritas lainnya, seperti Raffi Ahmad, Armand Maulana, Maia Estianty, Olla Ramlan, Baim Wong, hingga Ariel Noah.

Mantan pemain sepak bola klub Persija, Bambang Pamungkas pun melelang sepatu, jersey, dan medali koleksinya. Begitu pula dengan pebulu tangkis Kevin Sanjaya Sukamuljo yang melelang jersey, sepatu, dan raket miliknya. Semua kegiatan lelang barang koleksi tersebut dilakukan melalui media sosial.

Solidaritas komunitas

Kegiatan menggalang donasi pun dilakukan beberapa komunitas. Misalnya, komunitas penggemar penyanyi campursari Didi Kempot, Sobat Ambyar Jakarta. Sejak 17 Mei 2020, mereka menerima pemesanan kaus, yang hasil penjualannya disalurkan untuk membantu anggota komunitas yang kesulitan ekonomi karena pandemi.

“Beberapa SAJ (Sobat Ambyar Jakarta) membutuhkan uang tunai. Bayar kontrakan, cicilan motor, listrik, itu butuh uang tunai,” kata pendiri Sobat Ambyar Jakarta, Deni Purwanto saat dihubungi reporter Alinea.id, Senin (25/5).

Satu kaus dengan tulisan Sobat Ambyar dan gambar sosok Didi Kempot itu dijual Rp120.000. Nominal keuntungan Rp50.000, sebut Deni, dikumpulkan untuk donasi kepada anggota Sobat Ambyar yang membutuhkan.

Sponsored

Hingga Kamis (28/5), sebanyak 80 kaus telah terpesan. Donasi yang terkumpul telah mencapai Rp4,23 juta. Ia mengatakan, umumnya anggota Sobat Ambyar yang mendaftar sebagai penerima donasi adalah perantau yang bekerja di Jakarta, tetapi tiga bulan belakangan tidak ada pemasukan.

“Setiap rekan kami yang butuh bantuan uang tunai, setidaknya mendapatkan bantuan Rp100.000-Rp200.000,” kata dia.

Koordinator Distribusi Posko Merah Putih Kasih Foundation JHL Group Marcelinus Enggala (kanan) menyerahkan bantuan kepada perwakilan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Hendra Eka (tengah) di Tangerang, Banten, Minggu (3/5/2020). Foto Antara/Fauzan.

Seluruh kegiatan donasi ini dilakukan melalui media sosial Instagram dan grup WhatsApp Sobat Ambyar. Selain penjualan kaus, Deni menuturkan, pihaknya juga membuka penampungan donasi bagi publik dengan sistem transfer bank.

Kegiatan serupa juga dilakukan pemilik usaha jersey asal Bandung, Jawa Barat, Bramantyo Sastrowiranoe dan Adhytio Lendra. Bramantyo merupakan pemilik Wayank Apparel, sedangkan Adhytio adalah pemilik Classiconesia. Mereka mendesain jersey berwarna hitam dengan lambang garuda putih dan masker kain bertuliskan “Football vs Covid-19”.

“Ide itu muncul dari keprihatinan kami untuk membantu rumah sakit dalam memperoleh pasokan alat pelindung diri (APD),” ujar Bramantyo ketika dihubungi, Senin (25/5).

Jersey dibanderol dengan harga variatif, mulai Rp199.000-Rp249.000. Sebagian hasil penjualan jersey disisihkan untuk membuat APD berupa hazmat dan pelindung sepatu. APD itu kemudian disumbangkan ke beberapa rumah sakit di Jawa Barat, seperti RSUP Hasan Sadikin Bandung, RS Sekarwangi Sukabumi, dan RSUD dr. Slamet Garut.

Bramantyo mengungkapkan, setiap pembeli jersey akan mendapatkan sertifikat. “Kami ingin memberi nilai lebih kepada pelanggan sebagai bukti telah memberikan donasi. Sertifikatnya dinamakan certificate of humanity,” katanya.

Ia mengatakan, pemberian sertifikat bertujuan agar para pendonasi bisa merasa berharga dan akan mengenangnya di masa depan.

Pentingnya pengawasan

Pengajar kajian media di Universitas Islam Indonesia (UII) Iwan Awaluddin Yusuf mengatakan, media sosial berperan penting sebagai kekuatan penyampai pesan solidaritas. Menurutnya, media sosial merupakan perangkat yang dekat dan sangat personal bagi penggunanya.

“Karena dekat itulah maka seseorang akan bisa segera terhubung dengan orang-orang lain. Hanya lewat segenggam gawai semua menjadi mudah, termasuk pada lelang koleksi milik artis,” kata Iwan saat dihubungi, Senin (4/5).

Akan tetapi, Iwan mengatakan, kegiatan donasi melalui media sosial lama-kelamaan akan mencapai titik jenuh. Jika sudah begitu, ia memperkirakan, akan muncul bentuk penggalangan dana yang baru.

Namun, Iwan melihat, kegiatan lelang maupun penjualan barang memudahkan masyarakat untuk menyumbangkan uangnya.

“Banyak orang mampu yang malu untuk menyumbangkan uangnya secara langsung. Maka supaya tidak terkesan boros, misalnya, dia berdonasi dengan ikut lelang,” ucapnya.

Iwan mengingatkan pentingnya audit terhadap hasil kegiatan donasi. Bagi pelaksana kegiatan amal, ia mengusulkan untuk mencantumkan pernyataan khusus, mencakup mekanisme dan tujuan donasi, cara penyaluran hasil donasi, dan siapa pihak penyelenggaranya.

Warga mengamati akun instagram kiper Persik Kediri Fajar Setya Jaya di Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (2/4/2020). Foto Antara/Prasetia Fauzani.

“Misal, dari tim yang menyelenggarakan donasi itu bisa membuat dokumentasinya. Foto dan video penyaluran bantuan ditayangkan lewat media sosialnya,” katanya.

Sementara itu, pakar bisnis dan pemasaran Yuswohady menuturkan, keberadaan selebritas atau tokoh publik bisa menjadi basis pengaruh, yang menggerakkan aksi orang-orang yang tergabung sebagai kelompok penggemarnya. Salah satunya aksi donasi.

“Semua donasi jadi berbasis massa, bisa dari basis kelompok penggemar sehingga lebih gampang meraup dana,” tuturnya saat dihubungi, Sabtu (30/5).

“Didi Kempot itu massa penggemarnya besar, jadi punya kekuatan menggerakkan. Sedangkan aktivitas komunitas memanfaatkan basis massa untuk membantu sesama anggota mereka.”

Terkait bencana pandemi Covid-19, ia menilai, karakter orang Indonesia yang ringan tangan membuat aktivitas filantropi akan terus berlangsung secara intens.

“Orang Indonesia ini emphatic society, kepeduliannya tinggi. Kegiatan donasi seperti itu akan jalan terus-menerus,” katanya.

Namun, ia memberikan catatan, penggalangan dana di masa pandemi mayoritas bersifat spontan, tetapi tak berbadan hukum. Oleh karenanya, pengawasan menjadi lemah dan rawan penyalahgunaan.

“Karena tak ada pengawasan, pengelolaan dana donasinya menjadi enggak benar. Tapi publik pun umumnya tidak mengerti. Kita hanya berharap pada mereka untuk dapat bertanggung jawab secara moral,” ujar Yuswohady.

Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Derajad Sulistyo Widhyharto juga menyinggung pelaksanaan donasi yang tidak diimbangi manajemen bantuan yang akuntabel dan kredibel. Aspek ini, kata dia, perlu lebih diperhatikan untuk menghindari penipuan yang dilakukan pihak-pihak tak bertanggung jawab yang ingin memanfaatkan situasi.

“Masih banyak di level masyarakat atau komunitas yang kurang profesional menggelar donasi. Ada saja oknum-oknum yang berdalih sebagai kegiatan pengumpulan donasi,” ucapnya saat dihubungi, Sabtu (30/5).

Humanisme yang tersamar

Derajad menilai, ada perubahan bentuk aksi solidaritas terkait Covid-19. Bila sebelumnya kegiatan pengumpulan dan penyaluran donasi diinisiasi tokoh publik atau pejabat, kini semakin banyak komunitas warga yang bergerak.

Namun, ia memandang, ada dampak positif dan negatif dari hal itu. Menurutnya, gerakan donasi yang dilakukan komunitas warga memungkinkan pemenuhan kebutuhan spesifik warga terdampak.

“Warga semakin peka dan memiliki kesadaran tinggi membantu sesamanya yang membutuhkan,” ucapnya.

Di sisi lain, Derajad melihat, gerakan donasi menimbulkan celah persoalan yang membuat jangkauan bantuan terbatasi untuk kepentingan sebagian kelompok tertentu. Sebab, pengumpulan donasi digerakan melalui sarana barang konsumsi, seperti kaus, jersey, sepatu, jaket, dan sebagainya.

“Jangkauan bantuannya jadi lebih mengecil di level komunitas saja. Bisa saja itu lalu dikloning menjadi sarana memenuhi kepentingan bagi komunitas itu sendiri atau sesama penggemar saja. Ini tentu bertentangan dengan solidaritas yang mestinya tanpa batasan,” kata Derajad.

Lebih jauh, Derajad menilai, konteks humanisme tersamarkan karena dalam aktivitas berdonasi “ditempel” unsur gaya hidup. Akibatnya, tujuan penyaluran donasi akan terfragmentasi hanya pada basis kelompok masyarakat dengan kesamaan kepentingan.

Infografik lelang barang untuk Covid-19. Alinea.id/Dwi Setiawan.

Hal ini, kata dia, menjadi corak komunitas warga di perkotaan, yang ditunjang akses informasi, komunal sesama penggemar, dan kepemilikan atas barang-barang kegemaran tertentu.

“Metode atau cara seperti lelang dan pembelian barang, membuat terjadinya komodifikasi atas maksud donasi,” katanya.

“Sayangnya, masyarakat di perkotaan menjadi tak mampu membedakan antara solidaritas sosial dan komodifikasi.”

Derajad membandingkannya dengan solidaritas mekanis, sederhana, dan tulus yang dilakukan warga perdesaan. Misalnya, ia menyebut tradisi sambatan—tolong-menolong antartetangga dengan menyumbangkan waktu dan tenaga, bukan dalam bentuk uang.

“Kalau di perkotaan solidaritasnya organik dan terjadi komodifikasi. Artinya, mereka mendonasikan bukan kepada manusia, tapi untuk membeli barang. Contohnya lelang. Lelang itu kan meminjam cara berdagang,” ujarnya.

Berita Lainnya