close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi pemeriksaan tekanan darah./Foto geraldoswald62/Pixabay.com
icon caption
Ilustrasi pemeriksaan tekanan darah./Foto geraldoswald62/Pixabay.com
Sosial dan Gaya Hidup
Senin, 06 Mei 2024 16:32

Aneurisma aorta, penyakit berbahaya yang nihil gejala

Aneurisma aorta adalah kondisi dinding pembuluh darah mengalami pelebaran abnormal.
swipe

Aorta—pembuluh darah terbesar yang membawa darah yang mengandung oksigen dari jantung ke seluruh tubuh—punya peran penting. Namun, keadaan aorta rentan terhadap gangguan yang dapat mengancam nyawa. Salah satu masalah yang perlu diwaspadai adalah aneurisma aorta, yakni kondisi dinding pembuluh darah mengalami pelebaran abnormal.

Aneurisma aorta sering disebut “bom waktu” yang bisa pecah kapan saja, menyebabkan perdarahan dalam tubuh yang dapat berujung kematian. Konsultan intervensi kardiovaskular di Heartology Cardiovascular Hospital, Jakarta, Suko Adiarto mengungkapkan, aneurisma aorta akan lebih mudah ditangani, bila terdeteksi sejak dini. Sayangnya, penyakit ini sering kali baru terdeteksi setelah penderita mengalami komplikasi. Nihilnya gejala dan sulitnya deteksi membuat penyakit ini lebih menakutkan.

“Kalau aortanya robek, buntu, pecah, tergantung lokasinya, mereka (pasien) bisa datang dengan keluhan ginjal, jantung, stroke, dan lain-lain,” ujar Suko kepada Alinea.id, Senin (6/5).

“Diagnosisnya enggak gampang. Kalau dia keluhannya melebar, mostly enggak ada keluhan. Karena dia melebar dan tidak mendesak organ tertentu.”

Aneurisma aorta sering terjadi di bagian perut dan dada, yang memiliki ukuran rongga lebih lebar dibanding organ lainnya. Karenanya, aneurisma aorta hanya akan terdeteksi ketika dinding aorta melemah, tidak lagi mampu menahan tekanan darah dan menekan organ lain.

“Kalau dia robek, angka kematiannya bukan bulan, bukan tahun. Kalau disleksi aorta, aortanya robek, dia pakai hari ngitungnya (kematian) kalau aortanya tidak ditangani,” ucap Suko.

Tak hanya itu. Saat diameter pelebaran aorta telah mencapai sekitar delapan sentimeter, hampir dapat dipastikan aorta akan pecah dalam waktu lima tahun.

“Kalau dia pecah, karena aorta adalah pembuluh darah paling besar, ya tumpah darahnya. Dalam hitungan detik, dia (pasien) enggak akan ketolong,” ujar dia.

Meski hampir tak punya gejala, Suko menyarankan agar masyarakat memperhatikan tanda-tanda, seperti nyeri dada atau punggung, serta sesak napas. Untuk mendeteksinya, bisa melakukan pemeriksaan rutin dengan ultrasonografi (USG), terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga rentan terhadap penyakit jantung, seperti sindrom marfan atau kelainan genetik pada jaringan ikat.

Orang yang punya penyakit hipertensi, menjalani operasi jantung, diabetes, perokok, hingga yang terbiasa melakukan aktivitas berat, lebih rentan mengalami aneurisma aorta.

“Penyakit-penyakit kronis seperti ini, kita enggak tahu pasti sebabnya apa. Kalau TBC (tuberkolosis) sudah pasti sebabnya. Tapi kalau hipertensi, diabetes, kanker, penyakit aorta, enggak ada sebab pasti, yang ada adalah faktor risiko,” ujar Suko.

Terpisah, spesialis bedah thorax dan kardiovaskular di Siloam Hospitals, Dicky Aligheri menjelaskan, aneurisma aorta bisa muncul karena dinding aorta melemah. Hal itu bisa terjadi karena bawaan lahir atau beberapa kondisi, seperti aterosklerosis—kondisi saat pembuluh arteri rusak atau tersumbat oleh plak kolesterol yang menempel di dinding pembuluh darah.

“Selain jadi penyebab utama aneurisma aorta, aterosklerosis juga sering kali menyebabkan serangan jantung,” kata Dicky beberapa waktu lalu.

Diabetes yang tak terkontrol pun dapat membuat kondisi aterosklerosis muncul lebih awal dan lebih parah, sehingga merusak pembuluh darah, membuatnya menjadi lemah, serta rentan diserang penyakit lainnya. Hipertensi juga bisa memberikan tekanan pada dinding aorta. Jika kondisi ini diabaikan dalam waktu lama, tekanan bisa memicu penggelembungan dinding pembuluh darah.

Sementara itu, pada orang yang memiliki penyakit keturunan, seperti sindrom marfan dan sindrom ehlers-danlos lebih rentan mengalami kelainan pada arteri besar, terutama aorta.

“Pada kondisi ini terdapat lapisan abnormal yang melemahkan struktur pendukung dinding pembuluh darah dan membuat lapisan medial (tengah) pada pembuluh darah memburuk,” tutur Dicky.

“Nekrosis medial kistik terkadang juga muncul akibat penyakit katup jantung atau saat hamil.”

Selanjutnya, kondisi inflamasi atau vaskulitis, seperti psoriasis atau rheumatoid arthritis (radang sendi) bisa memicu peradangan di dinding pembuluh darah. Jika tak ditangani, akan membuat dinding aorta menjadi lemah dan timbul pembengkakan.

“Cedera yang memengaruhi bagian dada atau perut, misalnya setelah kecelakaan kendaraan atau terjatuh dengan keras, dapat merusak bagian dari aorta, membuatnya melemah dan lebih mudah mengalami penggelembungan,” kata dia.

Dicky mengakui, hingga kini tak ada obat yang bisa mencegah aneurisma aorta. Meski begitu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga pembuluh darah tetap sehat dan kuat, antara lain dengan menjaga tekanan darah tetap normal, mengonsumsi makanan rendah lemak dan kolesterol, serta menghentikan kebiasaan merokok.

“Tes kesehatan berkala untuk selalu memantau kondisi kesehatan tubuh,” katanya.

img
Qonita Azzahra
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan