close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilusrtrasi menonton film horor. Alinea.id/Firgie Saputra
icon caption
Ilusrtrasi menonton film horor. Alinea.id/Firgie Saputra
Sosial dan Gaya Hidup
Sabtu, 11 Juni 2022 14:33

Di balik moncernya film horor era kiwari

Dalam beberapa tahun terakhir, film-film bergenre horor yang diproduksi lokal merajai box office di Indonesia.
swipe

Hanya sekitar 35 hari setelah tayang perdana di bioskop, film KKN di Desa Penari (2022) mencatatkan rekor dalam sejarah sinema Indonesia. Diproduseri Manoj Punjabi, film bergenre horor itu sukses meraup lebih dari 9 juta penonton dan masuk dalam jajaran film box office Indonesia.  

Oh look what we've done… only by his grace. (Oh, lihat apa yang kita lakukan…Hanya dengan karunia-Nya),” tulis sutradara KKN di Desa Penari, Awi Suryadi di akun Twitter terverivikasi miliknya, @awisuryadi, Sabtu (4/6).

Berbasis data milik Cinepoint, per Jumat (10/6), film garapan MD Pictures itu sudah ditonton 9.153.723 orang. Dengan raihan itu, KKN di Desa Penari kini menjadi film horor produksi lokal yang paling laku sepanjang masa. 

Jika "dirupiahkan", jumlah penonton sebesar itu setara dengan keuntungan kotor sekitar Rp300-400 miliar. Padahal, film itu tercatat diproduksi hanya dengan total biaya sekitar Rp15 miliar. 

"Bisa menang dari Doctor Strange 2. Film Indonesia bisa menang dari (film garapan) Marvel. Itu belum pernah (terjadi) dalam sejarah,” kata Manoj Punjabi mengomentari kesuksesan filmnya. 

Raihan KKN di Desa Penari tergolong fantastis. Jika dibandingkan, film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1, yang digulingkan dari takhta sebagai film terlaris, hanya mampu meraup 4.083.190 penonton. 

Namun, KKN di Desa Penari sebenarnya tak sendirian. Dalam beberapa tahun terakhir, film-film bergenre horor memang tergolong laris manis. Sebut saja Pengabdi Setan (2017) yang ditonton sebanyak 4.206.103 orang, Suzanna: Bernapas Dalam Kubur (2018) yang ditonton 3.346.185 orang, serta seri film Danur I, II, dan III yang selalu tembus hingga lebih dari 2 juta penonton.

“Sudah beberapa kali, ya, mendapatkan penonton di atas satu juta. Khususnya, setelah masa Reformasi. Genre horor selalu berhasil, walaupun tidak yang paling puncak. Sebelum 2008 itu, ada 10 film yang mendapatkan penonton di atas satu juta. Tetapi, hanya satu film horor, yaitu Tali Pocong Perawan,” ucap pemerhati film Hikmat Darmawan kepada Alinea.id di Jakarta, Kamis (9/6).

Khusus untuk KKN di Desa Penari, Hikmat melihat kesamaan dengan seri Danur yang ide ceritanya didapat dari buku yang ditulis Risa Saraswati. Kedua-duanya mengangkat pengalaman personal seseorang ke dalam sinema. Sebelum jadi film, kedua kisah itu sudah punya banyak penggemar. 

"Jadi, dia (ide film horor) mendasarkan diri pada produk lain, misalnya, novel, film lama, atau tweet yang viral. Artinya, ada alih wahana yang masing-masing wahana sudah punya based (penggemarnya)," 
ujar anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) itu. 

Meskipun tak seheboh sekarang, menurut Hikmat, film horor tak pernah sepi penggemar. Sebagai gambaran, ia mencontohkan kesuksesan film Pengabdi Setan (2017). Film itu mengambil judul serta alur cerita Pengabdi Setan yang tayang di bioskop pada 1980. Disutradarai Sisworo Gautama Putra, film itu tergolong sukses di pasaran. 

“Ke depan bagaimana? Sepertinya (cerita film) horor yang murni masih akan tetap asyik. Sampai mungkin tiga atau lima tahun ke depan masih ada. Tetapi, di bawah itu, akan ada banyak juga produk horor yang mix-genre,” ucap Hikmat.

Salah satu adedan dalam film KKN di Desa Penari yang tayang sejak Mei 2022. /Foto Instagram @kknmovie

Lintas kelas-lintas generasi

Tren lainnya terkait genre film horor disinggung pendiri Cinema Poetica, Adrian Jonathan Pasaribu. Berbeda dengan dulu, menurut Jonathan, film horor lokal kini juga kian diminati penonton dari kalangan kelas menengah dan atas. 

“Beda dengan sebelum-sebelumnya ketika film horor itu lebih sering diidentikkan dengan penonton kelas ekonomi bawah. Pengabdi Setan (2017), misalnya, begitu populer hingga (diminati) penonton dari kelas ekonomi atas,” ujar Jonathan saat dihubungi Alinea.id, Jumat (10/6).

Film-film bergenre horor, kata Jonathan, juga jadi penopang industri perfilman di Indonesia lantaran hampir selalu cuan alias menguntungkan. Jika tidak merajai box office, film-film jenis itu setidaknya jadi masuk ke jajaran blockbuster. Artinya, penghasilan dari penjualan tiket film melebihi biaya produksinya. 

Jumlah penonton Tali Pocong Perawan (2008), misalnya, tembus hingga 1.082.081 orang tatkala film bergenre drama dan percintaan seperti Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi tengah digandrungi masyarakat. Terowongan Casablanca (2007) dan Air Terjun Pengantin (2009) masuk jajaran film blockbuster saat film bergenre lain tengah berjaya.

“Ketika bisnis bioskop lagi seret pada 2011 karena embargo impor film, ada Arwah Goyang Karawang yang sempat memimpin jadi film Indonesia terlaris tahun itu dengan 720 ribuan penonton yang nantinya disalip oleh Surat Kecil untuk Tuhan,” ujar Jonathan.

Lebih jauh, Jonathan sepakat budaya menonton film horor juga lintas generasi. Itu terlihat dari kesuksesan film-film bergenre tersebut di masa lalu. Secara khusus, ia menyinggung kesuksesan film Tuyul (1979), Sundel Bolong (1981), Nyi Blorong (1982), Telaga Angker (1984) yang dibintangi aktris legendaris Suzanna. 

“Fakta bahwa Suzanna yang main dalam tiga film yang saya sebut barusan serta bisa jadi ikon lintas zaman-lintas generasi itu menandakan basis penonton film horor di Indonesia sedari dulu sudah cukup mapan,” ucap Jonathan.

Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SRMC), turut memotret kesukaan genre film penonton tanah air pada 2019. Dari hasil jejak pendapat yang melibatkan 1.220 responden yang tersebar di 103 kabupaten dan kota, genre horor menjadi jenis aliran film yang paling disukai setelah komedi.

Tercatat sebanyak 70,6% responden mengaku suka film bergenre komedi di survei tersebut. Film horor terpaut tipis dengan disukai 66,2% responden. Setelah dua genre itu, ada film percintaan (45,6%), laga (37,4%), sejarah (18,4%),  biografi (12.4%), misteri (12,2%), dan agama (8,9%). 

“Singkatnya, film horor di Indonesia selalu bisa diandalkan sebagai penopang box office. KKN di Desa Penari jelas jadi tanda prestasi yang istimewa, tapi kalau kita melihat ke film-film horor lain yang mungkin sebatas jadi filler layar bioskop di antara film-film impor, rata-rata jumlah penontonnya tergolong stabil,” ujar Jonathan.

Aktris Ayu Laksmi memerankan Mawardi Suwono, sosok Ibu dalam film Pengabdi Setan (2017). /Foto Instagram @pengabdisetan_official

Mengapa digemari?

Psikolog klinis Kasandra Putranto mengatakan ada alasan ilmiah yang menyebabkan orang gemar menonton film horor. Mengutip psikolog Glenn D. Walters, Kasandra menguraikan dua faktor utama yang membuat orang rela antre di bioskop untuk menonton film horor. 

Pertama, film horor menghadirkan rasa tegang karena memasukan unsur misteri, teror, dan syok. Kedua, alur cerita yang dihadirkan relevan dengan pengalaman audiens, semisal ketakutan akan kematian, terkait budaya lokal, atau menyinggung isu sosial di masyarakat.

“Selain itu, Margee Kerr mengatakan bahwa orang-orang menyukai film horor disebabkan fenomena yang dikenal sebagai transfer eksitasi. Setelah detak jantung yang dipercepat, napas yang berat, dan reaksi fisik lainnya terhadap rasa takut menghilang, audie merasakan kelegaan yang luar biasa sehingga perasaan positif mereka meningkat,” ujar Kasandra, saat dihubungi Alinea.id, Jumat (10/6).

Para penikmat film horor, kata Kasandra, sejatinya adalah pemburu adrenalin. Pasalnya, ketakutan saat menonton film horor laksana zat kimia yang bisa menimbulkan perasaan bergairah seperti dopamin, endorphin, serotonin, dan oksitosin.

“Bagi sebagian penonton, reaksi fisik seperti ini menyenangkan. Sekitar 10% dari populasi sangat menikmati adrenalin yang terkait dengan genre horor, seperti yang dikatakan Glenn Sparks, seorang profesor di Universitas Purdue,” ucap Kasandra.

Infografik Alinea.id/S. Utarid

Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Sunyoto Usman mengaitkan kegemaran orang menonton horor dengan budaya setempat. Menurut dia, film horor laku di Indonesia lantaran mayoritas masyarakatnya masih percaya takhayul dan klenik. 

“Nah, dugaan saya itu memang atau masih hidup dalam masyarakat. Jadi, penonton ini seperti mengonfirmasi apa yang mereka ketahui dan rasakan dalam masyarakat. Kan masyarakat kita masih percaya kepada hal-hal gaib, kelenik, atau horor,” ujar Sunyoto kepada Alinea.id, Kamis (9/6).

Selama budaya dan kepercayaan masyarakat Indonesia belum berubah, Sunyoto meyakini film horor tak akan pernah sepi penonton. “Ketika ada cerita horor, ada hal gaib yang terjadi di masyarakt. Loh, ada itu yang jadi referensi film, maka akan tetap ada film horor,” jelas dia. 


 

img
Achmad Al Fiqri
Reporter
img
Christian D Simbolon
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan