logo alinea.id logo alinea.id

Di tangan mahasiswa Brawijaya, biji salak jadi bahan kosmetik

Hasil penelitian Universitas Brawijaya itu kini sedang dipresentasikan di Thailand.

Tito Dirhantoro
Tito Dirhantoro Senin, 04 Feb 2019 11:48 WIB
Di tangan mahasiswa Brawijaya, biji salak jadi bahan kosmetik

Sebanyak lima mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Brawijaya Malang meneliti manfaat biji buah salak untuk bahan kosmetik. Dalam penelitiannya, biji salak ternyata bermanfaat sebagai anti-penuaan dini. Hasil penelitian itu, kini sedang dipresentasikannya di Thailand.

Kelima mahasiswa Universitas Brawijaya tersebut antara lain Daniel Matin AG, Putu Dewi Pradnya Paramitha, Dewinta Intan Rachmawati, Vicka Marcellia Indriawati, dan Eki Mayuka Trisnawati. 

Salah seorang anggota tim penelitian, Daniel Matin AG, mengungkapkan bahwa selama ini biji buah salak hanya dianggap limbah yang tidak berguna. Padahal, ada kandungan polifenol dalam biji salak yang memiliki khasiat sebagai antioksidan.

“Antioksidan diketahui bermanfaat untuk mencegah penuaan dini dengan cara menekan radikal bebas akibat sinar ultraviolet matahari dan mencegah penurunan kolagen," kata Daniel melalui pesan singkat dari Thailand pada Senin, (4/2).

Daniel mengatakan, penelitian yang dilakukan bersama timnya ini merupakan pengembangan dari penelitian-penelitian sebelumnya. 

Dia pun menjelaskan, proses pembuatan kosmetik dari biji salak diawali dengan pengumpulan bahan baku berupa biji salak. Setelah terkumpul, biji salak itu lalu dikeringkan dengan oven pada suhu tinggi untuk mengurangi kadar air, sehingga diperoleh serbuk biji salak yang lebih efektif ketika diekstraksi. Biji salak yang kering itu selanjutnya dihancurkan hingga menjadi serbuk kemudian dimaserasi.

Sebelum dimaserasi, kata Daniel, biji salak yang sudah dihancurkan terlebih dahulu dilakukan pemisahan ampas dan filtrat untuk didapat ekstrak cair biji salak. Ekstrak cair biji salak kemudian diolah lagi untuk mendapatkan ekstrak kental.

“Setelah menjadi ekstrak kental, kemudian bahan itu diolah lagi dan produk terakhir berebentuk serum berukuran nano,” kata mahasiswa asal Paiton, Probolinggo, Jawa Timur, ini.

Sponsored

"Alasan dibuat sediaan antiaging dalam bentuk serum dikarenakan serum memiliki basis air yang lebih sesuai dengan cairan di tubuh sehingga lebih mudah menembus ke dalam lapisan kulit.”

Sedangkan penghantar serum yang digunakan adalah transfersom yang memiliki karakteristik lebih fleksibel dalam menembus pori-pori kulit yang kecil, tanpa memecah transfersom hingga ke target.

Daniel menyebutkan, saat ini hasil penelitiannya itu sedang diikutkan lomba dan dalam prsoses presentasi di Thailand. Hasil dari penjuarian lomba itu akan diumumkan pada 6 Februari 2019. Karena itu, dia berharap ada dukungan dan doa dari seluruh masyarakat Indonesia.

Sementara Kasubag Kearsipan dan Humas Universitas Brawijaya, Kotok Gurito, mengapresiasi temuan para mahasiswa itu. Kotok berharap semoga temuan itu bisa diimplementasikan dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.

"Semoga temuan ini juga memberikan inspirasi bagi mahasiswa UB yang lain untuk giat melakukan penelitian dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat," kata Kotok. (Ant)