sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Djaduk Ferianto meninggal dan sosoknya di mata keluarga

Djaduk sempat mengikuti rapat hingga pukul 12 malam sebelum meninggal.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Rabu, 13 Nov 2019 10:10 WIB
Djaduk Ferianto meninggal dan sosoknya di mata keluarga
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 23165
Dirawat 15870
Meninggal 1418
Sembuh 5877

Seniman asal Yogyakarta Gregorius Djaduk Ferianto meninggal dunia pada Rabu (13/11) dini hari atau sekitar pukul 02.30 WIB. Djaduk meninggalkan seorang istri dan lima anak.

Keponakan Djaduk Ferianto, Giras Basuwondo,mengatakan penyebab kematian Djaduk karena penyakit serangan jantung. Djaduk mengembuskan napas terakhirnya di kediamannya di Dusun Kembaran RT 06, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Bantul, Yogyakarta.
 
Sebelum meninggal, Djaduk sempat mengikuti rapat persiapan Ngayogjazz 2019 pada Selasa malam (12/11) di rumahnya. Putra bungsu seniman kondang Bagong Kussudihardja dan adik dari Butet Kertaradjasa itu terlihat sehat hingga rapat selesai pukul 00.00 WIB.
 
“Pihak keluarga lantas memanggil dokter untuk memastikan kondisinya. Benar sudah meninggal,” kata Giras ketika dihubungi pada Rabu (13/11).
 
Selanjutnya, jenazah Djaduk akan disemayamkan di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Bantul. Misa arwah akan digelar pukul 14.00 di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Giras menambahkan, jenazah akan dimakamkan pukul 15.00 WIB di pemakaman keluarga di Desa Sambungan. Tak jauh dari Padepokan Seni Bagong Kussudiarja.
 
Giras yang juga aktor dan sutradara muda ini memandang Djaduk sebagai seorang yang sangat ceria dan sering bercanda. Putra Butet Kertaradjasa ini mengenal baik pamannya itu sebagai seniman kreatif dan serbabisa.
 
“Djaduk adalah orang yang sangat pandai membawa suasana yang penuh keriangan. Suasana yang awalnya sedih jadi bisa penuh kelucuan, dibikin bercanda sama Pak Djaduk,” ucapnya.

Bersama grup musik Kua Etnika dan Sinten Remen, Djaduk Ferianto mengolah unsur-unsur musik tradisional dan modern. Djaduk juga aktif sebagai anggota dan sutradara Teater Gandrik. Dia kerap menyutradarai pertunjukan teater, salah satunya lakon Gandrik Para Pensiunan: 2049 yang akan dipentaskan kembali di Surabaya, November ini.

Djaduk Ferianto yang lahir di Yogyakarta, 19 Juli 1964 juga menggarap karya ilustrasi musik untuk film. Lewat karya musiknya, Djaduk menyabet beberapa penghargaan seperti “Pemusik Kreatif 1996” dari Persatuan Wartawan Indonesia Yogyakarta dan Piala Vidia sebagai Penata Musik Terbaik dalam Festival Sinetron Indonesia 1995.

Sponsored
Berita Lainnya