sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Godzilla II: King of the Monsters, narasi buruk tertutup aksi seru

Narasi yang bertele-tele dan minim jawaban menjadi kelemahan film yang seru ini.

Fandy Hutari Manda Firmansyah
Fandy Hutari | Manda Firmansyah Sabtu, 01 Jun 2019 10:00 WIB
Godzilla II: King of the Monsters, narasi buruk tertutup aksi seru

Emma Russel (Vera Farminga) seorang ahli paleobiologi di perusahaan kripto zoologi Monarch terbangun dari tidurnya. Ia selalu terbayang kematian anak lelakinya, Andrew, saat terjadi pertarungan antara Godzilla melawan Muto pada 2014.

Emma memiliki keahlian mengendalikan dan berkomunikasi dengan para Titan—semacam monster raksasa—dengan alat ciptaannya yang dinamakan Orca. Ia memiliki anak berusia 12 tahun bernama Madison Russell (Millie Bobby Brown).

Saat “berkomunikasi” dengan Mothra, Titan larva di Yunan, China, Emma dan Madison diculik kelompok eko-teroris anarkis di bawah pimpinan Kolonel Alan Jonah (Charles Dance), mantan kolonel Angkatan Darat Inggris yang membelot.

Jonah tertarik dengan alat ciptaan Emma, Orca. Ia terobsesi membangkitkan para Titan yang bersemayam di beberapa lokasi di bumi, untuk meratakan peradaban umat manusia dan memulihkan tatanan alam yang sudah bobrok.

Mark Russell (Kyle Chandler) diajak kelompok Monarch untuk bekerja sama mencari Emma yang diculik kelompok Jonah. Monarch dan kelompok Jonah akhirnya bersua di Antartika, saat Emma membebaskan Titan terkuat yang disebut Monster Zero atau Ghidorah—berwujud naga raksasa berkepala tiga, bersayap kelelawar.

Pemikiran Emma dan Mark berseberangan. Emma percaya, para Titan dan manusia bisa hidup berdampingan. Sama seperti Jonah, ia memiliki cita-cita mengulang peradaban manusia. Sementara Mark, kukuh pada pendiriannya bahwa para Titan adalah sumber biang keladi musnahnya umat manusia dan malapetaka besar bila bangkit kembali.

Pemikiran Ishiro Serizawa (Ken Watanabe), seorang ilmuwan berpangkat tinggi di Monarch sebenarnya mirip dengan Emma. Serizawa pun percaya, di antara 17 Titans yang bersemayam di beberapa lokasi di bumi, ada yang berjasa sebagai penyeimbang ekosistem. Serizawa selalu terobsesi dengan Godzilla—yang disebutnya dengan aksen Jepang, Gojira.

Godzilla pun bangkit dari persemayamannya selama lima tahun terkungkung karena tahu ada ancaman dari Titans lainnya, terutama lepasnya Ghidorah. Para Titan yang sudah “dijinakkan” dan dikurung dalam sebuah sistem khusus di sejumlah negara oleh Monarch beberapa dilepas oleh Jonah, berkat bantuan Emma.

Sponsored

Madison dan Emma saat disandera kelompok Jonah. /Imdb.com.

Para Titan bertarung

Itulah gambaran besar film Godzilla II: King of the Monsters, sekuel Godzilla (2014). Film lanjutan kisah monster pemusnah massal ini digarap sutradara Michael Dougherty, menggantikan posisi Gareth Edwards. Godzilla II merupakan film ke-35 dalam waralaba Godzilla, yang diproduksi Legendary Pictures.

Godzilla II adalah panggung berkumpulnya beberapa Titan populer di film-film sebelumnya. Ghidorah, sosok monster naga kepala tiga, muncul pertama kali dalam film King Ghidorah (1964). Mothra, ngengat raksasa, muncul kali pertama dalam film Mothra (1961). Rodan, monster mirip burung phoenix raksasa muncul perdana dalam film Rodan (1956).

Sejatinya, film ini bercerita tentang konflik keluarga antara Emma dan Mark Russell, yang bercerai dan harus menjaga Madison. Awalnya, Emma berpihak kepada Jonah, sementara Mark menjadi bagian dari Monarch.

Penonton akan dibuat menahan napas sepanjang film, dengan suguhan pertarungan sengit antar-Titans. Rodan, yang muncul dari gunung api di Meksiko, awalnya terlibat pertarungan dengan Ghidorah. Kemudian, Godzilla muncul melawan Ghidorah.

Pertarungan di penghujung film pun tak kalah seru. Godzilla datang bertarung dengan Ghidorah. Lantas, Mothra bertarung melawan Rodan. Saling serang dengan kekuatan masing-masing di tengah porak-porandanya Kota Boston, menjadi tontonan yang seru.

Ghidorah adalah sosok Titan terkuat. Setelah mengalahkan Rodan, Ghidorah menjadi raja para Titan. Ghidorah bukan Titan dari bumi. Ia merupakan alien yang berasal dari meteor yang jatuh ke bumi.

Di akhir kisah, Godzilla memenangkan petarungan. Monster berwujud mirip kadal ini menelan habis Ghidorah. Godzilla pun keluar sebagai pemenang, dan dihormati para Titan sebagai raja baru.

Narasi berantakan

Pertarungan Ghidorah dan Godzilla. /Imdb.com.

Bila sekadar mencari keseruan dan hiburan, film ini bisa menjadi pilihan. Teknik computer-generated imagery (CGI) atau pencitraan komputernya tergolong mumpuni.

Sayangnya, segala keseruan itu tak dibarengi dengan narasi yang baik. Plot bertele-tele. Motif Ghidorah, Godzilla, Mothra, dan Rodan tak jelas diceritakan. Selain berebut kekuasaan antar-Titan, pertarungan mereka tak dijabarkan tujuan yang dimengerti.

Ada satu Titan yang tiba-tiba muncul usai Godzilla mengalahkan Ghidorah, yakni makhluk raksasa seperti mammoth, gajah purba. Tak dijelaskan aksi makhluk ini menghancurkan satu kota di sebuah negara. Sekonyong-konyong ia datang dan tunduk kepada Godzilla. Sosok makhluk ini hanya digambarkan dari layar berita di televisi, saat ia mengamuk menghancurkan sebuah kota.

Film ini mengkritik kondisi bumi yang rusak akibat perang, polusi, dan pembangunan yang tanpa mempedulikan keseimbangan ekosistem. Akan tetapi, narasi keseimbangan ekosistem pun tak menemui jawaban yang jelas.

Tak diungkap pula militer masing-masing negara berusaha menumpas para Titan yang bangkit. Padahal, disebutkan bila ada 17 Titan di sejumlah negara, seperti Sudan, Meksiko, China, dan Jerman. Film ini hanya mempercayakan kekuatan militer Amerika Serikat dan kelompok Monarch.

Kelompok Monarch yang digambarkan adidaya dan puluhan tahun meneliti Titans pun lepas dari sorotan standar. Mengapa mereka tak bisa mengatasi amuk para Titan, dan tak adakah formula jitu untuk mengatasi hal itu?

Selain itu, Jonah tak diceritakan lagi setelah Emma dan Madison meninggalkan kelompoknya. Yang paling terlihat, pertanyaan soal, ada perjanjian apa antara Jonah dan Emma, sehingga mantan istri Mark itu begitu mempercayai sang penjahat.

Perdebatan monster-monster raksasa ini pun belum tuntas, dimusnahkan atau dipelihara demi menjaga keseimbangan alam. Namun, yang pasti ada keharuan di akhir film. Keluarga Russell yang terpisah akhirnya bersatu, walau Emma tewas karena aksi konyolnya yang mencoba menghentikan pertarungan antar-Titan.

Sekali lagi, film hanya untuk hiburan film ini patut ditonton. Meski situs ulasan film Rotten Tomatoes memberikan skor 42% untuk salah satu film dengan biaya termahal, US$160 juta.

starstarstarstarstar3

Pertarungan seru para monster raksasa, namun tak dibarengi narasi yang baik.