Gaya Hidup / Telisik

Hikayat obat kuat, penyelamat lelaki lemah syahwat

Obat kuat menjadi solusi singkat para lelaki yang ingin tangguh di ranjang. Sejarahnya panjang, merentang zaman.

 Hikayat obat kuat, penyelamat lelaki lemah syahwat Poster iklan obat kuat pabrik Poa Tjong Kwan. /Koleksi Hans Pols dan Chris Woodrich

Perkasa di atas ranjang dalam berhubungan intim merupakan dambaan lelaki sejak dahulu. Harga diri seorang lelaki seakan runtuh bila dituding loyo oleh lawan jenisnya. Maka, obat kuat merupakan solusi untuk tahan lama saat bercinta.

Kios-kios kecil menjual obat kuat banyak ditemui di pinggir jalan sejumlah titik di Jakarta. Kios-kios ini menjual obat kuat beragam merek, seperti Viagra, Levitra, hingga Foredi.

Riwayat obat perkasa lelaki sudah ada sejak zaman baheula. Ramuan tradisional, seperti jamu menjadi andalan para bangsawan sejak dahulu. Menurut Rosihan Anwar dalam buku Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia edisi 1, utusan Kerajaan Sriwijaya pernah mengirim utusannya ke Tiongkok semasa Dinasti Sung (960-1279). Utusan tersebut, tulis Rosihan, membawa barang dagangan ke Tiongkok, di antaranya cula badak yang berkhasiat sebagai obat kuat.

Obat kuat Jepang

Kemungkinan obat kuat dengan sistem pabrik, berbentuk jamu dalam kemasan atau pil mulai diproduksi pada awal 1900-an. Mayoritas diracik orang-orang Tionghoa. Menurut peneliti dari University of Sydney Hans Pols, banyak produsen jamu di Hindia Belanda merupakan orang Tionghoa.

Salah satunya pabrik jamu Poa Tjong Kwan di Wonogiri, Jawa Timur. Produk pabrik jamu ini, antara lain obat kuat untuk lelaki dan perempuan. Dalam poster iklan obat kuat koleksi Hans, terdapat logo ayam jago untuk produk obat kuat lelaki, dan ayam betina untuk obat kuat perempuan.

Selain obat kuat buatan orang-orang Tionghoa, muncul pula obat kuat produksi Jepang. Menurut sejarawan dari Universitas Hasanuddin, Makassar Meta Sekar Puji Astuti, salah satu toko yang menjual obat kuat Jepang adalah toko Ogawa. Toko ini buka sejak 1900-an di Semarang. Mereka memiliki distributor R. Ogawa and Co, yang tersebar di sejumlah kota, seperti di Semarang dan Solo.

Dalam katalog Moestika yang diterbitkan Firma R. Ogawa & Co Solo (1933), terdapat produk obat kuat merek Pil Gagah. “Perloenja melinken boeat orang lelaki, soepaja djangan tanggoeng-tanggoeng gagahnja bila bertanding…” tulis bahasa iklan dalam katalog tersebut. Di bagian daftar isi katalog tertulis pula “obat plesiran di sorga doenia.”

“Asumsiku, mereka (toko Ogawa) jualan obat yang berhubungan dengan seksual sudah sejak lama. Tapi Jepang mengiklankannya tidak dengan vulgar. Khas Jepang. Penuh simbolisasi,” kata Meta kepada Alinea, Selasa (9/11).

Lebih lanjut, penulis buku Apakah Mereka Mata-mata; Orang-orang Jepang di Indonesia (1868-1942) ini mengatakan, obat kuat Jepang tak mungkin bisa menyaingi obat kuat Tiongkok. Namun, penggemarnya banyak.

“Menurut saya, banyak priyayi mengkonsumsi obat Jepang. Kalangan menengah,” katanya.

Namun, Meta belum pernah meneliti berapa banyak orang dari kalangan menengah itu yang mengkonsumsi obat kuat Jepang. Begitu pula masalah harga. Ada dugaan, harga obat kuat Jepang ini lebih mahal ketimbang obat kuat produksi orang Tionghoa. Hal ini bisa jadi mempengaruhi daya beli kelas menengah dan bawah. Kemungkinan besar, obat kuat buatan orang Tionghoa pun lebih populer daripada obat kuat Jepang.

Obat kuat pernah membuat celaka orang pribumi di Surabaya. Soerabaijasch handelsblad edisi 8 Desember 1930 melaporkan, pada 7 Desember datang dua orang India-Inggris di Pasar Pacar Keling, Surabaya, menawarkan beraneka obat, termasuk obat kuat, untuk dijual. Lantas, tiga orang pribumi tergiur membeli obat kuat itu. Kemudian, mereka keracunan dan harus dilarikan ke rumah sakit. Obat itupun disita, dan diperiksa seorang dokter bernama Dr. Muller.

Iklan obat kuat

Pada 1954, menurut Alex A. Rachim dalam buku Pornografi dalam Pers Indonesia; Sebuah Orientasi, beredar banyak iklan obat kuat di media massa, yang mencuri perhatian pembaca. Namun, iklan yang dianggap cabul, dilarang dipublikasi media massa. Alex memberikan contoh sebuah iklan obat kuat di harian Penerangan edisi 26 Oktober 1956, tentang iklan Thabib Hakeen Mohd.

Aneka merek obat kuat terpampang di halaman majalah 1950-an. Meski begitu, obat kuat ini tak hanya bisa mengatasi lemah syahwat saja, tapi juga mengobati beragam penyakit. Misalnya, dalam majalah Minggu Pagi tahun 1955, terdapat iklan obat merek Viranol. “Radja dari semua obat kuat” ini, selain mampu menyembuhkan lemah syahwat, juga bisa mengatasi sakit pinggang, jantung, lemah badan, dan menambah darah. Lengkap.

Di dalam majalah Gembira edisi 15 Januari 1955, terdapat iklan obat kuat merek Potensol, salah satu jenis obat yang dikeluarkan pabrik obat Sexanol. Obat ini dibuat khusus, “Untuk laki-laki jang kurang puas dan lekas habis tenaga.”

Wartawan dan budayawan Alwi Shahab dalam bukunya, Maria van Engels; Menantu Habib Kwitang, menulis bahwa judul-judul iklan dan reklame di kios-kios obat kuat pada dekade 1960-an hingga 1970-an memang “menyeramkan”. Alwi mencontohkan sebuah reklame pedagang obat kuat, seorang tabib dari Pakistan, di kiosnya di Sawah Besar, Jakarta.

“Nafsu besar tenaga kurang, seperti bubuk makan rayap. Reklame ini ingin menawarkan keperkasaan bagi pria yang dikatakannya lemah syahwat,” tulis Alwi dalam bukunya itu.

Seiring perkembangan teknologi, obat kuat kini banyak dijual di berbagai situs penjualan daring. Konsumen tak perlu lagi malu-malu atau bisik-bisik bertanya, karena tak mesti ketahuan orang sekitar. Namun, hati-hati mengonsumsinya. Kalau perlu minta nasihat terlebih dahulu kepada dokter. Jangan sampai, mau dapat kenikmatan malah terkena serangan jantung dan meninggal di atas ranjang.


Berita Terkait