sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kandidat vaksin Covid Johnson & Johnson akan diuji ke manusia

Uji coba Fase 1/2a akan mengevaluasi keamanan pada lebih dari 1.000 orang dewasa sehat berusia 18 hingga 55 tahun.

Hermansah
Hermansah Jumat, 31 Jul 2020 18:46 WIB
Kandidat vaksin Covid Johnson & Johnson akan diuji ke manusia
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 135123
Dirawat 39290
Meninggal 6021
Sembuh 89618

Johnson & Johnson (NYSE:JNJ) mengumumkan, kandidat vaksin utamanya diyakini dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19 pada manusia.

Data yang dipublikasikan di Nature, menunjukkan vaksin berbasis vektor adenovirus serotype 26 (Ad26) yang diteliti perusahaan, berhasil menimbulkan respons kekebalan yang kuat. Hal itu seperti ditunjukkan oleh "antibodi penetral" (neutralizing antibodies) yang berhasil mencegah infeksi berikutnya dan memberikan perlindungan lengkap atau hampir lengkap pada paru-paru dari virus pada primata nonmanusia (NHP) dalam studi praklinis.

Berdasarkan kekuatan data tersebut, Fase 1/2a yang merupakan uji klinis pertama dalam manusia dari kandidat vaksin, Ad26.COV2.S, mulai dilakukan pada sukarelawan yang sehat di Amerika Serikat dan Belgia.

"Kami sangat senang melihat data–data studi praklinis tersebut. Data ini menunjukkan bahwa kandidat vaksin SARS-CoV-2 kami memberikan perlindungan lengkap atau hampir lengkap dengan dosis tunggal. Temuan ini memberi kami kepercayaan diri dalam mengembangkan vaksin dan meningkatkan kapasitas produksi secara paralel, setelah memulai uji coba Fase 1/2a pada Juli dengan niat untuk beralih ke uji coba Fase 3 pada September," papar Vice Chairman of the Executive Committee and Chief Scientific Officer Johnson & Johnson, Paul Stoffels dalam keterangan tertulisnya, Kamis (30/6).

Program uji klinis Janssen Covid-19 yang kuat tersebut, termasuk uji klinis Fase 1/2a dan program uji klinis Fase 3. Pada fase ini akan mengevaluasi rejimen satu dan dua dosis Ad26.COV2.S dalam studi paralel. Uji coba Fase 1/2a akan mengevaluasi keamanan, reaktogenisitas (reaksi yang diharapkan terhadap vaksinasi, seperti pembengkakan atau nyeri), dan imunogenisitas Ad26.COV2.S pada lebih dari 1.000 orang dewasa sehat berusia 18 hingga 55 tahun, serta orang dewasa berusia 65 tahun ke atas. Perencanaan juga sedang berlangsung untuk studi Fase 2a di Belanda, Spanyol dan Jerman dan studi Fase 1 di Jepang. 

Perusahaan juga sedang merencanakan program pengembangan klinis Covid-19 Fase 3. Sejumlah diskusi juga sedang berlangsung dengan sejumlah mitra dengan tujuan untuk memulai uji klinis penting Fase 3 dari dosis vaksin tunggal versus plasebo pada September, sembari menunggu data sementara dari uji coba Fase 1 dan 2 dan persetujuan regulator.

Direktur Center for Viroloy and Vaccine Research di BIDMC dan the Ragon Institute, Dan Barouch, menyatakan, data praklinis yang dihasilkan dalam kolaborasi dengan tim Johnson & Johnson, menyoroti potensi dari kandidat vaksin SARS-Cov-2 ini. Selain itu, data menunjukkan bahwa tingkat antibodi dapat berfungsi sebagai biomarker untuk perlindungan yang dimediasi vaksin.

Dalam studi tersebut, para peneliti pertama-tama mengimunisasi NHP dengan panel prototipe vaksin, dan kemudian mengetesnya dengan infeksi SARS-CoV-2. Para ilmuwan menemukan, dari tujuh prototipe vaksin yang diuji dalam penelitian ini, Ad26.COV2.S (disebut dalam artikel Nature sebagai Ad26-S.PP), menghasilkan tingkat antibodi penetralisasi tertinggi untuk SARS-CoV-2.

Sponsored
Berita Lainnya