sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kekerasan seksual berbasis gender, Hollaback: Laki-laki tidak imun

Laki-laki bahkan lebih banyak mendapatkan konten-konten seksual tanpa persetujuan dibandingkan perempuan.

Silvia Ng
Silvia Ng Rabu, 15 Sep 2021 20:52 WIB
Kekerasan seksual berbasis gender, Hollaback: Laki-laki tidak imun

Kekerasan berbasis gender adalah kekerasan yang ditujukan kepada seseorang karena ekspektasi atau tuntutan yang dilekatkan berdasarkan identitas atau peran gender yang diharapkan masyarakat.

Co-Founder Hollaback Jakarta, Anindya Nastiti Restuviani, mengatakan, kekerasan berbasis gender identik ditujukan kepada perempuan. Ini dikarenakan nyaris di seluruh dunia masih melihat perempuan sebagai gender yang lebih rendah.

“Jadi enggak selamanya kekerasan berbasis gender itu hanya terjadi pada perempuan, tapi memang karena situasi yang masih banyak melihat perempuan itu dibilang sebagai gender yang lebih rendah. Maka mau tidak mau, terjadilah fenomena di mana kerentanan perempuan untuk mendapatkan kekerasan berbasis gender itu lebih tinggi,” katanya dalam webinar, Rabu (15/9).

Anindya melanjutkan, banyak orang beranggapan suatu perilaku nonfisik tidak dapat dianggap sebagai pelecehan seksual. Padahal, pelecehan seksual tidak hanya sesuatu yang terlihat bentuk lukanya, tetapi meliputi tindakan dan perilaku yang pada akhirnya menyebabkan rasa sakit, tidak aman, dan ketaknyamanan.

“Kalau kita bicara soal kekerasan seksual, mau tidak mau memang akhirnya berhubungan dengan gender seseorang, dengan seksualitas seseorang, dan tentunya perilaku-perilaku tersebut dikategorikan sebagai tindakan yang tidak diinginkan,” jelasnya.

Dirinya menerangkan, tujuan pelecehan seksual tidak melulu berhubungan dengan seksualitas. Artinya, ada tujuan lain, seperti ingin menunjukkan kuasa yang lebih banyak dari korban.

Anindya lantas mencontohkannya dengan kasus pelecehan seksual di Komisi Informasi Pusat (KPI), Menurutnya, kasus tersebut merupakan perundungan yang akhirnya bergeser kepada kekerasan seksual yang tujuannya bukan melepaskan hasrat seksualnya, melainkan menunjukkan siapa yang lebih berkuasa.

Masyarakat, lanjutnya, sering kali menormalisasi berbagai candaan yang sebetulnya dikategorikan sebagai pelecehan seksual. Candaan seperti itu merupakan candaan seksis, yang bentuknya merendahkan perilaku seksual seseorang.

Sponsored

Data menunjukkan, laki-laki tidak imun terhadap kekerasan berbasis gender di dunia digital bahkan lebih banyak mendapatkan konten-konten seksual, seperti audio, surel, stiker, dan meme tanpa persetujuan jika dibandingkan dengan perempuan.

"Mungkin karena banyak sekali laki-laki yang masih menormalisasikan bercandaan-bercandaan dalam bentuk seksual seperti ini,” pungkasnya.

Berita Lainnya