sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kopi rasa alkohol, strategi bertahan bisnis kedai kopi

Mencicip kopi dengan citra rasa beralkohol tidak lantas membuat mabuk. Sebaliknya memberikan rasa semangat peminumnya.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Senin, 29 Jul 2019 07:00 WIB
Kopi rasa alkohol, strategi bertahan bisnis kedai kopi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 76981
Dirawat 36636
Meninggal 3656
Sembuh 36689

Campuran rum

Seiring waktu, Yan mengungkapkan pertumbuhan pesat bisnis kedai kopi harus disiasati oleh pelaku bisnis kopi. Cara Yan adalah dengan mengembangkan strategi pemasaran dan produksi menu pilihan dan khas di kedai kopinya. Ada beberapa menu minuman kopi unggulan yang dia tawarkan. Dua di antaranya adalah Kopi Anti Peluru dan El Capitano.

Menurut Yan, sebagai barista dia secara ajek mencipta menu-menu kopi kreasi baru. Selain menjadi bagian dari kesenangannya dalam menciptakan kekhasan kafenya dari kedai kopi lain, mencipta menu adalah filosofi dasar bagi seorang barista.

“Barista itu bukan pelayan. Dia membuat sesuatu, berkreasi dan membuat menu. Kalau cuma kerja di kedai dan bikin kopi itu namanya cuma tukang seduh,” ucap Yan.

Penamaan menu unggulan Kararopi, kata Yan, diadaptasi dari menu kopi luar. Kopi Anti Peluru, misalnya, terinspirasi dari Bulletproof Coffee di negara-negara Eropa. Selain kopi robusta, Kopi Anti Peluru juga memiliki tambahan mentega cair, santan, dan gula aren. 

Dalam sejarahnya, Bulletproof coffee itu diciptakan, untuk anak2 pesepeda Fixie.

“Jadi sebelum mereka sepedaan, minum itu supaya ada energi lebih buat mereka gowes,” ucapnya.

Bagi peminumnya, kata Yan, Kopi Anti Peluru memberikan tambahan energi. Dengan rasa dan komposisi bahan serupa Bulletproof Coffee, menu ini cocok untuk konsumen yang membutuhkan tambahan tenaga.

Sponsored

Adapun El Capitano yang menjadi menu favorit dan paling diminati pelanggan Kararopi mengandung jamaican rum dengan kadar alkohol yang cukup tinggi. Dalam segelas kopi El Capitano 250 ml, terdapat kandungan kopi robusta, coklat cair, jamaican rum, susu kental manis, sedikit krimer, dan sedikit gula pasir. El Capitano juga tersaji dalam kondisi dingin beserta tambahan es batu di dalamnya.

Yan mengakui jamaican rum yang dipakainya memiliki kandungan alkohol yang sedikit lebih tinggi dibandingkan rum perisa biasa.

Kalau rum perisa itu kadar alkoholnya tidak setinggi jamaican rum. Meski demikian, setelah diolah menjadi minuman El Capitano, jamaican rum tak memabukkan peminumnya. 

“Pelanggan menilai rasa El Capitano ini unik, tapi nggak bikin mabuk. Efeknya cuma euforia sesaat, setelah minum jadi lebih semangat pas ngobrol,” katanya.

Sambil berbincang dengan Yan, Alinea.id sempat mencoba segelas El Capitano. Setelah tiga teguk, kurang dari setengah jam badan terasa menghangat.

Selain berbasis pengetahuan, pengalaman, serta kepekaan rasa dan selera, Yan mengatakan dia kerap mencoba-coba membuat menu dengan beragam komposisi. Sebelumnya, dia membaca buku atau melihat contoh cara membuat menu kreasi lewat video-video di Youtube.

“Kalau lu belum ciptain menu kreasi, lu belum sah jadi barista,” tutur dia.

Sebelum berlaku seperti sekarang, El Capitano menggunakan campuran minuman Tequila dan dengan gula aren. Dengan alkohol yang tinggi dan harga yang lebih mahal, Yan beralasan menggantinya dengan jamaican rum. 

“Kalau pakai Tequila itu bahaya, minum dua gelas bisa mabuk. Mahal juga, belinya sulit,” ujarnya.

Cukup merogoh kocek Rp30 ribu, pelanggan sudah dapat menikmati segelas El Capitano. Pengembangan kopi kreasi dengan penamaan menu yang unik, kata Yan, merupakan bagian dari strategi menarik minat konsumen.

“Ketika nama menu unik, ada filosofi di baliknya, ada sesuatu hal yang menarik orang dan menimbulkan komunikasi dengan pengunjung,” tuturnya.

Lalu, mengapa dinamai El Capitano? Yan mengatakan El Capitano bisa menimbulkan perasaan sedikit mabuk, terutama bagi orang tertentu yang cukup sensitif dengan minuman beralkohol.

“Kalau sudah mulai mabuk, biasanya kita bilang, ‘Kapal oleng, Kapten’,” kata Yan mengungkapkan.

Yan kemudian tertawa, mengingat ungkapan itu cukup populer di kalangan masyarakat. Dengan menyentil keingintahuan calon pelanggan lewat menu dan penamaan menu kopi-kopi kreasi yang unik, Yan optimis kedainya mampu menggaet konsumen tetap.

“Ketika sudah tercipta komunikasi, ketika orang (pengunjung) sudah nyaman, ada kemungkinan mereka akan balik lagi,” katanya.

 

Bersambung
 

Berita Lainnya