close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Kepala BKKBN Hasto Wardoyo di Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Baitunnajah, Desa Kalirejo, Sabtu (27/1/2023). Foto istimewa
icon caption
Kepala BKKBN Hasto Wardoyo di Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Baitunnajah, Desa Kalirejo, Sabtu (27/1/2023). Foto istimewa
Sosial dan Gaya Hidup
Minggu, 28 Januari 2024 22:38

Lahir dengan berat badan rendah, waspadai penyakit jantung dan diabetes

Yang harus digaris bawahi, penyakit yang ada ketika sudah tua awalnya adalah berat badan lahir rendah.
swipe

Selama sepuluh tahun terakhir, persentase penduduk lansia (lanjut usia) di Indonesia meningkat dari 7,57%  pada 2012 dan menjadi 10,48% pada 2022. 

Angka tersebut, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022, diproyeksi terus mengalami peningkatan hingga mencapai 19,9% pada 2045. 

Selanjutnya, terdapat delapan provinsi yang telah memasuki struktur penduduk menua, yaitu persentase penduduk lanjut usia yang lebih besar dari 10%. Kedelapan provinsi tersebut paling tinggi adalah DIY sebesar 16,69%.

"Kita kebanjiran usia tua. Kalau yang menopang yang muda itu stunting, waduh berat sekali. Oleh karenanya, jangan sampai muncul generasi stunting. Generasi harus berkualitas supaya besok bisa mengurus orang tua-orang tua yang sehat," papar Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, saat BKKBN bersama Pemerintah Desa Kalirejo dan Pemerintah Kabupaten Kulonprogo, menyelenggarakan Kegiatan Sosialisasi dan KIE Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) dan Program Percepatan Penurunan Stunting (PPS) bagi Mitra di wilayah Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), bertempat di Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Baitunnajah, Desa Kalirejo, Sabtu (27/1).

Menurut dokter Hasto, sapaan akrabnya, penduduk lansia di DIY paling banyak. Karena apa? Karena kita tidak bisa mencegah banyaknya lansia. Apalagi harapan hidup manusia saat ini lebih panjang. Tetapi mencegah bayi lahir bisa dilakukan. 

"Kita bisa pakai alat atau obat kontrasepsi atau berKB untuk mencegah bayi lahir. Tetapi kalau mencegah banyaknya lansia itu tidak mungkin. Kita pasti akan mengusahakan lansia panjang umur," terang dokter Hasto.

Dokter Hasto juga menyebut jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang juga banyak di DIY. "Sekarang ini dari 1000 orang dewasa yang ketawa sendiri, ngomong sendiri, ODGJ empat orang. Banyak itu," sebut dokter Hasto.

Dokter Hasto pun menyatakan tekad BKKBN dalam membangun SDM. "Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Itu yang bagus. BKKBN tidak hanya meningkatkan kualitas keluarga, tetapi juga harus meningkatkan kualitas badannya, dan juga jiwanya," tambahnya.

Dokter Hasto juga mengungkap istilah 'megalomania'. Sebuah karakter yang merasa diri paling hebat, tidak mau dikalahkan. "Itu ternyata termasuk gangguan jiwa ringan," kata dokter Hasto.

Melihat kondisi yang berkembang, dokter Hasto menandaskan bahwa BKKBN dan berbagai elemen, termasuk masyarakat, hendaknya menjaga betul tidak hanya anak tidak stunting, tetapi juga anak-anak agar sehat jiwanya untuk Indonesia yang makmur dan sejahtera, untuk mencapai Indonesia Emas di 2045.

Risiko penyakit

Sementara Tenaga ahli BKKBN Riyo Kristian Utomo,  menyampaikan terkait salah satu dampak dan kerugian stunting pada anak, yakni sering sakit-sakitan dan berdampak jangka panjang. 

"Ya, stunting itu akan berdampak jangka panjang. Salah satunya risiko penyakit jantung, penyakit kolesterol, dan lain-lain," sebut Riyo.

Berdasarkan studi ilmiah diketahui, orang yang punya penyakit jantung, gagal jantung, serangan jantung, diabetes, kolesterol dan lainnya ternyata saat lahir memiliki berat badan sangat rendah.

 "Yang harus digaris bawahi, penyakit yang ada ketika sudah tua awalnya adalah berat badan lahir rendah," tambah dokter Riyo.

Pada kesempatan yang sama hadir Kepala Dinas PMD Dalduk dan KB, Kulonprogo, Ariadi, yang  menyampaikan agar Tim Pendamping Keluarga (TPK) dapat mendampingi keluarga dengan ibu hamil atau keluarga yang menyusui, sampai dengan keluarga yang memiliki anak umur di bawah dua tahun. 

Ia juga mengedukasi para remaja tentang kesehatan reproduksi, persiapan pernikahan, dan persiapan untuk memiliki anak.

Hadir juga sebagai narasumber Ketua DPRD Kulonprogo Akhid Nuryati, yang mengajak kepada seluruh undangan, apabila tidak ingin anaknya stunting, agar para ayah bisa mengurangi rokok dan cegah stunting dengan mengkonsumsi protein hewani.

img
Hermansah
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan