logo alinea.id logo alinea.id

Manifestasi Ilahi dalam karya Baron Basuning

Sang ilahi digambarkan sebagai sesuatu yang nir-rupa atau abstrak. Ia eksis secara konsep, tapi tak berwujud.

Nanda Aria Putra Minggu, 03 Feb 2019 19:48 WIB
Manifestasi Ilahi dalam karya Baron Basuning

Memasuki ruang pameran gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, kita akan melihat jejeran lukisan abstrak yang terdisplay rapi. Komposisi warna acak dalam bentang medium kanvas yang lebar, ditindih cat akrilik yang ditembak lampu sorot, membiaskan cahaya terang saat mata menatapnya.  

Adalah karya Baron Basuning, seniman kelahiran Sumatra Selatan, 1961, dalam rangka memperingati 20 tahunnya berkarya untuk dunia seni rupa Indonesia. 

“Noor” menjadi tajuk pameran tunggalnya kali ini. Noor atau nur dalam bahasa Arab, yang berarti cahaya dipilih sebagai tema pameran, lahir dari refleksi hidup Basuning dalam perjalanan-pengembaraannya ke berbagai belahan dunia. Perjumpaannya dengan benda-benda yang memiliki nilai historis dalam kebudayaan Islam membawanya pada pikiran yang kontemplatif. 

Nur dalam khasanah pemikiran Islam adalah sesuatu yang melekat dan memiliki nilai-nilai ilahiah; sumber segala cahaya. Sang ilahi digambarkan sebagai sesuatu yang nir-rupa atau abstrak. Ia eksis secara konsep, tapi tak berwujud, ke-”ada”-annya termanifestasikan dari konsep-konsep yang hadir melalui pengalaman spiritual, bukan fisik. Dari sini lah tema Noor hadir. 

Pameran ini dibuka oleh musisi dan budayawan Erros Djarot, dan berlangsung dari 8 Januari-8 Februari 2019. Dalam catatan pengantar pameran 20 tahun Baron Basuning berkarya, ia menyebut pameran ini adalah sebagai bentuk nostalgia Basuning dengan menelusuri jejak-jejak karyanya, setelah 20 tahun, dalam dunia seni rupa tanah air. 

Dalam catatannya Erros menjelaskan ia adalah orang yang mendorong Basuning untuk berani tampil di hadapan publik dengan karya-karya yang dimilikinya. Memfasilitasi Baron Basuning untuk menggelar pameran tunggalnya di kantor di mana Erros bekerja, sebelum akhirnya Basuning memiliki tempat dalam gelanggang seni rupa nasional.

Karya Basuning terlihat ramai dengan berbagai pilihan warna yang lembut namun tetap kontras. Degradasi antar warna tidak terlalu kentara. Sapuan kuas pada kanvas terlihat lembut dan menyiratkan kehati-hatian. Tampaknya Basuning bukan tipe pelukis abstrak ekspresif semacam Pollock atau Affandi. 

Namun, karya-karya Basuning tetap memikat, pilihan warnanya memanjakan mata saya yang melihat. Satu karyanya yang paling menarik minat saya adalah Fairytale of New York. Posisinya persis terletak di sisi kanan ketika kita memasuki ruang pamer. Satu lukisan yang langsung mencuri fokus saya ketika memasuki ruangan itu.

Sponsored

Pengunjung menikmati pameran lukisan Noor. (Alinea.id/Nanda Aria)

Lukisan abstrak ini didominasi oleh cat akrilik berwarna ungu yang berpadu dengan warna hitam, kuning, coklat, biru, dan beberapa campuran warna lainnya. Segumpal cat, di tiga sisi kanvas, paduan warna kuning dan putih dibiarkan meleleh ke bawah mengikuti gaya gravitasi. Lelehan cat ini menjadi mencolok ketika ditembak oleh lampu sorot di ruang pameran, menimbulkan kesan aliran sungai bawah air yang bercahaya di antara terumbu karang.

Pengalaman serupa juga dapat kita lihat di karya Basuning lainnya, yaitu sebuah karya mix media berbahan akrilik di atas kaca. Pada karya ini kita dapat merasakan sisi yang lebih ekspresif dari karya Basuning, dibandingkan dengan yang lainnya. Dengan dominasi cat warna kuning dan putih, goresan dalam karya ini lebih kasar, lelehan cat bertebaran di mana-mana, sapuan kuas juga tak selembut pada karya lainnya. Kita dapat merasakan emosi dari melihat bentuk garis yang dimunculkan pada karya yang diberi judul Ego ini.

Sebelum menekuni dunia seni rupa, Baron Basuning adalah seorang jurnalis dan aktivis. Dari dunia jurnalistik ini Basuning berkesempatan untuk berkeliling ke berbagai tempat-tempat bersejarah di dunia. Dalam catatan kuratorial Eddy Soetriono, keterpukauan Baron Basuning terhadap benda-benda peninggalan kebudayaan islam masa lampau seperti Nasrid Palace di Spanyol, Masjid Nasir Al Mulk di Iran, atau Taj Mahal di India membuat ia berfikir tentang berbagai bentuk seni rupa dalam dunia islam.

Pendaran cahaya yang terpantul pada tiap sisi-sisi bangunan yang ia datangi, mencipta bentuk cahaya yang beraneka ragam. Kaligrafi, arabesque, dan geometri, dalam dekorasi bangunan itu tertutupi hanya dengan marmer yang terpantul cahaya pagi dan membentuk gugusan warna yang menarik. Dari sini kemudian, menurut catatan Eddy, Baron Basuning berfikir bahwa dalam dunia seni rupa islam tak melulu hanya seputar kaligarafi, geometri, dan arabesque, tapi juga abstrak.

Lewat pengalaman ini Baron Basuning memulai eksperimen bentuk dengan gaya abstrak yang hadir di ruang pameran, seperti yang dapat kita lihat di Galeri Nasional Indonesia hari ini. 

Cinta bersemi dari aplikasi

Cinta bersemi dari aplikasi

Jumat, 15 Feb 2019 12:59 WIB